Home > Bimbingan Islam > Adab Sosial Media > Halaqah 04 – Sebuah Prioritas

Halaqah 04 – Sebuah Prioritas


🌍 BimbinganIslam.com
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Adab Sosial Media

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد الذي جعل من يريده بخير فقيها في الدين

Segala puji bagi Allāh yang jika Dia menghendaki kebaikan pada seorang hamba, akan dibuatnya faham dalam agama.

والصلاة والسلام على أشرف الخلق وسيد المرسلين نبينا محمد وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين

Kemudian shalawat dan salam semoga selalu tercurah dan terlimpahkan kepada makhluk termulia, pemimpin para rasūl, nabi kita nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam begitu juga kepada para keluarga, shahābat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat nanti.

أما بعد

Sebuah Prioritas.

Suatu saat, Syaikh Sulaimān Ruhaily, seorang profesor di Universitas Islām Madīnah, beliau juga seorang pengajar di masjid Nabawi, seorang da’i yang sudah beberapa kali datang ke Indonesia, untuk menyampaikan beberapa pelajaran, beliau pernah menyampaikan sebuah pesan yang begitu dalam. Beliau berkata :

Saudaraku, sekarang ini jika kita bertanya kepada orang-orang: “Hari ini, berapa halaman Al Qur’ān yang telah Anda baca?”

Ia akan menjawab: “Hari ini aku belum baca Al Qur’ān, demi Allāh.”

Kapan terakhir kali anda baca Al-Qur’ān?

Dia akan menjawab: “Jum’at lalu, Jum’at lalu saya membaca Al Qur’ān.”

Jika kita tanya lagi: “Kenapa anda tidak membaca Al Qur’ān?”

Dia menjawab: “Saya tidak punya waktu lagi.”

Lalu beliau (Syaikh Sulaimān) berkata:

Andai saja kita mau untuk menghitung waktu yang ia gunakan untuk bermain sosial media. Aku akan katakan: “Seandainya ½ waktu tersebut mereka potong untuk membaca Al Qur’ān, pasti dalam satu hari mereka bisa membaca 5 juz Al Qur’ān.”

Apa yang beliau sampaikan tersebut sangat begitu mengena bagi kita. Bukan hanya anda, saya pun juga tersindir dengan ceramah beliau ini.

Sering kali kita lebih menikmati permainan HP. Kita lebih menikmati saat melihat status teman, saat berkomentar, menulis wall, curhat di media sosial atau sekedar melihat prank yang sedang usil, yang tidak jarang menzhālimi orang lain atau membuat kaget orang lain.

Semuanya terasa lebih nikmat dari pada membaca Al Qur’ān.

Padahal Al Qur’ān bukanlah surat biasa. Lebih dari sekedar surat cinta dari istri, bahkan lebih dari sekedar SK pengangkatan pegawai negeri.

Al Qur’ān adalah sebuah surat yang Allah turunkan dari langit ke tujuh untuk kebahagian seorang hamba di dunia dan di akhirat.

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

“Dan Kami turunkan dari Al Qur’ān, suatu yang bisa menjadi penawar dan bisa menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’ān itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zhālim selain kerugian.” (QS Al Isrā’: 82)

Al Qur’ān bisa menjadi pemberi syafā’at bagi pembacanya:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

“Bacalah Al Qur’ān, karena dia nanti akan datang pada hari kiamat dalam rangka memberikan syafā’at kepada pembacanya.” (Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 804)

Al Qur’ān pun bisa menyelamatkan dari kesengsaraan adzab kubur.

Shahābat Ibnu Mas’ūd radhiyallāhu ta’āla ‘anhu pernah menyampaikan:

من قرأ تبارك الذي بيده الملك كل ليلة منعه الله عز وجل بها من عذاب القبر

“Siapa yang membaca surat Tabārak (Al Mulk) setiap malam, maka Allāh akan menghindarkannya dari adzab kubur.”

Kemudian Ibnu Mas’ūd radhiyallāhu ta’āla ‘anhu berkata:

وكنا في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم نسميها المانعة

“Dan pada masa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dulu, kami menamainya dengan Al Māni’ah.”

⇒ Al Māni’ah artinya adalah penghalang.

Sehingga kita harusnya punya prioritas utama.

Selakan waktu untuk membaca Al Qur’ān, selakan waktu untuk mentadaburinya. Tanyakan kepada guru, apa saja yang belum anda pahami dari kitāb tersebut. Karena kitāb tersebut lebih dari sekedar surat cinta, lebih dari sedekar SK.

Kitāb tersebut adalah petunjuk kepada jalan yang bisa menyampaikan seorang kepada kenikmatan abadi dan menjauhkan dari siksa api neraka yang tidak akan pernah padam nyalanya.

Semoga bermanfaat.

Wallāhu Ta’āla A’lam bish Shawwāb.

Wa shallallāhu ‘alā nabiyyina Muhammad

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *