Halaqah 102 | Pembahasan Hadits ‘Aisyah

Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-102 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauhīd alladzhī huwa haqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muhammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī rahimahullāh.

Beliau rahimahullāh mendatangkan dalil, dari hadits Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Bukhari dan juga Muslim, hadits yang shahih.

Beliau mengatakan:

فِي الصَّحِيحِ

Di dalam hadits yang shahih, yaitu yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا

Dari ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā (semoga Allāh ﷻ meridhai beliau).

أَنَّ أُمَّ سَلَمَةَ ذَكَرَتْ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَنِيسَةً رَأَتْهَا بِأَرْضِ الْحَبَشَةِ

Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhā menceritakan bahwasanya Ummu Salamah (ini juga istri Nabi ﷺ) menyebutkan, menceritakan untuk Rasulullāh ﷺ, sebuah gereja yang dia lihat di negeri Habasyah, yaitu di Ethiopia.

Karena Ummu Salamah ini sempat melakukan hijrah ke sana, dan ini adalah hijrah yang pertama, ke Habasyah di tempatnya Raja Najasyi, yang sebagian besar penduduknya adalah Nashara, sehingga tentunya di sana banyak tempat ibadah mereka yang dinamakan dengan kanīsah atau gereja. Maka Ummu Salamah menceritakan apa yang dia lihat kepada suami beliau yaitu Rasulullāh ﷺ.

وَمَا فِيهَا مِنَ الصُّوَرِ

Dan dia menceritakan apa yang ada di dalamnya berupa patung-patung, gambar-gambar, lukisan-lukisan.

Mungkin ada lukisan Nabi ‘Isa, atau patung Nabi ‘Isa, atau patungnya Maryam, sebagaimana yang kita lihat di negeri kita. Dia menceritakan di sana ada patung-patung, ada lukisan-lukisan.

فَقَالَ

Maka Nabi ﷺ ketika Beliau ﷺ mendengar cerita dari Ummu Salamah ini, memberikan ilmu.

Ya, kenapa sebabnya kok mereka membuat patung-patung tadi di gereja-gereja mereka?

أُولَئِكِ إِذَا مَاتَ فِيهِمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ – أَوِ الْعَبْدُ الصَّالِحُ – بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ، أُولَئِكِ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ

Mereka ini (orang-orang Nashara ini), kalau ada orang shalih yang meninggal dunia atau seorang hamba yang shalih yang meninggal dunia, maka mereka membuat di atas kuburannya masjidan.

Yang dimaksud dengan masjid adalah tempat bersujud, tempat beribadah kepada Allāh ﷻ. Ini sunnah mereka, kebiasaan mereka, kalau misalnya ada orang yang shalih yang meninggal dunia, mereka buat tempat beribadah di atas kuburan orang shalih tadi.

Kemudian mereka membuat patung tadi, patung orang shalih. Tujuannya adalah supaya mereka ketika melihat patung tadi, mereka ingat oh si fulan adalah orang yang shalih, dulu shalat malamnya sangat kuat, dulu dia sering berpuasa, dulu dia sering berinfak. Sehingga ketika melihat patung tadi, mereka berharap semangat untuk beribadah kepada Allāh ﷻ. Jadi tujuannya supaya baik dalam beribadah kepada Allāh ﷻ dengan cara melihat patung-patung tadi. Di samping itu mereka membangun bangunan di atas kuburan tadi, sebagai bentuk pengagungan, penghormatan, dan supaya ketika melihat kuburannya mereka semakin kuat beribadah. Jadi bagaimana supaya lebih semangat dalam beribadah, dengan cara melihat kuburannya, dengan cara melihat gambarnya, dengan dua cara ini. Itu kebiasaan orang-orang Nashara.

أُولَئِكِ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ

Apa kata Nabi? Apakah cara yang demikian adalah baik di sisi Allāh ﷻ, karena tujuannya adalah untuk menambah semangat dalam beribadah kepada Allāh ﷻ? Ternyata Nabi ﷺ justru mengabarkan bahwasanya mereka adalah sejelek-jelek makhluk di sisi Allāh ﷻ.

Siapa yang dimaksud oleh Nabi? Orang yang beribadah kepada Allāh ﷻ di sisi kuburan orang yang shalih, membangun tempat ibadah di atas kuburan orang yang shalih, dan mereka membuat gambar-gambar, lukisan-lukisan, patung-patung orang yang shalih yang meninggal dunia tadi. Dikatakan oleh Nabi, mereka adalah syirār, mereka adalah sejelek-jelek manusia, padahal beribadahnya kepada Allāh ﷻ, tapi karena mereka melakukan sesuatu yang ini menjadi wasilah terjadinya kesyirikan.

Ingat bagaimana kaumnya Nabi Nuh pertama kali mereka terjerumus ke dalam kesyirikan, sebabnya adalah karena membangun patung-patung tadi, membuat patung-patung tadi, akhirnya terjadilah kesyirikan pertama kali. Apa yang dilakukan oleh orang-orang Nashara, inilah yang menjadikan mereka akhirnya melakukan peribadatan kepada selain Allāh ﷻ. Awalnya beribadah kepada Allāh ﷻ, akhirnya beribadah kepada selain Allāh ﷻ dengan sebab ini, karena melakukan sesuatu yang tidak diajarkan oleh Nabi.

Cara untuk menambah semangat dalam beribadah bukan dengan seperti itu. Kita membaca sirah dan juga biografi para imam-imam kita, para ulama kita, itu akan menambah kita semangat untuk belajar, untuk beribadah, untuk taat kepada Allāh ﷻ. Kita membahas biografi para nabi, orang-orang yang shalih, membaca Al-Qur’an, membaca hadits, menghadiri majelis ilmu, itulah obat untuk supaya senantiasa istiqamah dan jauh dari kemalasan. Bukan dengan membuat sesuatu yang baru, membuat tempat ibadah di atas kuburan orang yang shalih, atau melukis gambar mereka atau membuat patung mereka, bukan dengan cara seperti ini seseorang mendapatkan semangat yang baru di dalam beribadah kepada Allāh ﷻ. Bukan kebaikan yang dia dapatkan, justru menjadi orang yang paling jelek.

Nah kalau yang demikian keadaannya saja, dia adalah syirārul khalq, lalu bagaimana dengan orang yang benar-benar menyembah kepada orang shalih tersebut. Tentunya keadaannya lebih dahsyat, ancamannya lebih besar. Lalu yang pertama tadi dia menyembah Allāh ﷻ tapi di samping kuburan orang yang shalih belum masuk kepada kesyirikan itu saja sudah syirārul khalq, apalagi kalau sudah sampai kepada kesyirikan. Ini menunjukkan tentang bahayanya perkara ini.

Kemudian Syaikh mengatakan:

فَهَؤُلَاءِ جَمَعُوا بَيْنَ الْفِتْنَتَيْنِ: فِتْنَةِ الْقُبُورِ وَفِتْنَةِ التَّمَاثِيلِ

Mereka telah mengumpulkan antara dua fitnah. Satu fitnah saja sudah bahaya. Mereka mengumpulkan dua fitnah, pertama adalah fitnatul qubūr, yaitu mengagungkan kuburan kemudian membangun di atasnya bangunan. Kemudian yang kedua adalah fitnatut tamātsīl, fitnah lukisan-lukisan atau fitnah patung-patung.

Satu saja itu sudah bisa menjadi sebab seseorang terjerumus ke dalam kesyirikan apalagi sampai ada dua, mengagungkan kuburan dan membangun patung-patung untuk orang yang shalih tersebut.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته