Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Al-Ushulu Ats-Tsalasah > Halaqah 16 | Landasan Pertama, Ma’rifatullah (Bagian 04)

Halaqah 16 | Landasan Pertama, Ma’rifatullah (Bagian 04)

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-Tsalasah

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-16 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al Ushūlu AtsTsalātsah wa Adillatuhā (3 Landasan utama dan dalīl-dalīlnya) yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At Tamimi rahimahullāh.

• MENGENAL ALLĀH SUBHĀNAHU WA TA’ĀLA

Setelah kita mengetahui siapakah Allāh dan bagaimanakah kita mengenal Allāh Subhānahu wa Ta’āla, maka beliau (rahimahullāh) ingin menyampaikan kepada kita bahwasanya dzat yang telah memelihara kita dengan kenikmatan Nya, yang telah menciptakan langit dan juga bumi, menciptakan tanda-tanda kekuasaan (seperti) malam, siang, matahari dan bulan, maka Dia lah Rabb yang disembah. Dialah yang berhak untuk diibadahi dan disembah.

Beliau rahimahullāh mengatakan:

والرب هو: المعبود

“Dan Rabb, Dia lah yang disembah”

Dialah yang diibadahi, apabila seseorang sudah meyakini bahwasanya Allāh Dia-lah yang menciptakan alam semesta dan juga mengaturnya, maka kewajiban dia adalah hanya menyerahkan ibadah ini kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan dalīlnya adalah firman Allāh :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ۞ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ فِرَٰشٗا وَٱلسَّمَآءَ بِنَآءٗ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَخۡرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ رِزۡقٗا لَّكُمۡۖ فَلَا تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ أَندَادٗا وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ۞

Wahai manusia! Hendaklah kalian menyembah (beribadah) kepada Rabb kalian yang telah memelihara kalian dan seluruh alam semesta.

Siapakah Rabb kalian?

Rabb kalian adalah yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian supaya kalian bertaqwa (takut kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla).

⇒ Rabb yang memiliki sifat-sifat inilah yang berhak untuk disembah dan diibadahi.

Sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian yang tidak menciptakan kalian jangan disembah, demikian pula menciptakan orang-orang sebelum kalian.

Menciptakan bapak kalian, orang tua kalian dan menciptakan orang-orang sebelum kita dari semenjak nabi Ādam alayhissalām, itulah Rabb yang berhak untuk disembah, selain itu (yang tidak memiliki sifat ini, yang tidak menciptakan) maka janganlah disembah supaya kalian bertaqwa.

Menjadikan penjagaan antara kalian dengan neraka-Nya Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kemudian Allāh mengatakan:

ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ فِرَٰشٗا

Rabb yang hendaknya kalian sembah, Dia lah yang telah menjadikan bagi kalian bumi ini menjadi terhampar sehingga mudah diambil manfaat.

Maka inilah Rabb yang berhak untuk kalian ibadah, adapun selain Allāh yang tidak menjadikan bumi ini terhampar, maka dia tidak berhak untuk di ibadahi.

وَٱلسَّمَآءَ بِنَآءٗ

Yang telah menjadikan langit menjadi bangunan yang besar ,yang berada diatas manusia. Dialah yang berhak untuk diibadahi dan disembah.

وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ

Dan telah menurunkan dari langit air hujan

فَأَخۡرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ رِزۡقٗا لَّكُمۡۖ

Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengeluarkan dengan air hujan tersebut buah-buahan sebagai rejeki bagi kalian.

⇒ Inilah Rabb yang berhak untuk diibadahi dan disembah.

Menjadikan bumi terhampar menjadikan langit menjadi bangunan, menurunkan air dari awan kemudian dialah yang telah mengeluarkan tanaman, biji-bijian, buah-buahan dengan air tersebut.

⇒ Inilah Rabb yang berhak untuk disembah
dan diibadahi.

فَلَا تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ أَندَادٗا وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ

Maka janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu bagi Allāh, sedangkan kalian mengetahui.

Janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu bagi Allāh!

Beribadah kepada Allāh juga beribadah kepada selain Allāh, sedangkan kalian mengetahui (memahami) bahwasanya yang menciptakan kalian, yang menjadikan bumi terhampar, menjadikan langit menjadi bangunan, menurunkan air hujan adalah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kalau kalian mengetahui bahwasanya yang melakukan itu semua adalah Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan tidak ada yang melakukan itu semua kecuali ,Allāh maka janganlah kalian menyekutukan Allāh (menyembah Allāh juga menyembah selain Allāh).

Beribadah kepada Allāh bersamaan itu beribadah juga kepada selain Allāh, menyerahkan ibadahnya sebagian kepada Allāh tetapi juga menyerahkan sebagian ibadah yang lain kepada selain Allāh.

Jadi keimanan kita, bahwasanya Allāh yang mencipta, memberikan rejeki (baik dari langit maupun dari bumi), mengatur alam semesta ini, seharusnya ini menjadikan kita tidak beribadah kecuali kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

(QS. Al Baqarah: 21-22)

⇒ Inilah maksud dari ayat yang mulia ini.

Oleh karena itu setelahnya beliau menukil ucapan Ibnu Katsīr (yang memiliki kitāb tafsīr Al Qur’ānil ‘Azhīm I/197)

Beliau mengatakan:

الخالق لهذه الأشياء هو المستحق للعبادة

Berkata Ibnu Katsīr rahimahullāh:

“Yang menciptakan ini semua, Dia lah yang berhak untuk di ibadahi.”

Adapun yang tidak menciptakan ini dan itu maka mereka tidak berhak untuk diibadahi meskipun memiliki kedudukan yang tinggi diantara manusia.

√ Seorang nabi adalah orang yang mulia disisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla, tetapi dia tidak menciptakan, oleh karena itu tidak berhak untuk di ibadahi.

√ Seorang malāikat adalah hamba Allāh yang mulia di sisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla tetapi dia tidak menciptakan oleh karena itu, tidak berhak untuk di ibadahi dan tidak berhak untuk disembah.

Jika didalam hati kita meyakini bahwasanya Allāh satu-satunya yang mencipta, memberikan rejeki dan mengatur alam semesta ini, maka seharusnya kita tidak beribadah kecuali hanya kepada Allāh.

Orang-orang musyrikin Quraisy yang Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam diutus diantara mereka mereka adalah orang-orang yang mengakui bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang mencipta dan mengakui bahwasanya Allāh yang memberikan rejeki kepada mereka, dan bahwasanya Allāh yang mengatur alam semesta ini.

Mereka mengakui itu semua akan tetapi ketika diajak oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam untuk hanya menyerahkan ibadah kepada Allāh saja mereka menolak.

⇒ Mereka tidak mengikuti ajakan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Padahal mereka mengakui rubūbiyah Allāh, dan bahwasanya Allāh yang menciptakan mereka dan orang-orang sebelum mereka, tidak ada diantara mereka yang meyakini bahwasanya patung-patung yang ada disekitar Ka’bah, itulah yang menciptakan mereka. Tidak!

Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla sendiri yang telah mengabarkan keyakinan mereka tentang Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَـٰرَ وَمَن يُخْرِجُ ٱلْحَىَّ مِنَ ٱلْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ ٱلْمَيِّتَ مِنَ ٱلْحَىِّ وَمَن يُدَبِّرُ ٱلْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ ٱللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allāh”. Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?”

(QS. Yūnus: 31)

Inilah jawaban orang-orang musyrikin Quraisy Mereka mengatakan dan meyakini bahwasanya Allāh yang melakukan itu semua, tetapi mereka tidak mau mengEsakan Allāh, (mentauhīdkan Allāh Subhānahu wa Ta’āla) didalam ibadah mereka sehari-hari.

Terkadang mereka menyembah kepada Allāh (kalau mau) dan terkadang mereka menyembah kepada selain Allāh, sebagaimana ketika mereka berada ditengah lautan, datang ombak yang besar, datang angin yang kencang, dalam keadaan sangat bahaya baru mereka ingat kepada Allāh dan mentauhīdkan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Tetapi ketika mereka sudah diselamatkan sampai kedaratan, mereka lupa kepada Allāh dan kembali menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

فَإِذَا رَكِبُوا۟ فِى ٱلْفُلْكِ دَعَوُا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ فَلَمَّا نَجَّىٰهُمْ إِلَى ٱلْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

“Apabila mereka naik kapal mereka mendo’a kepada Allāh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allāh menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allāh)”

(QS. Al Ankabut: 65)

Mereka berdo’a kepada Allāh, dalam keadaan ikhlās hatinya untuk Allāh, mengatakan,”Yā Allāh, seandainya Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, niscaya kami termasuk orang-orang yang bersyukur”.

Ketika Allāh menyelamatkan mereka, sampai kesadaran tiba-tiba mereka menyekutukan Allāh. Terkadang menyembah kepada Allāh berdo’a semata hanya kepada Allāh dan terkadang mereka menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kemudian Allāh mengatakan, didalam ayat tadi setelah Allāh Subhānahu wa Ta’āla menyuruh Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam bertanya kepada mereka, “Siapakah yang telah memberikan rejeki, mengatur alam semesta, menghidupkan dan mematikan?”. Ketika mereka mengatakan Allāh, maka Allāh mengatakan kepada Nabi-Nya.

“Maka katakanlah kepada mereka, kenapa kalian tidak takut kepada Allāh, kenapa kalian tidak takut dengan adzab Allāh?”

Sudah tahu bahwasanya Allāh yang mencipta dan tidak ada yang mencipta selain Allāh, kemudian kalian menyekutukan Allāh dengan yang lain.

⇒ Keyakinan bahwasanya Allāh yang mencipta adalah fitrah, yang Allāh fitrahkan kepada manusia.

Ketika Allāh menciptakan mereka (manusia) di fitrahkan didalam hatinya keyakinan dan kepercayaan bahwa Allāh yang menciptakan, yang memberi rejeki dan mengatur alam semesta ini.

Oleh karena itu orang-orang musyrikin Quraisy yang dikatakan musyrikin oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, didalam hatinya juga meyakini bahwa Allāh yang menciptakan mereka.

Karena ini adalah fitrah, bahkan Fir’aun yang mengatakan, “Aku adalah Rabb kalian yang paling tinggi”, sebenarnya dia meyakini bahwasanya dia bukan Rabb dan meyakini bahwasanya Allāhlah Rabb dia, yang telah menciptakan dia dan bahwasanya apa yang berasal dari Mūsā berupa ayat-ayat dan muzijat semuanya dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan Allāh kabarkan didalam Al Qur’ān tentang bagaimana sebenarnya keyakinan Fir’aun.

قَالَ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَآ أَنزَلَ هَٰٓؤُلَآءِ إِلَّا رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ بَصَآئِرَ وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَٰفِرۡعَوۡنُ مَثۡبُورٗا

Dia (Mūsā) menjawab, ”Sungguh, engkau telah mengetahui, bahwa tidak ada yang menurunkan (mukjizat-mukjizat) itu kecuali Tuhan (yang memelihara) langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sungguh, aku benar-benar menduga engkau akan binasa, wahai Fir‘aun.”

(QS. Al Isrā’: 102)

Menunjukkan bahwasanya Fir’aun mengetahui tentang Allāh, dan dia lah yang telah menciptakannya dan juga menciptakan alam semesta dan bahwasanya ucapan dia, “Aku adalah Rabb yang paling tinggi” adalah ucapan yang keluar dari orang yang sombong, mengetahui yang al haq tetapi dia mengucapkan dan menolak kebenaran tersebut.

Fir’aun mengenal bahwasanya Allāh adalah Rabb semesta alam, jangan kan Fir’aun syaithān dan iblīs mengenal bahwasanya Allāh yang telah menciptakan dia dan menciptakan nabi Ādam alayhissallām.

Allāh berkata kepada iblīs setelah dia diperintahkan untuk bersujud, (sujud penghormatan) kepada Nabi Ādam kemudian dia menolak.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا۠ خَيْرٌۭ مِّنْهُ خَلَقْتَنِى مِن نَّارٍۢ وَخَلَقْتَهُۥ مِن طِينٍۢ

Allāh berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Ādam ) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblīs “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia (Ādam) Engkau ciptakan dari tanah”

(QS. Al ‘Arāf: 12)

Didalam ayat yang lain dia mengatakan:

قَالَ فَبِمَآ أَغْوَيْتَنِى لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَٰطَكَ ٱلْمُسْتَقِيمَ

Iblīs menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus”

(QS. Al ‘Arāf: 16)

Iblīs memanggil kepada Allāh dengan Rabb, mengenal bahwasanya Allāh adalah rabb Nya, apakah ini bermanfaat bagi syaithān?

Tidak bermanfaat baginya, karena dia tidak melaksanakan perintah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Mengenal bahwasanya Allāh yang menciptakan, memberikan rejeki dan mengatur alam semesta adalah fitrah yang seharusnya menuntun kita hanya beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Oleh karena itu disini, beliau mendatangkan ayat:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعْبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُمْ وَٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa”

(QS. Al Baqarah: 21)

Dan ini adalah perintah pertama didalam Al Qur’ān, didalam Al Qur’ān banyak perintah, tapi perintah pertama yang Allāh sebutkan didalam Al Qur’ān adalah perintah untuk beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla semata.

Betapa besar dan agungnya perintah untuk beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, sehingga Allāh menjadikan perintah untuk beribadah ini sebagai perintah yang pertama didalam Al Qur’ān sebelum perintah-perintah yang lain.

⇒ Dan larangan berbuat syirik adalah larangan yang pertama didalam Al Qurān

Tadi disebutkan Allāh berfirman:

فَلَا تَجْعَلُوا۟ لِلَّهِ أَندَادًۭا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allāh, padahal kamu mengetahui.”

(QS. Al Baqarah: 22)

Dan ini adalah larangan yang pertama didalam Al Qurān (larangan berbuat syirik).

√ Perintah pertama adalah perintah untuk bertauhīd dan larangan pertama adalah larangan dari perbuatan syirik.

Itulah yang bisa kita sampaikan.

Wallāhu Ta’āla A’lam.

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

 

3 komentar untuk “Halaqah 16 | Landasan Pertama, Ma’rifatullah (Bagian 04)”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top