Halaqah 91 | Penjelasan Umum Bab 18

Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-91 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauhīd alladzhī huwa haqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muhammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī rahimahullāh.

Dan insya Allāh kita akan masuk pada bab yang baru, bab yang ke-18. Beliau mengatakan:

بَابُ قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ

Bab firman Allāh ﷻ: “Sesungguhnya engkau tidak memberikan hidayah kepada orang yang engkau cintai”

Di dalam bab ini, beliau rahimahullāh ingin menguatkan kembali apa yang berkaitan dengan bab sebelumnya, yaitu bahwasanya syafaat itu hanyalah milik Allāh saja. Syafaat hanyalah milik Allāh saja, dan bahwasanya selain Allāh ﷻ, maka mereka tidak memiliki kekuasaan sedikit pun. Mereka tidak memberikan hidayah. Allāh ﷻ dengan kesempurnaan kekuasaan Allāh, Dialah yang memberikan hidayah. Allāh ﷻ Dialah yang mengizinkan untuk memberikan syafaat, dan tidak ada seorang nabi, malaikat, orang yang beriman, yang memberikan syafaat kecuali setelah diizinkan oleh Allāh ﷻ.

Maka bab ini akan menjelaskan lebih kuat dan menerangkan lebih jelas bahwasanya kekuasaan hanyalah milik Allāh ﷻ. Nabi ﷺ dengan ketinggian derajat Beliau dan kedudukan yang tinggi yang Beliau miliki di sisi Allāh ﷻ, tidak bisa memberikan hidayah kepada orang yang Beliau cintai. Lalu bagaimana dengan selain Beliau? Lalu bagaimana dengan yang dianggap sebagai wali atau orang yang shalih yang dianggap dia memiliki kedudukan di sisi Allāh? Tentunya kedudukan mereka tidak lebih tinggi daripada kedudukan Rasulullāh ﷺ. Kalau kedudukan yang tinggi yang dimiliki oleh Nabi ﷺ sendiri Beliau tidak bisa memberikan hidayah kepada orang yang Beliau cintai, lalu bagaimana dengan orang yang selain Beliau ﷺ? Tentunya mereka lebih-lebih lagi tidak bisa memberikan hidayah kepada orang yang dia cintai. Ini menunjukkan tentang lemahnya segala sesuatu yang disembah selain Allāh, baik malaikat ataupun nabi ataupun wali.

Beliau mengatakan:

Bab firman Allāh ﷻ: “Sesungguhnya engkau” – dan engkau di sini kembali kepada Nabi Muhammad ﷺ – “Sesungguhnya engkau tidak memberikan hidayah kepada orang yang engkau cintai”.

Yang dimaksud dengan tidak memberikan hidayah adalah tidak memberikan hidāyah at-taufīq (memberikan taufik), membuka hati seseorang sehingga dia mau menerima kebenaran. Menjadikan dia lapang untuk menerima Islam dan mengatakan Lā ilāha illallāh. Lā tahdī – Engkau wahai Muhammad tidak bisa memberikan hidayah yang seperti ini. Itu adalah hak Allāh ﷻ semata. Dialah yang memberikan hidayah kepada orang yang Allāh kehendaki, yang Allāh tahu bahwasanya dia berhak untuk mendapatkan hidayah tersebut. Allāh ﷻ Dialah yang lebih tahu siapa di antara makhluk-Nya yang berhak, dengan karunia Allāh ﷻ, untuk mendapatkan hidayah. Nabi Muhammad ﷺ tidak memiliki hidayah ini.

Innaka lā tahdī – sesungguhnya Engkau tidak bisa memberikan hidayah, yaitu hidāyatut-taufīq, menjadikan seseorang mau menerima agama Islam, menerima sunnah. Man ahbabta – orang yang Engkau cintai, meskipun dia adalah orang yang sangat Engkau cintai. Dan kecintaan yang dimaksud di sini adalah kecintaan yang thabī’ī, kecintaan yang lumrah dimiliki oleh manusia (tabiat manusia), dia mencintai bapaknya, mencintai ibunya, mencintai keluarganya. Ini adalah kecintaan yang thabī’ī. Di sana ada kecintaan yang lillāh ﷻ, cinta karena Allāh, yaitu cinta karena orang lain melakukan ketaatan kepada Allāh sehingga dicintai karena Allāh. Engkau tidak bisa memberikan hidayah kepada orang yang Engkau cintai. Hidayah adalah hak Allāh ﷻ.

وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهْدِى مَن يَشَآءُ ۚ

Akan tetapi Allāh ﷻ Dialah yang memberikan hidayah kepada siapa yang Allāh kehendaki. (QS. Al-Qashash: 56)

Dan kehendak Allāh adalah dengan hikmah. Allāh tahu siapa di antara mereka yang berhak untuk mendapatkan hidayah, sehingga Allāh berikan hidayah kepada mereka.

وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ

Dan Dialah Allāh ﷻ yang lebih tahu tentang siapa orang-orang yang berhak untuk mendapatkan hidayah.

Allāh lebih tahu. Ini adalah orang yang berhak untuk mendapatkan hidayah, dan ini adalah orang yang tidak berhak. Allāh berikan hidayah kepada siapa yang Allāh kehendaki. Hidāyatut-taufīq hanyalah milik Allāh ﷻ. Nah, kalau Nabi ﷺ saja tidak memiliki hidāyatut-taufīq, dan Beliau adalah manusia yang paling afdhal, lalu bagaimana dengan selain Beliau ﷺ? Tentunya lebih-lebih lagi mereka tidak memiliki jenis hidayah ini. Hidāyatut-taufīq adalah milik Allāh ﷻ saja.

Bukan milik nabi atau seorang da’i. Hidāyatut-taufīq itu adalah milik Allāh ﷻ semata.

Innaka lā tahdī man ahbabta wa lākinnallāha yahdī may yasyā’ – Sesungguhnya Engkau tidak bisa memberikan hidayah kepada orang yang Engkau cintai, akan tetapi Allāh ﷻ yang memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki.

Yang dimiliki oleh Nabi ﷺ adalah jenis hidayah yang kedua, yang dinamakan dengan hidāyatul bayān wal-irsyād. Hidayah yang maksudnya adalah menjelaskan dan juga memberikan pengarahan. Ini adalah jenis hidayah yang kedua, yaitu hidayah dengan makna apa? Menjelaskan kepada manusia tentang al-haqq, ini adalah jalan yang benar, ini adalah jalan yang salah. Wal-irsyād, memberikan pengarahan kepada mereka, mana yang terbaik. Nah, kalau yang seperti ini, Nabi ﷺ Allāh ﷻ jadikan Beliau sebagai seorang dā‘iyan wa sirājan munīrā, Beliau adalah seorang da’i yang menerangkan, yang memberikan penerangan kepada manusia. Ini dimiliki oleh Beliau ﷺ. Sehingga dalam ayat yang lain, Allāh ﷻ mengatakan:

وَإِنَّكَ لَتَهْدِىٓ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Sesungguhnya engkau sungguh-sungguh memberikan hidayah kepada jalan yang lurus. (QS. Asy-Syura: 52)

Wa innaka latahdī – Dan sesungguhnya engkau. Siapa? Nabi Muhammad ﷺ. Sungguh-sungguh memberikan hidayah kepada jalan yang lurus.

Kalau ingin jalan yang lurus, ikuti petunjuk Nabi ﷺ.

وَإِنَّ خَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ

Sesungguhnya sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ.

Petunjuk Beliau itulah yang membawa kita kepada jalan Allāh, kepada jalan yang lurus. Inilah yang dimiliki oleh Nabi ﷺ, dan ini juga yang dimiliki oleh para da’i, para juru dakwah kepada Allāh ﷻ. Adapun hidāyatut-taufīq, maka sekali lagi itu adalah milik Allāh. Kewajiban kita adalah menyampaikan, memberikan arahan, dan jangan kita merasa kitalah yang memberikan hidayah di hati mereka, yang melapangkan dada mereka untuk menerima kebenaran ini. Ini bukan kita, ini adalah hak Allāh ﷻ.

Terkadang seseorang mendakwahi keluarganya dengan segala cara yang dia miliki dalam waktu yang cukup lama, tapi ternyata mereka belum melaksanakan apa yang disampaikan. Mendengar, duduk bersama kita, dan mengatakan iya dan seterusnya, tapi secara praktiknya dia belum melaksanakan. Kembali kepada Allāh ﷻ, Allāh ﷻ Dialah yang memberikan hidayah. Dan ketika seseorang menyampaikan, meskipun tidak dilaksanakan oleh orang, tapi dia mendapatkan pahala dari apa yang dia lakukan. Mendapatkan pahala dakwah yang disebutkan di dalam firman Allāh ﷻ:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحًا وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ

Dan siapakah yang lebih baik ucapannya daripada orang yang berdakwah di jalan Allāh ﷻ, yang kemudian dia beramal saleh, dan dia mengatakan, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerahkan diri kepada Allāh ﷻ”. (QS. Fussilat: 33)

Yang penting kita sampaikan dengan cara yang terbaik, dengan akhlak yang baik, dengan bahasa yang bisa dipahami oleh orang. Kemudian setelahnya hasilnya kita serahkan kepada Allāh ﷻ. Allāh ﷻ Dialah yang memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki. Kalau dia mendapatkan hidayah alhamdulillah, yang telah memberikan kepada orang tersebut hidayah lewat kita alhamdulillah, karena dengannya kita mendapatkan pahala dengan sebab dia mendapatkan hidayah. Sebagaimana dalam hadits:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

Barang siapa yang mengajak kepada petunjuk, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikuti dia, tidak berkurang dari pahala mereka sedikit pun.

Alhamdulillah. Allāh ﷻ memberikan hidayah kepada orang tersebut lewat kita, sehingga setiap kali dia melakukan kebaikan yang itu sampai kepadanya dengan sebab kita, maka kita mendapatkan pahalanya. Kalau dia tidak mendapatkan hidayah, ya kita mendapatkan pahala berdakwah di jalan Allāh ﷻ.

Thayyib, kalau Nabi ﷺ demikian keadaannya dan para wali demikian keadaannya, lalu bagaimana seseorang masih bergantung kepada orang-orang yang shalih, para wali-wali Allāh ﷻ, kemudian meminta kepada mereka dan datang ke kuburan mereka, mengemis kepada mereka, meminta hajatnya. Nabi ﷺ dan juga para wali, mereka adalah manusia yang lemah, meskipun mereka memiliki kedudukan di sisi Allāh. Memberikan hidayah kepada orang yang dia cintai, mereka tidak mampu. Bukan ranah mereka sebagai seorang manusia, meskipun mereka adalah orang yang sangat mulia di sisi Allāh ﷻ. Maka ini menegaskan kembali tentang keyakinan kita bahwasanya syafaat itu adalah milik Allāh semata, dan para nabi, para malaikat, mereka tidak memiliki syafaat sedikit pun. Allāh ﷻ yang mengizinkan kepada salah seorang di antara mereka untuk memberikan syafaat, dan tidak ada di antara mereka yang berani untuk memberikan syafaat kecuali setelah diizinkan oleh Allāh ﷻ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته