Home > Bimbingan Islam > Matan Abu Syuja > Kajian 061 | Fiqh Shalāt Jum’at

Kajian 061 | Fiqh Shalāt Jum’at


🌍 BimbinganIslam.com
👤 Ustadz Fauzan ST, MA
📗 Matan Abu Syuja
📝 Ahmad bin Al-Husain bin Ahmad Al-Asfahāniy (Imam Abū Syujā’)

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para sahabat Bimbingan Islām yang dirahmati oleh  Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kita memasuki halaqah ke-61 dan masih  pada fasal tentang fiqih shalāt Jum’at.

قال المؤلف رحمه الله

Berkata penulis rahimahullāh:

وفرائضها ثلاثة :

Dan kewajiban (farāidh) atau rukun  didalam shalāt Jum’at ada 3(tiga):

خطبتان يقوم فيهما ويجلس بينهما، وأن تصلَّى ركعتين في جماعة

Yaitu:

√ 2 (dua) kali khutbah yang dilakukan berdiri dikeduanya.
√ Diselingi duduk diantara keduanya,
√ Dan shalāt dua raka’at dengan berjama’ah.

Diantara syarat sahnya shalāt yaitu harus dimulai dengan 2(dua) kali khutbah yang dipisah dengan duduk diantara keduanya. Kemudian shalāt berjama’ah 2 (dua) raka’at.

Hal ini berdasarkan hadīts dari Jābir yang diriwayatkan Imām Bukhāri dan Muslim.

أنَّه صلَّى الله عليه وسلَّم كان يَخطُب يومَ الجُمُعة خُطبَتَيْنِ يَجلِسُ بيْنَهُم

“Bahwasanya beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) berkhutbah pada hari Jum’at dengan 2 (dua)  kali khutbah, dan duduk diantara keduanya.”

Dan Imām Muslim meriwayatkan dengan lafadz yang lain:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يخطب يوم الجمعة قائما ثم يجلس ثم يقوم

“Bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, beliau berkhutbah pada hari Jum’at dalam keadaan berdiri kemudian duduk kemudian berdiri kembali”

Ini menunjukan bahwa shalāt Jum’at dengan urutan: 2 (dua) kali khutbah dengan duduk diantara keduanya dan juga shalāt 2(dua) raka’at secara berjama’ah.

قال المؤلف رحمه الله

Berkata penulis rahimahullāh:

وهيآتها أربع خصال: الغُسل وتنظيف الجسد، ولبس الثياب البيضاء، وأخذ الظفر، والطِّيب.

▪ Adapun sunnahnya ada 4 (empat) macam:

⑴ Mandi dan membersihkan badan.
⑵ Memakai pakaian putih.
⑶ Memotong kuku.
⑷ Menggunakan wewangian.

▪ Sunnah bagi orang yang hendak melaksanakan shalāt Jum’at diantaranya:

⑴ Mandi besar dan membersihkan badan.

Hal ini berdasarkan hadīts dalam shahīhain.

إِذا جَاءَ أَحدُكُمْ إِلَى الْجُمُعَةِ ، فَلْيَغْتَسِل

“Apabila kalian hendak datang untuk melaksanakan shalāt Jum’at, maka mandilah.”

(Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim)

⇒ Sebagian ulamā ada yang berpendapat bahwa hukum mandi sebelum Jum’at adalah wajib.

Hal ini berdasarkan hadīts dari Abū Sa’id Al khudrī Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu:

عن أَبي سعيدٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه: أَنَّ رسولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم  قال: غُسْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ واجب عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ، وَسِوَاكٌ، ويَمَسُّ مِنْ الطِّيبِ، مَا قَدَرَ عليه

Dari Abū Sa’id Al-khudrī beliau berkata, bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Mandi pada hari Jum’at adalah wajib bagi setiap orang yang muhtalim (bāligh), adapun siwak dan memakai minyak wangi yaitu sesuai dengan kadar yang dia mampu (maksudnya)  adalah sebanyak yang dia mampu.”

Ala kuli hal, bahwasanya mandi untuk shalāt Jum’at hukumnya sangat ditekankan, apakah dia sunnah muaqaddah ataupun wajib.

Diantara tujuan mandi adalah menghilangkan kotoran dan bau yang menempel dibadannya, sehingga tidak menganggu orang yang duduk maupun shalāt di sebelahnya.

Oleh karena itu, mandi yang dimaksud adalah mandi yang bisa menghilangkan bau badan dan membersihkan diri dari kotoran. Bukan hanya sekedar mengguyur dengan air akan tetapi masih tersisa bau yang bisa mengganggu orang lain.

⑵ Memakai pakaian berwarna putih.
⑶ Memotong kuku.
⑷ Memakai minyak wangi.

Dan ini berdasarkan hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Ahmad dengan lafazh:

وقد رواه أحمد بلفظ: من اغتسل يوم الجمعة، واستاك ومسَّ من طيب إنْ كان عنده، ولبسَ أحسنَ ثيابه، ثم خرج حتى يأتي المسجد، فلم يَتخطّ رقابَ الناس، حتى ركعَ ما شاء أنْ يركع، ثم أنصتَ إذا خرج الإمام، فلم يتكلم حتى يفرغ من صلاته، كانت كفارة لما بينها، وبين الجمعة التي قبلها»

“Barangsiapa yang mandi hari Jum’at dan dia  bersiwak kemudian  memakai minyak wangi yang dia punya dan dia memakai pakaian yang terbaik, kemudian dia keluar sampai datang ke masjid, dan dia tidak melangkahi pundak-pundak orang-orang, kemudian dia shalāt semampu dia untuk shalāt, kemudian dia diam tatkala Imām keluar untuk berkhutbah dan dia  tidak berbicara sampai Imām selesai dari shalātnya maka itu adalah sebagai penghapus  dosa, pahalanya dia mendapatkan kafārah (penebus) dosa antara shalāt Jum’at tersebut dengan shalāt Jum’at sebelumnya.”

Ini menunjukan beberapa adab diantara adab-adab pada shalāt Jum’at.

Dan di sana perlu diperhatikan masih ada adab yang lain. Diantaranya adalah untuk bersegera kemasjid dan memiliki pahala atau fadhilah yang besar.

Sebagaimana hadīts dari Abū Hurairah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu, beliau berkata, bahwasanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال النبي صلى الله عليه وسلم : من راح في الساعة الأولى فكأنّما قرّب بَدَنَة ، ومن راح في الساعة الثانية فكأنّما قرّب بقرة ، ومن راح في الساعة الثالثة فكأنّما قرّب كبشاً أقرن ، ومن راح في الساعة الرابعة فكأنّما قرب دجاجة ، ومن راح في الساعة الخامسة فكأنّما قرّب بيضة ، فإذا صعد الإمام المنبر حضرت الملائكة يستمعون الذكر

رواه البخاري ( 841 ) ومسلم ( 850 )

“Barangsiapa yang pergi menuju masjid pada waktu yang pertama maksudnya bersegera pada waktu yang pertama, maka seakan-akan dia mempersembahkan kurban seekor unta, barangsiapa yang berangkat pada waktu yang kedua, maka seakan-akan dia mempersembahkan kurban seekor sapi, barangsiapa yang berangkat pada waktu yang ketiga, maka seakan-akan dia mempersembahkan kurban seekor kambing yang memiliki tanduk,  barangsiapa yang berangkat pada waktu yang keempat, maka seakan-akan dia mempersembahkan kurban seekor ayam, barangsiapa yang berangkat pada waktu yang kelima, maka seakan-akan dia mempersembahkan kurban sebutir telur, Apabila Imām telah naik mimbar, maka para Malāikat yang tadi hādir (mencatat) kemudian dia menutup buku catatannya dan duduk untuk  mendengarkan khutbah dari Imām.”

(Hadīts riwayat Bukhāri no. 841 dan Muslim no. 850)

Hadīts ini menunjukan tentang keutamaan orang yang bersegera untuk datang ke masjid untuk melaksanakan shalāt Jum’at.

قال المؤلف رحمه الله

Berkata penulis rahimahullāh:

ويستحب الإنصات في وقت الخطبة
ومن دخل والإمام يخطب صلى ركعتين خفيفتين ثم يجلس.

Dan disunnahkan untuk inshāt (diam mendengarkan) pada saat khutbah. Barangsiapa yang masuk masjid dan Imām sedang berkhutbah, maka hendaknya dia shalāt 2 (dua) raka’at yang ringan maksudnya adalah agak cepat, kemudian dia duduk.

Berbicara pada saat khutbah maka dia mengurangi kesempurnaan dari shalāt Jum’at itu sendiri, namun tidak membatalkannya.

Ini adalah pendapat yang rājih. Hal ini berdasarkan penjelasan dari Imām Ibnu Hajar dalam Fathul Bari tatkala beliau menjelaskan sabda Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

ومن تكلم فلا جمعة له

“Barangsiapa yang berbicara, maka tidak ada Jum’at baginya.”

Apa maksudnya?

Maksudnya adalah orang tersebut tidak mendapatkan pahala Jum’at yang sempurna.

Dan ini sebagaimana hadīts dari Abū Hurairah radhiyallāhu ta’āla ‘anhu, bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : إذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ : أَنْصِتْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ ؛ فَقَدْ لَغَوْتَ

“Apabila kamu mengatakan kepada kawanmu pada hari Jum’at ‘Diamlah!’ sementara Imām sedang khutbah, maka kamu telah berbuat laghwu (sesuatu kesia-siaan).”

(Hadīts riwayat Bukhāri dan  Muslim)

Jadi, menunjukan bahwa seorang yang berkata maka dia telah mengurangi pahala shalāt Jum’atnya karena telah berbuat yang sia-sia.

Dan perkataan diperbolehkan atau tidak memberikan ta’tsir (pengaruh) baik dalam shalātnya ataupun dalam pahalanya, (artinya) perkataan tersebut diperbolehkan sebelum dan sesudah khutbah berlangsung.

Dan selama kutbah maka tidak boleh untuk berucap atau berkata-kata.

Dan dianjurkan untuk melaksanakan shalāt tahiyyatul masjid, walaupun Imām sedang berkhutbah. Namun hendaknya melakukannya dengan shalāt cara atau bacaan yang ringan atau yang cepat.

Berdasarkan hadīts Jābir dalam Shahīhain, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إذا جاء أحدكم يوم الجمعة والإمام يخطب فليركع ركعتين وليتجوز فيهما

“Apabila salah seorang dari kalian datang untuk melaksanakan shalāt Jum’at dan Imām sedang berkhutbah, maka hendaknya shalāt 2 (dua)  raka’at dengan ringan (cepat).”

Demikian yang bisa disampaikan semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
________

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top