Halaqah 114 | Pembahasan Hadits Ali ibn Husain ibn Ali ibn Abi Thalib
Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-114 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauhīd alladzhī huwa haqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muhammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī rahimahullāh.
Masuk kita pada bab yang ke-22 yang diberi judul oleh Syaikh dengan ucapan beliau:
بَابُ مَا جَاءَ فِي حِمَايَةِ الْمُصْطَفَى جَنَابَ التَّوْحِيدِ، وَسَدِّهِ كُلَّ طَرِيقٍ يُوصِلُ إِلَى الشِّرْكِ
Bab apa-apa yang datang (maksudnya adalah dalil-dalil yang datang) tentang usaha Nabi ﷺ dalam melindungi tauhid dan usaha Beliau dalam menutup seluruh jalan yang bisa menyampaikan kepada kesyirikan.
Beliau rahimahullāh mendatangkan satu ayat dan dua hadits. Hadits yang kedua:
وَعَنْ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ
Dan dari Ali ibn Husain (beliau adalah Ali ibn Husain ibn Ali bin Abi Thalib, anak dari cucu Nabi ﷺ).
أَنَّهُ رَأَى رَجُلًا يَجِيءُ إِلَى فُرْجَةٍ كَانَتْ عِنْدَ قَبْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَدْخُلُ فِيهَا، فَيَدْعُو
Karena beliau tinggal di dekat kuburan Nabi ﷺ (rumah ‘Aisyah) karena beliau adalah anak dari cucu Nabi ﷺ, dan rumah Fathimah (rumah Ali radhiyallāhu ta’ālā ‘anhu) dekat dari rumah ‘Aisyah radhiyallāhu ta’ālā ‘anhā yang di situ ada kuburan Nabi ﷺ)
Beliau suatu saat melihat seorang laki-laki datang ke sebuah celah yang ada di sekitar kuburan Nabi ﷺ. Dia masuk ke dalam celah tadi kemudian berdo’a (berdo’a kepada Allāh ﷻ tapi di celah-celah, dan itu ada di dekat kuburan Nabi ﷺ).
فَنَهَاهُ
Maka Ali bin Husein beliau melarang, “Jangan engkau lakukan yang seperti ini.”
وَقَالَ: أَلَا أُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا سَمِعْتُهُ مِنْ أَبِي، عَنْ جَدِّي عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
Beliau mengatakan, “Maukah aku beritahukan kepadamu sebuah hadits yang aku mendengar hadits ini dari bapakku (yaitu Husain) dari kakekku (yaitu Ali bin Abi Thalib) dari Rasulullāh ﷺ, bahwasanya Beliau mengatakan.”
لَا تَتَّخِذُوا قَبْرِي عِيدًا
Janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai ‘ied (yaitu tempat yang sering diziarahi pada kala tertentu atau pada periode tertentu).
Bahkan sebagian orang ada yang merutinkan sehari itu mesti dia berziarah ke kuburan nabi. Setiap subuh atau setiap dhuhur atau setiap maghrib, maka ini dilarang oleh Nabi ﷺ karena ini menjadi pintu yang bisa menjerumuskan seseorang ke dalam kesyirikan.
وَلَا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا
Dan janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan.
فَإِنَّ تَسْلِيمَكُمْ يَبْلُغُنِي أَيْنَ كُنْتُمْ
Karena sesungguhnya salam kalian itu akan sampai kepadaku dimanapun kalian berada.
Berarti ini semakna dengan hadits yang sebelumnya. Kalau yang sebelumnya disebutkan shalawat maka di sini disebutkan salam. Dan kita diperintahkan untuk mengucapkan shalawat dan salam kepada Rasulullāh ﷺ.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kalian mengucapkan shalawat untuk nabi dan ucapkanlah salam untuk beliau.
Dan dua-duanya, dimanapun kita membacanya, kita mengatakan shallallāhu ‘alaihi wasallam dimanapun kita berada, maka itu akan sampai kepada Nabi ﷺ. Bukan berarti Beliau mendengar shalawat dan salam kita, tidak. Tapi shalawat dan salam yang kita ucapkan ini akan dibawa oleh malaikat dan disampaikan kepada Beliau ﷺ. Maka hendaklah kita memperbanyak shalawat dan salam dimanapun kita berada.
Jadi hadits ini semakna dengan hadits yang sebelumnya. Cuma di sini, di antara faedah yang bisa kita ambil, lihat bagaimana seorang ahlul bait, beliau adalah Ali bin Husain, yang beliau memerangi kesyirikan dan tidak ingin ada orang yang berlebihan terhadap Nabi Muhammad ﷺ. Beliau adalah termasuk ahlul bait, tapi beliau tidak senang dan beliau tidak senang kalau ada orang yang ghuluw terhadap beliau dan ghuluw terhadap Rasulullāh ﷺ.
Maka hendaklah orang-orang yang mereka berlebihan terhadap keluarga Nabi ﷺ melihat yang demikian. Mereka adalah orang-orang yang kita hormati dan kita mengetahui tentang kedudukan mereka tapi jangan sampai kita berlebihan terhadap mereka. Orang-orang yang shalih di antara ahlul bait maka mereka mengetahui tentang haramnya ghuluw terhadap ahlul bait dan itu adalah perkara yang tidak diperbolehkan dan ghuluw terhadap mereka ini menyebabkan terjerumus ke dalam kesyirikan.
رَوَاهُ فِي الْمُخْتَارَةِ
Kemudian beliau mengatakan ini diriwayatkan di dalam Al-Mukhtarah.
Dan yang dimaksud adalah Adh-Dhiya’ Al-Maqdisi rahimahullāh. Beliaulah yang menulis kitab Al-Ahadits Al-Mukhtarah, ini diriwayatkan oleh beliau di dalam kitab ini.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته