Halaqah 107 | Pembahasan Hadits Shahih Dari Al-Muwaththa’ Imam Malik

Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-106 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauhīd alladzhī huwa haqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muhammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī rahimahullāh.

Beliau rahimahullāh mendatangkan beberapa dalil yang menunjukkan bahwasanya berlebihan terhadap kuburan orang shalih ini menjadikan kuburan tadi sebagai sesembahan yang disembah selain Allāh ﷻ. Beliau mengatakan:

رَوَى مَالِكٌ فِي الْمُوَطَّإِ

Diriwayatkan oleh Imam Malik di dalam Al-Muwaththa’.

Al-Imam Malik, beliau adalah gurunya Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullāh, Imam Daril Hijrah, beliau adalah imam kota Madinah di zaman beliau. Dan beliau termasuk di antara imam-imam yang mazhabnya tersebar di dunia, selain Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah. Di dalam kitab beliau Al-Muwaththa’, dan ini adalah kitab yang ditulis sebelum adanya Musnad Ahmad, sebelum adanya Shahih Bukhari, Shahih Muslim. Dan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullāh pernah belajar kepada Imam Malik bahkan menghafal kitab beliau Al-Muwaththa’ ini. Semoga Allāh ﷻ merahmati semuanya.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

Bahwasanya Rasulullāh ﷺ bersabda.

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ، اشْتَدَّ غَضَبُ اللَّهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

“Ya Allāh,” kata Rasulullāh ﷺ, “Ya Allāh,” Beliau berdo’a, “janganlah Engkau jadikan kuburanku kelak watsanan yu’badu (watsan yaitu sesuatu yang disembah selain Allāh).”

Karena Beliau ﷺ inti dakwah Beliau adalah mengajak manusia untuk mengesakan Allāh ﷻ di dalam ibadah. Beliau tidak ingin kalau setelah meninggal dunia kuburan Beliau dilebih-lebihkan oleh manusia kemudian akhirnya menjadi sesuatu yang disembah selain Allāh ﷻ.

Dan ini menunjukkan tentang pentingnya do’a. Seseorang berdo’a kepada Allāh ﷻ dalam setiap hajatnya, termasuk di antaranya berdo’a untuk kebaikan manusia, bagaimana supaya mereka lurus di atas agama Allāh ﷻ, istiqamah di atas tauhid. Maka Beliau ﷺ berdo’a jangan sampai kuburan Beliau ini dijadikan sesembahan oleh manusia. Nah do’a ini menunjukkan bahwasanya kuburan ini bisa menjadi sesuatu yang disembah. Buktinya Nabi ﷺ berdo’a, “Ya Allāh, janganlah Engkau jadikan kuburanku ini sebagai sesembahan yang disembah.” Tentunya Beliau berdo’a, meminta kepada Allāh ﷻ perlindungan dari sesuatu yang mungkin saja terjadi di umat ini. Yaitu adanya penyembahan terhadap kuburan.

Karena sebagian orang itu menolak dan mengatakan tidak mungkin kuburan itu menjadi sesembahan. Nabi ﷺ di sini berdo’a kepada Allāh ﷻ, “Janganlah ya Allāh Engkau jadikan kuburanku ini sebagai sesuatu yang disembah.” Dan Allāh ﷻ mengabulkan do’a Beliau, dan ini menunjukkan tentang pentingnya seseorang berdo’a kepada Allāh ﷻ khususnya yang berkaitan dengan masalah penjagaan diri dari kesyirikan.

Dahulu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam beliau mengatakan:

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

Ya Allāh jauhkanlah aku dan anak-anakku dari menyembah berhala.

Di sini Rasulullāh ﷺ berdo’a kepada Allāh ﷻ meminta kepada Allāh ﷻ jangan menjadikan kuburan Beliau sebagai sesembahan yang disembah, menunjukkan bahwasanya ada di sana orang yang menjadikan kuburan sebagai sesembahan. Dan itu terjadi dan kita lihat. Orang yang datang ke kuburan dari tempat yang jauh kemudian meminta kepada ahlul kubur, itu ada. Menjadikan kuburan sebagai sesuatu yang disembah.

Kemudian setelahnya Beliau menyebutkan tentang sebab dan juga akibat dari sebab tersebut.

اشْتَدَّ غَضَبُ اللَّهِ

Sungguh sangat dahsyat kemarahan Allāh ﷻ.

Kepada siapa?

عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

Allāh ﷻ sangat marah kepada sebuah kaum yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid (yaitu sebagai tempat ibadah).

Lihat di sini Nabi ﷺ awalnya berdo’a mengatakan, “Ya Allāh janganlah Engkau jadikan kuburanku sebagai sesembahan yang disembah selain Allāh.” Kemudian Beliau menyebutkan di antara wasilah, di antara sebab yang bisa menjadikan kuburan Nabi ﷺ itu disembah, apa wasilahnya? Menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah. Awalnya menjadikan kuburan tadi untuk beribadah kepada Allāh ﷻ, kemudian akhirnya menyembah kepada kuburan tadi. Awalnya ibadahnya kepada Allāh ﷻ, cuma di samping kuburan orang yang shalih. Setelah itu bertahap, berkembang akhirnya menjadi penyembahan terhadap orang shalih.

Allāh ﷻ marah dengan orang-orang yang seperti ini, yang awalnya beribadah kepada Allāh ﷻ saja tapi di samping kuburan orang yang shalih. Isytadda ghadhabullāh, sangat besar amarah Allāh ﷻ kepada sebuah kaum yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah. Padahal itu kuburan nabi, lalu bagaimana dengan kuburan selain nabi yang tentunya derajat mereka lebih bawah daripada itu? Kuburan nabi saja Allāh ﷻ marah kepada kaum yang menjadikan kuburan nabi sebagai tempat ibadah.

Nah ini menunjukkan bahwasanya di antara yang mengantarkan kepada menjadikan kuburan itu sebagai sesembahan selain Allāh ﷻ adalah dengan menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah. Makanya beliau mengatakan apa-apa yang datang bahwasanya ghuluw terhadap kuburan orang shalih ini bisa menjadikan dia sesembahan yang disembah selain Allāh ﷻ.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Malik di dalam kitab beliau Al-Muwaththa’, sanadnya adalah sanad yang dha’if karena mursal, akan tetapi dia memiliki syawahid, ia memiliki syawahid sehingga dengannya hadits ini menjadi hadits yang shahih.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته