Home > Bimbingan Islam > Adab Sosial Media > Halaqah 03 – Adab Menerima Dan Menyebarkan Berita

Halaqah 03 – Adab Menerima Dan Menyebarkan Berita


🌍 BimbinganIslam.com
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Adab Sosial Media

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد الذي جعل من يريده بخير فقيها في الدين

Segala puji bagi Allāh yang jika Dia menghendaki kebaikan pada seorang hamba, akan dibuatnya faham dalam agama.

والصلاة والسلام على أشرف الخلق وسيد المرسلين نبينا محمد وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين

Kemudian shalawat dan salam semoga selalu tercurah dan terlimpahkan kepada makhluk termulia, pemimpin para rasūl, nabi kita nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam begitu juga kepada para keluarga, shahābat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat nanti.

أما بعد

Karena kita akan sering bergelut dengan dunia online, dunia ilmu, dunia kabar dan berita, maka pada kesempatan kali ini kita akan mecoba untuk mengupas sedikit tentang firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla dalam surat Al Hujurāt ayat 6 yang berkaitan dengan adab menerima dan menyebarkan berita.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang yang fāsiq membawa berita. “

Apa yang Allāh perintahkan ?

فَتَبَيَّنُوا

“Periksalah terlebih dahulu.”

Periksalah terlebih dahulu kebenarannya. Supaya apa ?

أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ

“Supaya kalian tidak merugikan suatu kaum (tidak merugikan sebagian orang dengan sebuah berita), dengan sebuah berbuatan yang bodoh, (karena telah menyebarkan berita yang belum pasti kebenarannya).”

فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Sehingga kalian akan menyesali apa yang kalian perbuat.”

Pada ayat ini, Allāh memerintahkan kepada kaum mukminin dengan memanggilnya terlebih dahulu.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا

“Wahai orang-orang yang beriman.”

Ibnu Mas’ūd radhiyallāhu ta’āla ‘anhu, seorang shahābat yang bacaan Al Qur’ānnya sama dengan bacaan Al Qur’ān malāikat Jibrīl mengatakan:

Jika ada firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla, “Wahai orang-orang yang beriman,” maka pasanglah telinga dan perhatian, karena akan ada kebaikan yang diperintahkan atau akan ada kejelekan yang dilarang.

Oleh karena itu, mari kita mencoba untuk membahas sebentar tentang firman Allāh Ta’āla ini.

Dalam ayat ini Allāh Subhānahu wa Ta’āla memerintahkan sesuatu yang sangat penting.

إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

“Jika datang kepadamu seorang yang fāsiq membawa berita, periksalah terlebih dahulu kebenarannya.”

Pada perintah Allāh di atas sangat pantas untuk kita renungkan lalu kita amalkan pada masa sekarang ini. Karena pada zaman yang serba canggih ini, perkataan, tulisan, komentar dan yang semisalnya, sangat mudah sekali untuk tersebar.

Dan terkadang media itu bisa merubah sesuatu yang benar menjadi salah atau sesuatu yang salah menjadi benar.

Sesuatu yang harusnya A, bisa berubah menjadi B, yang B bisa menjadi A.

Seorang yang teraniaya bisa menjadi penganiaya, dan penganiaya bisa menjadi teraniaya, itulah media zaman ini.

Sehingga kita sangat perlu untuk berhati-hati dalam menerima kabar berita, harus selektif dan harus kroscek terlebih dahulu.

Oleh karena itu, dahulu Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah bersabda dalam hadīts riwayat Muslim:

كفى بالمرء كذبا أن يحدث بكل ما سمع

“Cukupkan seorang itu telah berbuat dusta, jika ia memiliki kebiasaan selalu menyampaikan kepada orang lain segala hal yang ia dengar.”

Dalam riwayat lain yang dishahīhkan oleh Syaikh Albāniy dalam Silsilah Ash Shahīhain nomor 2025. Hadītsnya berbunyi:

كفى بالمرء إثما أن يحدث بكل ما سمع

“Cukuplah seorang itu telah berbuat dosa, jika ia selalu membicarakan atau menyampaikan apa yang telah ia dengar.”

Dua hadīts ini memberikan peringatan kepada kita, agar hati-hati dalam menyampaikan kabar, dalam meyakini sesuatu, kita harus kritis:

Apakah kabar itu benar?

Siapa yang mengatakan?

Dari mana pemikiran tersebut?

Dan pertanyan-pertanyaan kritis lainnya.

Jika itu masalah agama, kita bertanya:

Apa dasarnya?

Apa dalīlnya dari kitāb dan sunnah ?

Kemudian, dari mana orang yang mengatakannya dahulu belajarnya?

Dari siapa dia mengambil ilmu?

Dan lain sebagainya.

Semuanya butuh dengan kroscek, terutama pada masa ini. Supaya kita tidak menyesal karena telah mengabarkan hal yang berlawanan dengan kebenaran, sehingga ada orang yang akan terzhālimi.

Oleh karena itu Allāh berfirman dalam ayat tadi:

أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Supaya kalian tidak merugikan suatu kaum, sehingga kalian akan menyesali apa yang kalian perbuat.”

Dengan kroscek terlebih dahulu, seorang tidak akan menyesal jika telah menyebarkan kabar atau berita atau ilmu yang telah ia telaah.

Itulah adab kita dalam menerima dan menyebarkan berita.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memudahkan kita untuk selalu berhati-hati dalam setiap saat dan waktu, sehingga kita bukan menjadi seorang yang suka mengabarkan kepada orang lain segala hal yang kita dengar kecuali setelah kita kroscek, telah kita pastikan kebenarannya terlebih dahulu.

Semoga bermanfaat.

Wallāhu Ta’āla A’lam bish Shawwāb.

Wa shallallāhu ‘alā nabiyyina Muhammad

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *