Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Al-Ushulu Ats-Tsalasah > Halaqah 31 | Landasan Kedua Ma’rifatu Dīnil Islam Bil Adillah: Tafsir Syahadat Lāilāha Illallāh

Halaqah 31 | Landasan Kedua Ma’rifatu Dīnil Islam Bil Adillah: Tafsir Syahadat Lāilāha Illallāh

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-Tsalasah

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-31 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al-Ushūlu Ats-Tsālatsah wa Adillatuhā (3 Landasan utama dan dalil-dalilnya) yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At Tamimi rahimahullāh

Kemudian beliau mendatangkan firman Allāh Azza wa Jalla, yang menjelaskan tentang makna kalimat لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ.

Beliau rahimahullāh mengatakan:

وتفسيرها الذي يوضحها

Dan tafsir (penjelasan) dari kalimat لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ – yang menjelaskan tentang kalimat لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ adalah firman Allāh Ta’āla (QS. Az-Zukhruf 26-27)

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاء مِّمَّا تَعْبُدُونَ ۞ إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ ۞

Dan ketika Ibrāhīm berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah kecuali yang telah menciptakan aku….”

⇒ Ini adalah menafsirkan ayat dengan ayat.

Karena kalimat لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ – yang pertama dikandung di dalam firman Allāh QS. Āli-Imrān :18 – شَهِدَ اللّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ – ternyata makna ini juga ditafsirkan (dijelaskan) oleh ayat yang lain.

⇒ Berarti ini termasuk menafsirkan ayat dengan ayat.

Ucapan beliau : إِنَّنِي بَرَاء مِّمَّا تَعْبُدُونَ – disini ada nāfi’ sebagaimana Allāh menāfī’kan di ayat yang pertama nāfīyyan. Maka disini Ibrāhīm juga menāfī’kan جميع ما يعبد مِن دُونِ ٱللَّه.

إِنَّنِي بَرَاء مِّمَّا تَعْبُدُونَ

“Aku berlepas diri, aku menāfī’kan, aku tidak percaya, aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah” (ini menāfī’kan sebagaimana Allāh juga menāfī’kan).

إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي

“Kecuali Dzat yang telah menciptakan aku”

إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي

Berarti ini apa? Itsbat (menetapkan) sebagaimana Allāh menetapkan di dalam kalimat إلا هو إلا الله – maka Ibrāhīm juga menetapkan.

Ibrāhīm mengatakan إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي – disebutkan فَطَرَنِي – ini syarat bahwasanya tauhīd Rububiyyah melazimkan tauhīd Uluhiyyah.

Yang aku sembah, yang aku tidak berlepas diri adalah yang menciptakan aku, itulah yang berhak aku sembah. Berarti yang berhak untuk disembah adalah Dzat yang telah menciptakan.

Sehingga beliau (rahimahullāh) kembali menyinggung tentang,

لا شكر له في العبدته كما أنه لا شرك في الملكه

Mengingatkan tentang hubungan tauhīd Rububiyyah dengan tauhīd Uluhiyyah, karena disinipun dalīl yang akan beliau sampaikan menyinggung kembali tentang hubungan antara tauhīd Uluhiyyah dengan tauhīd Rububiyyah.

⇒ Ini adalah tafsir dari kalimat لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ yang diucapkan oleh Ibrāhīm (khalilullāh).

Bagaimana dengan Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam ?

Kemudian beliau rahimahullāh mengatakan (QS. Āli-Imrān :64) :

قوله : قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ

Katakan wahai Muhammad, bagaimana beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam mendakwahkan kalimat لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ ini, kepada sebagian manusia yang mereka adalah Ahlul Kitāb.

Inilah yang beliau dakwahkan:

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ

Katakanlah wahai Ahlul Kitāb yaitu orang-orang Nashara Najran :

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ

Kemarilah kalian, mari kita bersepakat kepada sebuah kalimat yang sama antara kami (orang Islām) dan kalian (Ahlul Kitāb)

Apa kalimat yang sama itu?

أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ

Supaya kita tidak menyembah KECUALI hanya menyembah Allāh saja (didalam pernyataan ini ada nāfi’ dan Itsbat) لَّا نَعْبُدَ adalah nāfīyyun dan إِلَّا اللَّهَ adalah Itsbat.

Ingin menjelaskan adanya nāfi’ dan juga Itsbat di dalam dakwahnya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

√ Dakwahnya nabi Ibrāhīm mengandung nāfi’ dan juga Itsbat.

√ Dakwah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam di dalam kalimat yang beliau sampaikan juga ada kalimat yang mengandung makna nāfi’ dan juga Itsbat.

وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا

Dan kita tidak menyekutukan Allāh dengan sesuatu apapun. Berarti disini menekankan kembali keharusan untuk mengingkari (Tidak boleh kita menyekutukan Allāh dengan sesuatu apapun).

Ada yang mengartikan وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا – maksudnya adalah mengingatkan mereka supaya kita tidak menyekutukan Allāh dengan siapapun.

Kalau di dalam kalimat لا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّه (umum) beliau ingin mengingatkan bahwasanya baik kami orang Islām maupun kalian Ahlul Kitāb jangan kita menyekutukan Allāh dengan siapapun.

Kami tidak menyekutukan Allāh dengan Nabi Muhammad dan kalian jangan menyekutukan Allāh dengan Nabi Isa. Mari sepakat hanya menyembah Allāh saja.

وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا

Kami pun orang Islām tidak menyembah Muhammad dan kalian (Ahlul Kitāb) jangan pula menyembah nabi Isa (jangan kita menyekutukan Allāh, cukup Allāh saja). Ini berkaitan dengan nabi-nya.

Kemudian beliau juga ingin mengajak mereka, karena kesyirikan orang-orang Ahlul Kitāb yang pertama adalah mereka menyekutukan Allāh dengan nabi Isa, maka beliau mengatakan وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا.

Kemudian:

وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ

Jangan sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai sesembahan selain Allāh. Karena orang-orang Nashrani, mereka menjadikan pendeta mereka sebagai sesembahan selain Allāh.

ٱتَّخَذُوٓا۟ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَـٰنَهُمْ أَرْبَابًۭا مِّن دُونِ ٱللَّهِ

“Mereka menjadikan orang-orang ahli ibadah, orang-orang yang pintar, orang-orang yang ahli ilmu diantara mereka sebagai sesembahan selain Allāh” (QS. At-Tawbah:31)

Bagaimana mereka menjadikan pendeta atau ahli ibadah diantara mereka sebagai sesembahan?

Pendeta mereka menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allāh, kemudian mereka (para pengikutnya) ikut menghalalkan. Dan mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allāh, kemudian mereka (para pengikutnya) ikut mengharamkan.

Itulah ibadah mereka yaitu mengikuti apa yang dikatakan oleh pendeta mereka dalam perkara halal dan juga haram, padahal itu bertentangan dengan hukum Allāh.

Maka beliau rahimahullāh, didalam ucapan beliau :

وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا

Jangan sampai sesama kita (bukan nabi) pengikut mereka menjadikan pendeta mereka sesembahan selain Allāh.

Kami tidak akan menjadikan ulama kami sebagai sesembahan selain Allāh kalian juga demikian jangan kalian menjadikan ulama sebagai أَرْبَابًۭا مِّن دُونِ ٱللَّهِ (sesembahan selain Allāh) Cukup Allāh saja!

Maka diperinci yang demikian, dan intinya adalah pada kalimat لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ – intinya disana ada nāfīyyun dan juga Itsbat.

وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًۭا مِّن دُونِ ٱللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَقُولُوا۟ ٱشْهَدُوا۟ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Apabila mereka tidak mau menerima (mereka berpaling) tidak mau menerima tawaran ini, maka katakanlah kalau mereka tetap ingin menyembah Isa, tetap menjadikan pendeta mereka sebagai Tuhan selain Allāh (maksudnya) adalah mengikuti halal dan juga haramnya mereka padahal itu bertentangan dengan syariat Allāh.

فَقُولُوا۟ ٱشْهَدُوا۟ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Maka katakanlah, ucapkanlah kepada mereka, saksikanlah oleh kalian kalau memang kalian tidak mau menerima kalimat ini bahwasanya kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri kepada Allāh.

Kami sudah pasrah kepada Allāh tidak mau mengikuti ajaran nenek moyang kami atau ajaran kalian, yang disitu ada penyembahan kepada selain Allāh.

Demikian yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini dan sampai ketemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وبالله التوفيق والهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top