Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Al-Ushulu Ats-Tsalasah > Halaqah 15 | Landasan Pertama, Ma’rifatullah (Bagian 03)

Halaqah 15 | Landasan Pertama, Ma’rifatullah (Bagian 03)

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-Tsalasah

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-15 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al Ushūlu AtsTsalātsah wa Adillatuhā (3 Landasan utama dan dalīl-dalīlnya) yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At Tamimi rahimahullāh.

• MENGENAL ALLĀH SUBHĀNAHU WA TA’ĀLA

Kemudian beliau mengatakan:

ومن مخلوقاته السّماوات السّبع و من فيهن والأرضون السبع و من فيهن و مابينهما

Dan diantara makhluk-makhluk Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah,

√ Langit yang tujuh, dan makhluk yang ada didalamnya.

√ Bumi yang tujuh dan apa yang ada didalamnya.

√ Apa yang ada diantara langit dan juga bumi, diantara makhluk-makhluk Allāh.

Yang menunjukkan kepada kita tentang Maha Besarnya Allāh, Maha Kuasanya Allāh, dan mengetahui tentang luasnya ilmu Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah langit dan juga bumi.

Langit yang tujuh yang Allāh ciptakan tanpa tiang yang kita lihat, makhluk yang sangat besar yang berada diatas, Allāh ciptakan tanpa tiang dan apa yang berada didalamnya berupa makhluk-makhluk Allāh seperti malāikat dan juga bintang-bintang dan bumi yang tujuh dan apa yang ada didalamnya dan yang ada diantara langit dan bumi tersebut.

Berupa makhluk-makhluk Allāh seperti awan, angin, manusia, tumbuhan, hewan (ini semua adalah makhluk-makhluk Allāh yang berada diantara langit dan juga bumi).

Apabila kita mau memikirkan penciptaan Allāh terhadap langit dan bumi niscaya kita akan mengenal siapa Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Langit Allāh ciptakan sedemikian besarnya, kita berada dibumi dan bumi adalah bagian dari tata surya, disana ada planet-planet yang lain yang mungkin lebih besar dari bumi, disana ada matahari, disana ada bintang-bintang dan ternyata kita berada di salah satu galaxy, dan galaxy adalah kumpulan dari jutaan bintang, dan satu bintang ukurannya adalah ukuran yang sangat besar.

Bahkan banyak bintang-bintang yang ukurannya lebih besar daripada matahari dan ternyata disana ada galaxy-galaxy lain bukan hanya galaxy kita, tetapi disana ada galaxy-galaxy yang lain (kumpulan-kumpulan bintang lain) yang tidak mengetahuinya kecuali Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Jumlah yang sangat banyak dan sangat besar yang tidak mengetahuinya ukurannya kecuali Allāh Subhānahu wa Ta’āla, dan itu semua berada dibawah langit yang pertama (langit dunia) dengan demikian kita bisa mengetahui bagaimana besarnya langit yang pertama tersebut.

Disana ada langit yang kedua, yang jaraknya antara yang pertama dan kedua ratusan tahun yang tentunya lebih besar dan lebih besar daripada langit yang pertama.

Dan disana ada langit yang ketiga, yang jaraknya antara yang kedua dan ketiga ratusan tahun, ada langit yang keempat, kelima dan langit yang ketujuh. Tidak bisa kita bayangkan bagaimana besarnya langit yang ketujuh tersebut.

Dan disebutkan didalam hadīts bahwasanya diatas langit ada kursi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan disebutkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam perbandingan antara seluruh langit dan bumi, dibandingkan dengan kursi Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah seperti sebuah cincin yang dilemparkan ditengah padang pasir.

⇒ Ini adalah perbandingan antara langit yang tujuh dengan kursi Allāh Subhānahu wa Ta’āla, tidak bisa kita bayangankan bagaimana besarnya kursi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan disebutkan dalam hadīts tersebut diatas kursi ada ‘Arsy dan perbandingan antara kursi Allāh dengan ‘Arsy Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah seperti cincin yang dilemparkan di tengah padang pasir.

Lebih besar daripada kursi dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla akbar lebih besar daripada itu semua, tidak bisa kita bayangkan bagaimana besarnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Kalau ciptaannya demikian besarnya bagaimana dengan Al Khāliq yang menciptakan itu semua.

Oleh karena itu didalam Islām ketika dikumandangkan adzan yang pertama adalah kalimatul at takbir….. Allāhu Akbar…. Allāhu Akbar.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah dzat yang paling besar yang Maha besar lebih besar dari apa saja, yang menurut manusia itu adalah sesuatu yang besar tetapi hendaklah mereka mengetahui bahwasanya Allāh adalah akbar (Maha besar dan lebih besar daripada itu semua).

Ketika shalāt ucapan yang pertama kali kita ucapkan adalah takbiratul ihram (Allāhu Akbar) supaya kita mengetahui bahwasanya Dialah Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang yang Maha besar yang lebih besar daripada pekerjaan kita, daripada dunia kita, menjadikan kita khusyuk dan mengharapkan diri kita kepada Allāh dzat yang Maha besar.

Diantara makhluk Allāh adalah langit yang tujuh demikan pula bumi dan apa yang ada diantara keduanya.

Kemudian beliau mengatakan:

والدّليل قوله تعالى: وَمِنۡ ءَايَٰتِهِ ٱلَّيۡلُ وَٱلنَّهَارُ وَٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُۚ لَا تَسۡجُدُواْ لِلشَّمۡسِ وَلَا لِلۡقَمَرِ وَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ ٱلَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ

Dan dalīlnya adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

“Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya adalah malam dan siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allāh yang menciptakannya, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.”

(QS. Fussilat 37)

⇒ Ini adalah dalīl diantara kekuasaan Allāh adalah malam dan siang juga matahari dan juga bulan.

Dan juga firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ يُغۡشِي ٱلَّيۡلَ ٱلنَّهَارَ يَطۡلُبُهُۥ حَثِيثٗا وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَٰتِۭ بِأَمۡرِهِۦٓۗ أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ

“Sungguh, Tuhanmu (adalah) Allāh yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Mahasuci Allāh, Tuhan seluruh alam.”

(QS. Al-Arāf: 54)

Dua ayat ini menunjukkan tentang tanda-tanda kekuasaan Allāh diantara makhluk-makhluk Allāh Subhānahu wa Ta’āla (yaitu) matahari, bulan, bintang, siang dan malam, yang menunjukkan kepada kita siapakah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan Dialah Allāh Rabb kita yang Maha Mengetahui yang Maha Berkuasa untuk melakukan segala sesuatu yang Maha Hidup yang mengetahui maslahat dan juga mudharat.

Oleh karena itu kita menjadikan Allāh Subhānahu wa Ta’āla sebagai satu-satunya sesembahan.

Sebagaimana yang beliau katakan diawal,

وهو معبودي ليس لي معبود سواه

“Dan dialah sesembahanku, aku tidak memiliki sesembahan selain dia”

Itulah yang bisa kita sampaikan.

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top