Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Al-Ushulu Ats-Tsalasah > Halaqah 33 | Landasan Kedua Ma’rifatu Dīnil Islam Bil Adillah: Dalil Rukun Islam Syahadat Muhammadan Rasūlullāh (02)

Halaqah 33 | Landasan Kedua Ma’rifatu Dīnil Islam Bil Adillah: Dalil Rukun Islam Syahadat Muhammadan Rasūlullāh (02)

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-Tsalasah

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-33 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al-Ushūlu AtsTsalātsah wa Adillatuhā (3 Landasan utama dan dalīl-dalīlnya) yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At Tamimi rahimahullāh

Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla menyebutkan tentang sifat yang dimiliki oleh Rasūlullāh di dalam QS. At-Tawbah:128.

عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ

“Berat terasa oleh beliau penderitaan yang kalian alami”

• Sifat Pertama | Berat terasa oleh beliau penderitaan yang kalian alami.

Menjadikan beliau berat, menjadikan beliau sedih, apa yang berat bagi kalian adalah sifat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Beliau bukan ingin memberatkan manusia dengan perintah-perintah-nya.

Apa yang Rasūlullāh sampaikan adalah dari Allāh, beliau tidak ingin memberatkan manusia dengan larangan-larang tersebut. Selama bisa meringankan beliau ringankan (beliau meminta keringanan kepada Allāh)

Kalau beliau mengetahui perkara tersebut ada maslahatnya atau didalamnya ada mudharat bagi manusia, maka beliau akan memerintah atau melarang sebagaimana amanah dari Allāh Azza wa Jalla. Dan disitu ada kasih sayang yang hakiki.

Dinamakan sayang yang sebenarnya, apabila seseorang berkeinginan untuk menyampaikan maslahat kepada orang lain meskipun orang itu menganggap ini berat dan mudharat.

Ketika suatu perkara didalamnya ada maslahat maka beliau sampaikan. Kalau mereka melaksanakan perintah tersebut maka mereka akan mendapatkan kebahagiaan. Ini adalah hakikat dari kasih sayang.

Jika beliau tahu di dalam suatu perkara ada mudharat maka beliau melarang manusia untuk melakukan perbuatan tersebut karena khawatir mereka terkena mudharat.

Yang dimaksud dengan kasih sayang yang sebenarnya bukan berarti menuruti setiap pemauan orang yang kita sayangi meskipun didalamnya ada mudharat.

Ketika kita kecil dan belum sempurna akal kita terkadang kita minta sesuatu yang justru memberikan mudharat bagi kita baik berupa makanan, minuman, mainan dan lainnya.

Tapi tidak semua permintaan kita diberikan oleh orang tua kita, karena orang tua kita melihat apa yang menjadi maslahat bagi kita dan apakah sesuatu yang kita minta itu memberikan mudharat atau tidak. Itulah kasih sayang yang sebenarnya.

Bukan dengan senantiasa mengabulkan setiap apa yang diminta oleh yang disayangi.

Sifat, “Berat terasa oleh beliau penderitaan yang kalian alami”, harus dimiliki juga oleh seorang da’i ketika dia berkecimpung di dalam dakwah.

Kemudian diantara sifat beliau adalah :

• Sifat Kedua | Semangat untuk memberikan hidayah kepada orang lain.

حَرِيصٌ عَلَيْكُم

“Beliau sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagi kalian”

Beliau memiliki sifat حَرِيصٌ semangat untuk memberikan hidayah.

Beliau memiliki semangat yang tinggi, beliau ingin bagaimana menjadi sebab manusia mendapatkan hidayah, beliau melakukan apa yang beliau mampu agar manusia mudah memahami.

Beliau mengajarkan manusia dengan contoh (praktek langsung) dengan harapan ketika mereka melihat contoh atau praktek tersebut mereka langsung paham apa yang dimaksud oleh beliau shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Seperti:

√ Bagaimana tata cara berwudhu.
√ Bagaimana cara shalāt.

Terkadang beliau menggunakan metode bertanya terlebih dahulu.

Seperti :

أتدرون ما الغِيبة؟

Apakah itu ghibah?

أتَدرونَ ما المُفلِسُ

Apakah orang yang muflis itu?

Beliau bertanya dengan tujuan untuk menggerakkan dan menghidupkan konsentrasi mereka sehingga ketika mereka sudah siap beliau memberikan jawaban. Sehingga diharapkan jawaban tadi membekas lama di dalam hati mereka. Ini adalah bagian dari حَرِيصٌ.

Termasuk diantaranya do’a, terkadang beliau mendo’akan para sahabat secara individu, dan ini adalah juga bagian dari حَرِيصٌ.

Jika seseorang mendapatkan hidayah, orang tersebut akan bahagia di dunia dan akhirat dan orang yang menjadi sebab orang itu mendapat hidayah juga akan mendapatkan pahala. Disamping manfaatnya untuk orang lain, kita juga akan mendapatkan manfaatnya.

Sebagaimana sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam :

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا

“Barangsiapa mengajak kepada kebaikan kepada petunjuk, maka dia mendapatkan pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.”

(Hadīts shahīh riwayat Muslim no. 2674; Abū Dāwūd, no. 4611; At-Tirmidzī no. 2674)

Ini diantara sebab seseorang semangat untuk berdakwah, dia ingin agar orang lain mendapatkan hidayah melalui sebab dakwahnya, karena dakwah adalah salah satu pintu diantara pintu-pintu atau jalan untuk mendapatkan pahala yang terus mengalir selama ilmu tersebut diamalkan

Sebagaimana disebutkan di dalam hadīts :

إِذَا مَاتَ ابنُ آدم انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أو عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika anak Ādam meninggal maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak Shālih yang mendoakannya.”

Diantaranya disebutkan عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ (ilmu yang diambil manfaatnya)

Kita ingin seperti para ulama, walau mereka sudah meninggal ratusan tahun yang lalu akan tetapi sampai sekarang ilmu mereka terus dipelajari oleh manusia dan bermanfaat.

Seakan-akan mereka masih hidup ditengah-tengah kita.

الذكر الجميل

Penyebutan yang indah bagi mereka

سمعه الطيبه

Dan ilmu yang bermanfaat yang terus kita rasakan.

Dan ini-lah kehidupan yang sebenarnya walau jasad mereka berada di dalam tanah, namun nama mereka masih terus disebut-sebut oleh manusia dan pahala mereka terus mengalir.

Inilah diantara sebab diantara sebab para da’i dan para ulama terus bersemangat untuk menyampaikan dakwah sampai mereka tua sekalipun, dan ini yang dilakukan oleh para masyaik, mereka tidak pernah kendor untuk mengajar kecuali mereka sudah tidak bisa duduk atau tidak bisa untuk berangkat.

Sebagai contoh :

⑴ Syaikh Abdul Muhsin Al-Abad.

Beliau jarang sekali ghaib ketika mengajar di masjid Nabawi. Beliau mengajar dari hari Sabtu sampai hari Kamis dari setelah Maghrib sampai Isya. Beliau libur hanya 1 hari dalam sepekan yaitu ketika hari Jum’at.

⑵ Syaikh Abū Bakar Al-Jazairi.

Beliau mengajar di masjid Nabawi kurang lebih selama 40 tahun.

Jangan sampai orang yang sudah diberikan kenikmatan besar, diberikan ilmu oleh Allāh kemudian dia sia-siakan. Hendaklah dia manfaatkan ilmu tersebut, dia terus bersemangat untuk menyampaikan dan mengajarkan ilmu tersebut kepada orang lain

• Sifat Ketiga | Rasūlullāh adalah orang yang rauf (orang yang lembut)

رَءُوفٌۭ رَّحِيمٌۭ

“Rasūlullāh adalah orang yang penyayang kepada orang-orang beriman”

Semangat untuk berdakwah kepada orang lain harus diiringi juga dengan sifat lemah-lembut dan kasih sayang.

Bukan semangat yang tidak dikontrol !

Misalnya :

√ Karena ingin keluarganya mendapat hidayah.
√ Karena ingin orang tuanya mendapat hidayah.

Kemudian dia sekedar menyampaikan tanpa berdasarkan lemah-lembut.

Adapun beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam, maka terkumpul di dalam diri beliau sifat lemah lembut.

√ Beliau adalah seorang Rasūl, beliau seorang da’i, di dalam hatinya ada perasaan yang bersih berat bagi beliau apa yang berat bagi mad’u-nya dan beliau tidak ingin memberatkan manusia.

√ Beliau semangat dalam menyampaikan ilmu kepada orang lain.

√ Beliau menyampaikan ilmu ini dengan ushluq dan metode lemah lembut dan penuh dengan kasih sayang.

Jika sifat ini terkumpul pada diri seseorang, maka in syā Allāh dia akan menjadi seorang da’i yang muwafaq yang mubarak yang diberkahi oleh Allāh Azza wa Jalla.

Untuk memiliki sifat ini perlu ijtihād, perlu membersihkan diri, perlu berlatih, perlu muhasabah dan perlu merenung.

Ketika berdakwah seseorang harus merenung apa niat dakwah dia?

√ Apa tujuan dia berbicara ketika berdakwah?

√ Apa tujuan dia ketika menyampaikan khutbah?

Maka dengan berlatih dan terus muhasabah diharapkan dia bisa meraih derajat yang tinggi disisi Allāh. Sehingga dia bisa menjadi seorang da’i yang memiliki sifat-sifat seperti yang dimiliki atau mendekati apa yang dimiliki oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Mungkin itu yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini.

Wallāhu Ta’āla A’lam

وبالله التوفيق والهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top