Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Al-Ushulu Ats-Tsalasah > Halaqah 05 | Pengantar Al-Ushulu Ats-Tsalāsah (Bagian 05)

Halaqah 05 | Pengantar Al-Ushulu Ats-Tsalāsah (Bagian 05)

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-Tsalasah

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang kelima dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al Ushūlu AtsTsalātsah wa Adillatuhā (3 Landasan utama dan dalīl-dalīlnya) yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At Tamimi rahimahullāh.

Kemudian beliau mengatakan:

والدليل قوله تعالى بسم الله الرحمن الرحيم: وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ [العصر:1-3]

Dan dalīlnya adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

⑴ Demi masa

⑵ Sungguh, manusia berada dalam kerugian.

⑶ Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.

(QS. Al ‘Ashr: 1-3)

Dalīl dari empat perkara ini adalah apa yang ada didalam surat Al ‘Ashr, surat yang terdiri dari 3 ayat namun memiliki makna yang sangat dalam.

وَالْعَصْرِ

“Demi masa” (Kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla)

Dan Allāh bersumpah dengan apa yang dia kehendaki, bersumpah dengan masa, bersumpah dengan matahari, bulan, langit namun seorang makhluk tidak boleh bersumpah kecuali dengan nama Allāh.

Mengatakan بالله، والله adapun Allāh Subhānahu wa Ta’āla maka bersumpah sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Sesungguh, manusia (al insān) berada di dalam kerugian kecuali ada diantara manusia yang mereka yang tidak rugi.

Siapa mereka?

الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Mereka adalah:

⑴ Orang yang beriman.
⑵ Orang yang beramal shālih.
⑶ Saling menasehati dalam kebenaran.
⑷ Saling menasehati dengan kesabaran.

Perhatikan firman Allāh:

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Kecuali orang yang beriman, orang yang beriman tidak mungkin dia bisa beriman kecuali apabila dia mengilmui apa yang dia imani.

Bagaimana dia bisa beriman kepada Allāh kalau dia tidak mengenal Allāh Subhānahu wa Ta’āla?

Bagaimana dia bisa mengenal nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam beriman dengan nabi Muhammad kalau dia tidak mengenal siapa Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam?

Oleh karena itu firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

الَّذِينَ آمَنُوا

⑴ Berisi tentang dorongan untuk berilmu

وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

⑵ Beramal shālih adalah dalīl kewajiban untuk beramal shālih

وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ

⑶ Dan saling berwasiat dengan kebenaran ini adalah dalīl tentang dakwah.

Seseorang saling berwasiat, saling menasehati satu dengan lain untuk berilmu dan beramal, ini dinamakan dengan dakwah.

وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

⑷ Saling berwasiat dengan kesabaran

Dan ini adalah dalīl perkara yang keempat yaitu الصبر على الأذى فيه bersabar didalam rintangan yang dihadapi dalam menuntut ilmu, beramal dan berdakwah.

Ini adalah dalīl yang beliau (rahimahullāh) sebutkan tentang empat perkara yang wajib dipelajari oleh seorang muslim.

Kemudian beliau membawakan ucapan Imām Asy Syāfi’i, (Imām Asy Syāfi’i rahimahullāh, beliau adalah Muhammad bin Idrīs dan beliau adalah salah satu imam yang empat yang dikenal oleh kaum muslimin, beliau lahir pada tahun 150 Hijriyyah dan meninggal pada tahun 204 Hijriyyah)

قال الشافعي رحمه الله تعالى: ( لو ما أنزل الله حجة على خلقه إلا هذه السورة لكفتهم )

Berkata Imām Asy Syāfi’i rahimahullāh, (beliau menafsirkan tentang apa yang ada didalam surat Al Ashr)

لو ما أنزل الله حجة على خلقه إلا هذه السورة لكفتهم

“Seandainya Allāh tidak menurunkan sebuah hujjah untuk makhluknya kecuali surat ini (Al Ashr) niscaya itu sudah cukup bagi mereka.”

Kenapa demikian?

Karena didalam surat Al Ashr ada pondasi-pondasi yang tadi kita sebutkan.

Kewajiban untuk menuntut ilmu dan menuntut ilmu mencakup semua perkara, demikian pula beramal, dan disebutkan didalamnya dakwah dan kesabaran.

Ini adalah pondasi-pondasi yang apabila dipahami oleh seorang muslim maka ini sudah cukup untuk dia (ini adalah ucapan Imām Syāfi’i yang menyebutkan tentang keutamaan surat Al Ashr).

Kemudian beliau membawakan ucapan Imām Bukhāri (Imām Bukhāri adalah Muhammad bin Ismāil dan beliau adalah seorang muhadīts yang memiliki kitāb shahīh Al Bukhāri yang merupakan kitāb yang paling shahīh setelah Al Qurān dan beliau meninggal pada tahun 256 Hijriyyah)

وقال البخاري رحمه الله تعالى: ( باب العلم قبل القول والعمل)

Beliau mengatakan didalam kitābnya shahīh Al Bukhāri Bābun Al ‘Ilmu Qabla Al Qauli wa Al Amal (Bab ilmu itu sebelum ucapan dan amalan).

والدليل قوله تعالى: فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ [محمد:19]. فبدأ بالعلم قبل القول والعمل )

Beliau (rahimahullāh) ingin menyampaikan kepada kita didalam kitābnya karena disana beliau membuat bab-bab, disana ada bab alif, bab ب dan seterusnya dan diantara bab yang beliau sebutkan adalah باب العلم قبل القول والعمل (bab bahwasanya ilmu itu sebelum ucapan dan amalan).

Seseorang sebelum mengucapkan maka dia harus mengilmui apa yang dia ucapkan, seseorang sebelum beramal maka dia harus mengilmui apa yang diamalkan (ini maksudnya)

Mendorong kepada seseorang sebelum dia mengucapkan sesuatu dan mengamalkan sebuah ibadah, hendaknya dia mengilmui bahwasanya ucapan tersebut memang ada dasarnya, demikian pula amalan tersebut ada dasarnya didalam syar’iat.

Kemudian beliau (Imām Bukhāri) mengatakan, dan dalīlnya adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

فَٱعۡلَمۡ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۢبِكَ

“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allāh dan mohonlah ampunan atas dosamu.”

(QS. Muhammad: 19)

Pertama beliau mengatakan فَٱعۡلَمۡ ini adalah dorongan untuk mengilmui, mempelajari, kemudian setelah itu Allāh mengatakan وَٱسۡتَغۡفِرۡ baru setelah itu memohon ampunlah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, (artinya) berilmu dulu baru beramal.

Kemudian beliau mengatakan:

فبدأ بالعلم قبل القول والعمل

“Maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla memulai dengan ilmu, sebelum mengucapkan dan perbuatan.”

Inilah yang ingin sampaikan oleh Syaikh rahimahullāh didalam muqaddimah dan in syā Allāh akan dilanjutkan pada kesempatan yang akan datang.

Itulah yang bisa kita sampaikan.

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

1 komentar untuk “Halaqah 05 | Pengantar Al-Ushulu Ats-Tsalāsah (Bagian 05)”

  1. Bismillah.
    Maa syaa Allah wa barakallahu fiik Ukhti. Semoga amal kebaikan ukhti dg materi HSI ini bisa menjadi pemberat amal kebaikan anti. aamiin..

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top