Home > Kajian Kitab > Kitab Awaa’iqu ath Thalab > Materi 43 ~ Beberapa Ucapan Para Ulama Tentang Kesabaran Mereka

Materi 43 ~ Beberapa Ucapan Para Ulama Tentang Kesabaran Mereka

🌍 Kajian Kitab
👤 Al-Ustadz Abu Haidar As-Sundawy حفظه الله
📗 Kitab Awaa’iqu ath Thalab (Kendala Bagi Para Penuntut Ilmu)
📝 as-Syaikh Abdussalam bin Barjas Alu Abdul Karim حفظه الله

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Berkata al-imam Al-Madini pernah ditanyakan kepada imam Asy-Sya’bi (orang yang paling berilmu dizamannya. Semua orang kagum, menguasai seluk beluknya syariat apapun dan ketika ditanya pasti akan dijelaskan secara mendalam) lalu orang bertanya, “Darimana engkau memperoleh ilmu ini semuanya ?” beliau menjawab, “Dengan cara tidak pernah bersandar, dengan cara berjalan antara satu negeri ke negeri lainnya, dengan cara sabar dan ulet seperti sabarnya benda-benda mati”. Para ulama zaman dahulu kalau belajar, mereka belajar besok shubuh maka mereka datang dari Ashar. Kenapa demikian ? jawabannya karena ingin duduk dipaling depan. Tempatnya besar yang hadir puluhan ribu dan ustadz tidak selalu berteriak-teriak, zaman dahulu tidak ada pengeras suara. Jikalau telat datang maka bagian yang paling belakang itu tidak bisa mendengar secara jelas. Agar kebagian tempat yang paling depan maka sejak Ashar mereka datang. Sholatnya disana dimesjid tempat ustadznya belajar. Dan hal ini salah satunya yang dialami oleh imam Asy-Sya’bi mereka tidak bersandar artinya tidak berleha-leha, mereka pergi ke satu negeri ke negeri lainnya dan dahulu berjalan kaki paling hebat berkendaraan dengan kuda atau unta, kalau hujan kehujanan kalau panas kepanasan. Sangat berbeda dengan zaman sekarang. Hal itu dengan keuletan yang luar biasa, ilmu tidak bisa dipetik dengan cara rileks, santai dan berleha-leha. Riwayat barusan diantaranya oleh imam Ad-Dzahabi dijelaskan dan imam Asy-Syafi’i rahimahullahu ta’ala, “Tidak akan sampai seseorang pada kedudukan seperti ini (kedudukan yang mulia sebagai seorang ulama) sehingga dia dimudhorotkan oleh kefakiran dan kefakirannya mendominasi dia dari segala sesuatu”. Para ulama zaman dahulu bukan sekedar susah transportasi, susah akomodasi, susah juga komunikasi termasuk juga susah secara ekonomi. Mereka tidak kaya karena yang mereka kejar adalah ilmu untuk kepentingan akhirat bukan kepentingan dunia, bukan harta. Mereka seringkali mengalami kelaparan kadang kelaparan dan kehausan menyengat menguasai jiwa mereka tetapi tidak menghalangi mereka dari belajar dan memahami ilmu. Pada zaman sekarang mungkin tidak ada orang yang seperti itu. Jadi imam Asy-Syafi’i menyatakan tidak mungkin seseorang menduduki posisi yang agung sebagai seorang ulama sebelum merasakan penderitaan seperti itu ketika mencari ilmunya. Berkata ibnu Hamzah, “Telah berkata kepadaku imam Ya’qub bin Syufian (seorang ulama ahli hadits yang bergelar hafidz. Dan hafidz itu bukan gelar untuk seorang yang hafal Qur’an tetapi hafal Qur’an itu dikalangan para ulama tidak aneh lagi, jauh sebelum menjadi ulama ketika menjadi anak-anak 9 tahun, 10 tahun mereka sudah hafal Al-Qur’an. Jadi kalau para ulama dahulu mendapatkan gelar hafidz itu adalah gelar dibidang hadits yang menguasai seluruh seluk beluk hadits dan menghafalkan hadits dengan sanadnya minimal tiga ratus ribu hadits dan ini dengan sanadnya bukan matannya dan isi dari hadits tetapi dengan sanad menyebut nama perawinya dan seterusnya hafal diluar kepala seperti imam ibnu Hafiz ibnu Hajar, ibnu Hafiz An-Nawawi, al-Hafiz ibnu Katsir, al-Hafiz al-Iroqi dan termasuk al-Hafiz Ibnu Ya’qub bin Syufian) Berapa lama beliau belajar ? beliau menyatakan, “Saya melakukan perjalanan mencari ilmu, mempelajari ilmu hadits selama tiga puluh tahun“. Habis waktunya untuk belajar hadits saja bukan untuk mencari harta dunia yang apabila waktu tiga puluh tahun itu dipakai untuk mencari harta dunia dengan sikap profesional seperti itu niscaya sudah kaya raya. Hadits juga sudah didapat lebih dari tiga ratus ribu hadits dan itu baru hafalannya belum ilmu tentang seluruh seluk beluk hadits. Demikian yang bisa disampaikan.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنْتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *