Halaqah 111 | Penjelasan Umum Bab 22

Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-111 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauhīd alladzhī huwa haqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muhammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī rahimahullāh.

Masuk kita pada bab yang baru, yaitu bab yang ke-22 yang diberi judul oleh Syaikh dengan ucapan beliau:

بَابُ مَا جَاءَ فِي حِمَايَةِ الْمُصْطَفَى جَنَابَ التَّوْحِيدِ، وَسَدِّهِ كُلَّ طَرِيقٍ يُوصِلُ إِلَى الشِّرْكِ

Bab apa-apa yang datang (maksudnya adalah dalil-dalil yang datang) tentang usaha Nabi ﷺ dalam melindungi tauhid dan usaha Beliau dalam menutup seluruh jalan yang bisa menyampaikan kepada kesyirikan.

Di dalam bab ini beliau rahimahullāh kembali menjelaskan kepada kita tentang bagaimana usaha syariat ini untuk melindungi tauhid, yang merupakan modal kita untuk masuk ke dalam surga, modal kita untuk mendapatkan syafa’at di hari kiamat. Dan bagaimana syariat ini menutup seluruh jalan, seluruh wasilah, seluruh sebab yang bisa menjerumuskan seseorang ke dalam syirik. Yang merupakan dosa yang paling besar, dosa yang apabila seseorang mati dalam keadaan membawa syirik besar maka dia akan tidak diampuni oleh Allāh ﷻ dan tempat kembalinya adalah neraka, selama-lamanya tidak akan keluar dari neraka sekejap pun.

Setelah pada bab sebelumnya disebutkan sebagian dari usaha Nabi ﷺ atau yang disebutkan di dalam syariat ini tentang sebuah sebab yang menjadikan seseorang masuk ke dalam kesyirikan dan terjerumus ke dalam kesyirikan, yaitu tentang masalah beribadah kepada Allāh ﷻ di dekat kuburan orang yang shalih. Maka ini adalah sebuah dzari’ah, sebuah wasilah, sebuah sarana, sebuah cara yang bisa menjerumuskan seseorang kepada kesyirikan, sebagaimana telah berlalu penjelasannya. Awalnya hanya beribadah kepada Allāh ﷻ di dekat kuburan orang yang shalih karena meyakini adalah kuburan yang berbarakah dan untuk mengingatkan dia supaya semangat dalam beribadah kepada Allāh ﷻ, sampai akhirnya syaithan memberikan was-was, mewahyukan, menyuruh untuk ghuluw dan berlebihan terhadap orang yang dikuburkan di kuburan tersebut. Maka akhirnya terjadilah kesyirikan.

Ini adalah penyebutan sarana dan juga sebab di antara sebab-sebab yang bisa menjerumuskan seseorang ke dalam kesyirikan, yaitu berlebihan terhadap orang-orang yang shalih dengan beribadah di dekat kuburan mereka, yang awalnya adalah ibadah untuk Allāh ﷻ akhirnya menjadi peribadatan kepada selain Allāh ﷻ. Maka bab ini dibawakan oleh penulis rahimahullāh untuk menjelaskan kembali bagaimana usaha Nabi ﷺ dan semangatnya Beliau untuk menjaga tauhid umatnya, bagaimana umatnya ini senantiasa menjaga tauhid yang merupakan modal untuk masuk ke dalam surga. Beliau ingin sekali umatnya ini masuk ke dalam surga, merasakan kenikmatan di dunia maupun di akhirat. Maka Beliau berusaha dan berusaha dengan sekuat tenaga dengan berbagai cara, bagaimana tauhid ini tetap terjaga pada diri umat ini dan tidak rusak.

Dan usaha Beliau untuk menutup segala jalan, segala akses yang bisa menjerumuskan seseorang ke dalam kesyirikan. Meskipun itu bukan sebuah kesyirikan tapi kalau itu merupakan celah, jalan, akses menuju kepada kesyirikan, dan ini adalah termasuk semangat Beliau dan keinginan Beliau supaya kita ini terjaga tauhidnya, jalan tersebut akan Beliau tutup supaya tidak ada celah dan supaya umatnya tidak membuka pintu tadi atau menempuh jalan tadi yang akhirnya nanti akan membawa mereka kepada kesyirikan sehingga batal seluruh amalan mereka, sehingga kalau mereka meninggal maka tidak diampuni oleh Allāh ﷻ, tidak akan masuk ke dalam surga dan tempat kembali mereka adalah neraka, na’udzubillāhi min dzalik.

Akan disebutkan dalam bab ini dalil-dalil tentang usaha Nabi ﷺ.

بَابُ مَا جَاءَ فِي حِمَايَةِ الْمُصْطَفَى

Dalil-dalil yang menunjukkan tentang himayah, himayah itu artinya adalah menjaga.

Kalau di dalam bahasa Arab itu ada istilah hima, hima itu adalah suatu daerah yang dikhususkan oleh seorang penguasa untuk hewan gembalaan atau hewan-hewan ternak milik negara misalnya. Seperti sabda Nabi ﷺ likulli malikin hima, setiap raja itu memiliki hima yaitu memiliki daerah tertentu tidak boleh bagi rakyat untuk menggembala di tempat tersebut.

Nabi ﷺ, Beliau berusaha untuk melindungi (himayah artinya adalah melindungi). Janabat tauhid, melindungi tauhid. Beliau ﷺ memiliki berbagai usaha dengan tindakan Beliau atau dengan ucapan Beliau untuk melindungi tauhid dan mencegah dari berbagai jenis kesyirikan.

Kenapa di sini Beliau ﷺ menutup dan melindungi umatnya supaya tidak terjerumus ke dalam kesyirikan? Karena jalan tersebut atau sarana tersebut akan menghancurkan dan membinasakan mereka didalam agama mereka, maka Beliau ﷺ berusaha untuk menutupnya, berusaha untuk melindungi umatnya sehingga tidak terjerumus ke dalam kesyirikan tersebut.

Dan kenapa di sini disebutkan al-musthafa? Dan al-musthafa di sini adalah nama lain dari Nabi Muhammad ﷺ. Beliau adalah Al-Musthafa yang artinya adalah yang terpilih. Kenapa di sini disebutkan Nabi ﷺ, di sana ada sebabnya? Di antaranya yang pertama karena Beliau ﷺ adalah yang pertama kali melakukan perlindungan ini. Sehingga disebutkan di sini himayatul musthafa (perlindungan Beliau ﷺ) karena Beliau yang pertama kali melakukan perlindungan ini.

Kemudian yang kedua kenapa di sini disebutkan Nabi ﷺ? Karena banyak orang yang ghuluw terhadap Nabi ﷺ, berlebihan kepada Nabi ﷺ, ini adalah sebagaimana telah berlalu, ghuluwnya seseorang terhadap orang shalih, ini merupakan sebab seseorang terjerumus ke dalam kesyirikan akhirnya. Sehingga kalau kita tahu nabi saja ﷺ Beliau melarang dan Beliau berusaha untuk menjaga tauhid, lalu bagaimana seseorang ghuluw terhadap Nabi ﷺ, Beliau sendiri melarang kita untuk ghuluw.

Dan Musthafa artinya adalah yang dipilih. Disebutkan di dalam hadits bahwasanya Nabi ﷺ mengatakan:

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ، وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ، وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ، وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ

Sesungguhnya Allāh ﷻ memilih dari keturunan Isma’il, Kinanah (isthafa artinya adalah memilih). Keturunan Isma’il banyak tapi Allāh ﷻ pilih siapa yang terbaik di antara mereka, maka dipilihlah Kinanah. Kemudian Allāh ﷻ memilih dari Kinanah (Kinanah adalah yang terpilih dan Kinanah memiliki banyak keturunan) maka Allāh ﷻ memilih yang paling baik dari keturunan Kinanah (mereka adalah orang-orang Quraisy). Dan Allāh ﷻ memilih dari orang-orang Quraisy Bani Hasyim (anak keturunan Hasyim karena orang-orang Quraisy sendiri bertingkat-tingkat. Allāh ﷻ memilih yang terbaik di antara mereka yaitu Bani Hasyim). Nah di antara Bani Hasyim, anak keturunan Hasyim ada yang paling baik, yaitu Rasulullāh ﷺ. Washthafani min Bani Hasyim, dan Allāh ﷻ memilihku di antara Bani Hasyim.

Menunjukkan bahwasanya Beliau ﷺ adalah yang terbaik, yang terpilih, sehingga di sini disebutkan Al-Musthafa (orang yang terpilih). Dan Allāh ﷻ mengatakan:

اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ

Allāh ﷻ memilih dari kalangan malaikat dan juga dari kalangan manusia rusulan (para rasul).

Jelas bahwasanya para nabi dan rasul, mereka adalah orang-orang yang terpilih.

Janabat tauhid, yaitu tauhid itu sendiri. Perlindungan Nabi ﷺ terhadap tauhid, dari apa? Dari apa yang membatalkan tauhid, itu yang pertama. Dan dari yang mengurangi tauhid. Karena tauhid yang sudah beliau dakwahkan ini, ini bisa batal atau bisa berkurang, batal artinya sampai hilang dan gugur dan bisa berkurang maksudnya adalah berkurang kualitasnya. Dan itu ada sebabnya. Makanya Beliau ﷺ berusaha untuk, bagaimana tauhid ini tidak batal dan bahkan tidak berkurang. Beliau sampaikan kepada umat perkara-perkara yang bisa membatalkan tauhid dan apa yang bisa mengurangi tauhid.

وَسَدِّهِ كُلَّ طَرِيقٍ يُوصِلُ إِلَى الشِّرْكِ

Dan usaha Beliau untuk menutup semua jalan yang bisa menyampaikan seseorang kepada kesyirikan.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته