Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Al-Ushulu Ats-Tsalasah > Halaqah 28 | Tingkatan Dalam Agama Islam Dan Dalil Rukun Islam

Halaqah 28 | Tingkatan Dalam Agama Islam Dan Dalil Rukun Islam

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-Tsalasah

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-28 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al Ushūlu AtsTsalātsah wa Adillatuhā (3 Landasan utama dan dalīl-dalīlnya) yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At Tamimi rahimahullāh.

Kemudian beliau mengatakan :

وهو ثلاث مراتب: الإسلام، والإيمان، والإحسان، وكل مرتبة لها أركان

Dan Dīnul Islām yang khusus yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam ada 3 tingkatan.

⑴ Islām (الإسلام)
⑵ Imān (الإيمان)
⑶ Ihsān (الإحسان)

√ ISLĀM adalah amalan-amalan dhāhir.
√ IMĀN amalan-amalan bathin.
√ IHSĀN adalah puncak dari Imān dan Islām.

Orang yang pertama kali masuk kedalam agama Islām kemudian dia bersyahadat, secara dhāhir dia melakukan amalan-amalan Islām, tapi jika keimanannya belum sampai kedalam hatinya hanya sekedar الإستسلم بعمل الظاهر (keimanan tersebut belum sampai kedalam relung hatinya) maka tingkatannya masih Islām.

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا

Orang-orang Arab (Badui) mereka mengatakan آمَنَّا padahal mereka baru masuk Islām. Tingkat kwalitas keislāmannya masih dasar, tapi mereka mengatakan آمَنَّا (Kami beriman).

قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا

Kalian belum beriman (maksudnya) adalah keimanan itu belum benar-benar masuk kedalam hati kalian, tapi dhāhir kalian sudah إستسل (sudah bersyahadat, shalāt).

وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا

Akan tetapi ucapkanlah yang lebih tepat adalah أَسْلَمْنَا (Kami menyerahkan diri)

وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ

Dan belum masuk keimanan ini kedalam hati-hati kalian (maksudnya) adalah keimanan yang sempurna. Adapun iman yang merupakan dasar dan juga pondasi seperti beriman kepada Allāh, beriman kepada rasūl, beriman kepada hari akhir telah mereka miliki.

Mereka sudah memiliki kadar minimal di dalam hati mereka yaitu rukun Imān yang enam, dan kadar minimal ini harus dimiliki oleh seorang muslim

Misalnya :

√ Meyakini bahwasanya Allāh yang memiliki rububiyyah, Dia-lah Allāh yang menciptakan.

√ Meyakini bahwasanya Allāh-lah, satu-satunya Dzat yang berhak untuk disembah.

√ Meyakini bahwasanya Allāh ada.

√ Meyakini bahwasanya Allāh memiliki nama dan juga sifat.

Bukan berarti mereka melakukan shalāt, kemudian mereka tidak ada rukun Imān dalam hatinya. Tidak!

Rukun Imān yang enam yang menjadi pondasi seorang muslim ada di dalam hati mereka, hanya saya kadarnya baru kadar minimal.

Kadar yang lebih dari kadar minimal belum mereka miliki karena belum masuk kedalam hati mereka.

وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ

Kalau kadar minimal sudah membaik, kemudian sedikit demi sedikit ada tambahan di dalam diri mereka, barulah mereka naik tingkatannya menjadi seorang mukmin.

Berarti setiap mukmin adalah muslim karena dia telah melewati tingkatan Islām. Karena amalan dhāhir terus dia jaga dan keimanan terus dia pupuk sehingga bertambah keiman di dalam hatinya.

Seseorang harus terus menjaga amalan dhāhir sehingga dia mendapatkan predikat Islām dan predikat Imān, berarti dia menjadi seorang Muslim sekaligus Mukmin.

Tapi tidak semua muslim menyerahkan diri dengan dhāhirnya,

Seseorang dinamakan orang yang beriman karena dalam hatinya dia memiliki (sekedar)
kadar minimal keimanan dan belum masuk kadar iman yang menjadi kadar tambahan.

كل مؤمن مسلم وليس كل مسلم مؤمناً

Kalau dia terus istiqāmah di dalam melakukan amalan dhāhir bukan amalan yang bathin, terus belajar dan belajar.

Kemudian mengenal tentang muraqabatullāh (mengenal lebih dalam tentang Allāh) sehingga amalan-amalan dhāhir dan bathin tadi dikerjakan dengan baik karena dia merasa diawasi oleh Allāh.

Semakin baik tawakalnya, semakin baik mahabbahnya semakin baik raja dan khaufnya sehingga

mencapai puncak kebaikan, maka dia akan berpindah kepada tingkatan yang terakhir (tingkatan yang paling tinggi) yaitu Ihsān.

Menunjukkan bahwasanya setiap orang yang muhsin pasti dia muslim dan pasti dia mukmin TAPI tidak setiap orang yang muslim muhsin, tidak setiap orang yang beriman muhsin.

كل محسن مؤمن و ليس كل مؤمن محسنا

Kemudian beliau mengatakan:

وكل مرتبة لها أركان

“Dan masing-masing dari tingkatan ini memiliki rukun-rukun”

Yang dimaksud dengan rukun adalah الجزء الأقوى من شئ (bagian yang paling kuat dari sesuatu).

Misalnya :

Rukun Islām ada 5, jadi bagian yang paling kuat dari rukun Islām ini jumlahnya ada 5.

Rukun Imān ada 6, jadi bagian yang paling kuat dari rukun Imān ini jumlahnya ada 6

Rukun Ihsān ada 1 (satu)

Jadi masing-masing dari tingkatan ini memiliki أركان dan dia adalah juz yang paling kuat. Kalau sampai أركان ini tidak ada, maka batal keislāman, keimānannya atau Ihsānnya karena أركان ini harus ada didalam setiap martabat tadi.

Kemudian beliau mengatakan:

فأركان الإسلام خمسة:

Arkānul Islām (rukun Islām) jumlahnya ada lima sebagaimana sabda Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam dari hadīts Ibnu Umar radhiyallāhu ‘anhu.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda :

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ الْبَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islām dibangun di atas lima perkara,

Ucapan beliau dibangun diatas lima perkara menunjukkan bahwasanya perkara ini adalah perkara yang paling penting di dalam Islām.

Sehingga Islām yang didalamnya banyak perkara, bisa tegak bisa terbangun menjadi sebuah bangunan di atas lima perkara ini.

Lima perkara ini adalah perkara yang paling penting di dalam agama Islām tanpa-nya maka seseorang bisa batal keislāmannya.

Islām dibangun di atas lima perkara; Syahadat ‘Lā ilāha illallāh dan (syahadat) Muhammad adalah hamba Allāh dan Rasūl-nya, menegakkan shalāt, membayar zakat, haji, dan puasa Ramadhān”.

(Hadīts riwayat Al-Bukhāri dan Muslim dan dibawakan oleh Imam An-Nawawi didalam Al-arbain An-Nawawiyah hadīts ke-3)

Kemudian beliau mengatakan:

ودليل قوله تعالى : { إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلْإِسْلَـٰمُ} وقوله تعالى : {وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ ٱلْإِسْلَـٰمِ دِينًۭا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِى ٱلْـَٔاخِرَةِ مِنَ ٱلْخَـٰسِرِينَ}

Sesungguhnya agama disisi Allāh maksudnya adalah agama yang benar disisi Allāh.

Kalau disisi manusia, orang Nashrani (misalnya) mengatakan agama mereka yang benar. Orang Yahūdi mengatakan agama mereka yang benar .

وَقَالَتِ ٱلْيَهُودُ لَيْسَتِ ٱلنَّصَـٰرَىٰ عَلَىٰ شَىْءٍۢ وَقَالَتِ ٱلنَّصَـٰرَىٰ لَيْسَتِ ٱلْيَهُودُ عَلَىٰ شَىْءٍۢ

Dan orang-orang Yahūdi berkata: “Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Orang-orang Yahūdi tidak mempunyai sesuatu pegangan”.

(QS. Al-Baqarah: 113)

Masing-masing dari mereka menganggap agama mereka yang paling benar, sebagaimana orang-orang musyrikin masing-masing menyembah sesembahannya. (Ada yang menyembah orang shahīh ada yang menyembah bintang matahari dan seterusnya).

كُلُّ حِزْبٍۭ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Masing-masing dari mereka ( kelompok orang-orang musyrikin) mereka bangga dengan sesembahannya dan menyalahkan orang yang menyembah selain sesembahannya.

Orang yang menyembah matahari menyalahkan orang yang menyembah bulan, orang yang menyembah bulan menyalahkan orang yang menyembah bintang dan seterusnya.

Tetapi kalau disisi Allāh maka yang benar adalah agama Islām.

Jika antum ingin menerjemahkan : “Sesungguhnya agama yang benar” JANGAN menerjemahkan “Sesungguhnya agama yang paling benar ” Karena kalau “Yang paling benar” berarti agama yang lain juga benar, TAPI Islām yang paling benar.

Sehingga terjemah yang shahīh mengatakan yang benar, agama yang benar disisi Allāh adalah ISLĀM adapun selainnya maka agama itu salah. Benar bukan disisi Allāh tapi benar disisi pengikut atau penganutnya.

Kalau disisi Allāh رب السماوات والأرض yang semuanya akan kembali kepada Allāh. Orang yang beriman kepada Allāh dan hari akhir maka harusnya dia mencari agama yang benar disisi Allāh bukan benar disisi manusia.

Kemudian beliau mengatakan:

وقوله تعالى : {وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ ٱلْإِسْلَـٰمِ دِينًۭا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِى ٱلْـَٔاخِرَةِ مِنَ ٱلْخَـٰسِرِينَ}

“Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islām maka tidak akan diterima dari-nya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi” (QS. Āli-Imrān:85)

Orang yang memang takut kepada Allāh dan dia percaya kepada hari akhir maka harusnya dia mencari agama agama Islām.

Barangsiapa yang mencari selain agama Islām maka Allāh tidak akan menerima darinya dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi.

Datang di hari kiamat setelah dia capek didunia setelah dia menyangka itulah yang diterima itulah yang membawa keselamatan bagi dia, di akhirat ternyata dia datang di hari kiamat dalam keadaan amalan yang dia lakukan dia dunia tidak diterima disisi Allāh.

Ini adalah kabar yang sangat mengerikan ketika dia mengetahui di akhirat ternyata amalan yang selama ini dia lakukan adalah amalan yang tidak diterima, kalau tidak diterima dan batal seluruh amalannya lalu apa yang dia jadikan sebab untuk bisa memasuki Surganya Allāh Azza wa Jalla.

Karena dia mencari agama selain agama Islām, orang yang demikian akhir dari kehidupannya adalah siksaan dan kesengsaraan .

Jadi dari dua dalīl ini, beliau ingin menegaskan makna Islām secara umum adalah agama para nabi dan rasūl, agaman yang benar disisi Allāh dan agama yang diterima disisi Allāh Azza wa Jalla.

Demikian yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini, dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وبالله التوفيق والهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top