Halaqah 93 | Pembahasan Hadits Ibnul Musayyab Bag 2
Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-93 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauhīd alladzhī huwa haqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muhammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī rahimahullāh.
Beliau mengatakan:
وَفِي الصَّحِيحِ
Di dalam hadits yang shahih. Dan hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dan juga Muslim.
فَقَالَ لَهُ
Maka Rasulullāh ﷺ mengatakan kepada pamannya.
يَا عَمِّ
Wahai pamanku. Panggilan yang lembut. Dan ini menunjukkan di dalam dakwah kita harus kedepankan kelembutan. Berbicara kepada orang-orang yang kita dakwahi. Dan kelembutan tidak ada pada sesuatu kecuali akan menghiasi.
الرِّفْقُ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ
Kelembutan tidak ada pada sesuatu kecuali akan menghiasi.
وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ
Dan tidak diambil dari sesuatu kecuali akan memperburuk sesuatu tersebut.
Meskipun dia adalah orang yang kafir, tapi dalam panggilan tidak masalah kita memanggil dia dengan panggilan yang menunjukkan kelembutan. Nabi ﷺ ketika mendakwahi Raja Romawi mengatakan ‘Azhīmar-Rūm (Pembesar orang-orang Romawi). Dan ini adalah uslub di dalam dakwah, kita menggunakan berbagai cara bagaimana supaya kebenaran ini sampai kepada mad‘ū kita. Karena ketika seseorang mendengar orang berbicara kepadanya dengan kelembutan, maka dia memahami bahwasanya orang ini ingin kebaikan, bukan ingin memudharati dia, bukan ingin menyampaikan keburukan kepada seseorang. Sehingga diharapkan ketika kita mengatakan ucapan yang lembut ketika berdakwah, panggilan yang baik ketika berdakwah, ini menjadi sebab seseorang tersebut mau menerima ucapan kita dan akhirnya dia mau menerima kebenaran.
قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
Katakanlah ucapan Lā ilāha illallāh.
Katakanlah Lā ilāha illallāh. Yaitu ucapkan dengan lisanmu, ucapkan Lā ilāha illallāh. Kalimatut-tauhīd yang maknanya adalah janji untuk menyembah Allāh semata dan meninggalkan segala sesuatu yang disembah selain Allāh. Yaitu sebelum engkau meninggal dunia, ucapkan sekarang kalimat Lā ilāha illallāh. Kemudian Beliau memberikan sebab dan keutamaan dari kalimat Lā ilāha illallāh, supaya kalau didengar oleh Abu Thalib, dia mau menerima dan mau mengucapkan Lā ilāha illallāh ini. Ini menunjukkan bahwasanya seorang da’i menyuruh dan dia menyebutkan keutamaannya supaya tergugah orang yang mendengar tadi untuk melaksanakan apa yang diucapkan oleh da’i tadi.
كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ
Sebuah kalimat yang aku akan berhujah untukmu dengan kalimat tersebut di sisi Allāh. Yaitu aku akan membelamu kelak di hari kiamat, aku akan membelamu karena engkau mengucapkan Lā ilāha illallāh di akhir hayatmu meskipun sebelumnya engkau belum pernah mengucapkan kalimat ini. Dan Abu Thalib tahu tentang kebenaran agama Nabi Muhammad ﷺ. Sebagaimana pernah dia ucapkan:
لَقَدْ عَلِمْتُ أَنَّ دِينَ مُحَمَّدٍ مِنْ خَيْرِ أَدْيَانِ الْبَرِيَّةِ دِينًا. وَلَوْلَا الْمَلَامَةُ وَحَذَارُ مَسَبَّةٍ لَوَجَدْتَنِي سَمْحًا بِذَاكَ مُبِينًا
Sungguh aku telah tahu bahwasanya agama Muhammad adalah sebaik-baik agama.
Ya, beliau tahu karena beliau pamannya dan sangat dekat dengan Nabi ﷺ dan mungkin banyak mendengar dari Nabi ﷺ dan didakwahi oleh Nabi ﷺ. Thayyib, beliau tahu. Lalu kenapa beliau tidak masuk Islam sampai akhir hayatnya, sampai dalam keadaan sakit? Karena laulal-malāmah, kalau bukan karena takut dicela oleh kaumnya.
Karena kalau sampai dia masuk Islam, pikiran dia ya, nanti kaumnya akan mengatakan, “Lho, kamu sebagai pemimpin Quraisy kok malah meninggalkan agama nenek moyangmu? Lho, selama ini kamu berarti menipu kami, mengajak kami kepada sesuatu yang tidak benar? Ya berarti kamu adalah pemimpin yang tidak bertanggung jawab.” Nah, ucapan-ucapan seperti ini tidak diinginkan oleh Abu Thalib. Laulal-malāmatu wa hadzāru masabbatin. Kalau bukan karena takut dan waspada, takut dicela oleh manusia, niscaya engkau akan mendapatkan aku orang yang mengikuti agama tersebut.
Ini menunjukkan apa yang ada di dalam hati Abu Thalib, rasa takut dicela oleh manusia. Dan ini mohon maaf ada di sebagian kita, yang sudah ditokohkan mungkin oleh masyarakatnya, dan dia tahu bahwasanya dakwah ini (dakwah tauhid) ini adalah dakwah yang benar. Tapi karena takut dengan celaan manusia, akhirnya dia tetap bersama mereka, tidak mau meninggalkan ajaran tersebut. Dan mungkin sampai dia meninggal dunia demikian. Tidak boleh seseorang takut kepada manusia. Dia harus takut kepada Allāh ﷻ. Masuk Islam dan ikutilah kebenaran, dan ajak kaum kita untuk masuk Islam dan mengikuti kebenaran.
Sampaikan, “Iya memang saya dulu salah, saya adalah manusia, saya dulu salah dan ini adalah kekurangan saya, dan sekarang saya sudah mengetahui kebenaran, maka ayo kalian juga mengikuti kebenaran tersebut bersama saya sebagaimana dulu kalian bersama saya dalam kebatilan, sekarang ayo kita bersama-sama bertaubat kembali kepada Allāh mengikuti kebenaran ini.” Ini harusnya yang dilakukan oleh seseorang. Dan insya Allāh, kalau seseorang meninggalkan sesuatu karena Allāh, Allāh tidak akan menghinakan dia. Sampai seandainya manusia mencela, tidak masalah yang penting Allāh ﷻ ridha kepada kita. Dan kalau Allāh ﷻ sudah ridha dan cinta kepada seseorang, maka Allāh ﷻ akan menjadikan hati-hati manusia ini cinta dan ridha kepada kita.
قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ
Ucapkan Lā ilāha illallāh, sebuah kalimat yang dengannya aku akan membelamu di hari kiamat.
Dan ini menunjukkan tentang disyariatkannya talqīn. Kapan waktunya? Sebelum orang tersebut meninggal dunia. Ajarkan dia kalimat Lā ilāha illallāh karena ketika dia mengucapkan Lā ilāha illallāh sebelum dia meninggal dunia maka sebagaimana dalam hadits:
مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
Barang siapa yang akhir ucapannya adalah kalimat Lā ilāha illallāh maka dia akan masuk ke dalam surga.
Meskipun sebelumnya dia adalah dalam keadaan kufur, seperti Abu Thalib. Dalam keadaan syirik, dalam keadaan kufur, tapi seandainya di akhir hayat dia mengucapkan Lā ilāha illallāh, maka dia akan masuk ke dalam surga. Dan ini menunjukkan bahwasanya talqīn bukan hanya untuk orang Islam saja. Antum men-talqīn orang kafir sekalipun, kalau kita mendapatkan dia di depan kita dalam keadaan menghadapi kematian dan dia adalah orang non-muslim misalnya, maka tidak masalah kita men-talqīn dia. “Ya fulan, ucapkan Lā ilāha illallāh.” Siapa tahu dia mengucapkan Lā ilāha illallāh di akhir hayatnya sehingga dia selamat dari kekekalan di dalam neraka.
Dan ini menunjukkan tentang bagaimana semangat Nabi ﷺ di dalam berdakwah. Dan dakwah sampai di akhir waktu. Ini menjelang kematian dan Nabi ﷺ masih mendakwahi pamannya. Berharap kalau pamannya mendapatkan hidayah di akhir kehidupan dia. Meskipun sebelumnya Nabi ﷺ sudah mendakwahi beliau berulang kali, tapi beliau tidak putus asa. Sampai di akhir hayat Abu Thalib, Nabi ﷺ mendakwahi beliau.
Dan ini menunjukkan tentang keutamaan kalimat Lā ilāha illallāh, dengannya Allāh ﷻ akan menyelamatkan kita. Dan ini adalah syarat untuk mendapatkan syafaat, dan sudah berlalu bahwasanya syafaat itu diberikan untuk orang yang Allāh ridhai, yaitu orang yang mengatakan Lā ilāha illallāh. Konsekuen dengan maknanya. Sehingga Nabi ﷺ mengatakan di sini, “Ucapkan Lā ilāha illallāh wahai pamanku, sebuah kalimat yang dengannya aku akan membelamu di hari kiamat.” Menunjukkan tentang syarat orang mendapatkan syafaat di hari kiamat adalah kalau dia termasuk ahlut-tauhīd.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته