Halaqah 86 | Penjelasan Umum Bab 17
Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-86 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauhīd alladzhī huwa haqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muhammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī rahimahullāh.
Masuk kita pada bab yang ke-17, yaitu
بَابُ الشَّفَاعَةِ
Bab tentang asy-syafā‘ah.
Yang dimaksud dengan syafā‘ah diambil dari kata asy-syafa‘ (الشَّفْعُ) dan yang dimaksud dengan asy-syafa‘ adalah genap. Lawan dari ganjil. Di sana ada asy-syafa‘ dan di sana ada al-watr (الْوَتْرُ).
وَٱلْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍۢ وَٱلشَّفْعِ وَٱلْوَتْرِ
Ada genap, ada ganjil.
Dinamakan dengan demikian, yaitu syafā‘ah dinamakan asy-syafā‘ah, karena yang dimaksud dengan syafā‘ah adalah thalabul khairi lil-ghair, meminta kebaikan untuk orang lain. Jadi orang lain yang sebelumnya dia dalam keadaan sendiri dalam meminta, datang orang lain juga meminta untuknya. Datang orang lain yang dia juga meminta untuk orang yang pertama tadi. Sehingga yang sebelumnya dia dalam keadaan sendiri sekarang menjadi dua orang. Yang sebelumnya ganjil menjadi genap. Sehingga syafā‘ah dinamakan dengan asy-syafā‘ah karena orang yang memberikan syafā‘ah itu menggenapkan dan menjadikan genap orang yang meminta. Yang sebelumnya dia dalam keadaan ganjil, dalam keadaan sendiri, satu orang, kemudian sekarang menjadi dua orang. Itu adalah secara singkat pengertian dari syafā‘ah.
Dan yang dimaksud dengan syafā‘ah di dalam bab ini adalah syafā‘ah di akhirat, di sisi Allāh. Karena syafā‘ah ada syafā‘ah di dunia dan di sana ada syafā‘ah di akhirat, yaitu di sisi Allāh ﷻ. Di dunia ada syafā‘ah, ya seseorang memberikan syafā‘ah untuk orang lain, di sisi seseorang. Misalnya seorang guru, dia memberikan syafā‘ah untuk salah seorang muridnya di hadapan kepala sekolah misalnya. Muridnya ada keperluan, ingin meminta izin di dalam jam sekolah, harus pulang untuk menengok orang tuanya misalnya. Kemudian guru memintakan izin bagi murid tersebut di hadapan kepala sekolah supaya diizinkan, maka ini adalah syafā‘ah di dunia. Allāh ﷻ berfirman:
مَّن يَشْفَعْ شَفَٰعَةً حَسَنَةً يَكُن لَّهُۥ نَصِيبٌ مِّنْهَا
Barang siapa yang memberikan syafā‘ah yang baik, maka dia akan mendapatkan bagiannya, yaitu mendapatkan bagian pahalanya. (QS. An-Nisa’: 85).
Dan Nabi ﷺ bersabda,
اشْفَعُوا تُؤْجَرُوا
Hendaklah kalian memberikan syafā‘ah (yaitu didunia), niscaya kalian akan mendapatkan pahala. Yaitu syafā‘ah yang baik.
Itu adalah syafā‘ah di dunia. Adapun syafā‘ah di akhirat, maka yang dimaksud adalah syafā‘ah di sisi Allāh. Yaitu kelak di akhirat ada hamba di antara hamba-hamba Allāh ﷻ, dia meminta kepada Allāh untuk orang lain. Seperti misalnya Nabi ﷺ kelak di Padang Mahsyar, akan meminta kepada Allāh untuk manusia semuanya. Untuk ahlul mauqif, makhluk yang mereka berada di Padang Mahsyar. Meminta kepada Allāh ﷻ supaya Allāh ﷻ menyegerakan hari keputusan bagi mereka. Ini namanya syafā‘ah di hari kiamat. Yaitu seorang hamba di antara hamba-hamba Allāh meminta kepada Allāh di hari kiamat untuk orang lain. Baik untuk memberikan manfaat kepada mereka atau menghilangkan mudharat dari mereka.
Mengapa di sini Syaikhul Islam Muhammad ibn ‘Abdil Wahhab mendatangkan bab ini? Beliau rahimahullāh mendatangkan bab ini ingin menjelaskan kepada kita bahwasanya di antara hal yang menjadikan kita harus mengesakan Allāh di dalam ibadah adalah karena Allāh ﷻ, Dialah yang memiliki syafā‘ah semuanya. Seluruh syafā‘ah di akhirat maka itu adalah milik Allāh.
Karena syafā‘ah ini banyak jenisnya di akhirat. Di sana ada syafā‘ah yang khusus untuk Nabi ﷺ, seperti syafā‘ah di Padang Mahsyar, ada syafā‘ah membukakan pintu surga, kemudian di sana ada syafā‘ah bagi orang yang harusnya masuk ke dalam neraka akhirnya dia tidak jadi masuk ke dalam neraka. Untuk yang pertama dan kedua tadi, ini khusus bagi Nabi ﷺ. Ada juga syafā‘ah yang khusus bagi Nabi ﷺ yaitu syafā‘ah beliau untuk paman beliau Abu Thalib, sehingga diringankan adzabnya.
Di sana ada syafā‘ah bagi orang yang sudah masuk ke dalam neraka untuk dikeluarkan dari neraka. Di sana ada syafā‘ah untuk mengangkat derajat. Berarti syafā‘ah di hari kiamat ini banyak, dan semuanya adalah milik Allāh. Yaitu Allāh ﷻ, Dialah yang mengizinkan. Tidak ada yang memberikan syafā‘ah di hari kiamat siapapun dia, baik nabi, atau malaikat, atau wali, kecuali setelah diizinkan oleh Allāh. Kalau Allāh tidak mengizinkan, maka mereka tidak akan bisa memberikan syafā‘ah.
Maka kalau demikian keadaannya, menunjukkan bahwasanya para malaikat, para anbiya, para wali, mereka adalah makhluk yang lemah, tidak bisa memberikan syafā‘ah untuk siapapun di hari kiamat kecuali setelah diizinkan oleh Allāh ﷻ. Kalau demikian, berarti yang harus kita sembah, yang harus kita esakan di dalam ibadah adalah Allāh ﷻ. Tidak ada yang lain. Jangan menyerahkan sebagian ibadah kepada siapapun, nabi, atau malaikat, atau wali.
Seandainya mereka memberikan syafā‘ah di hari kiamat, maka mereka tidak memberikan syafā‘ah kecuali dengan izin Allāh. Allāh mengizinkan, mereka bisa memberikan syafā‘ah untuk kita. Kalau Allāh tidak mengizinkan, maka mereka tidak mungkin memberikan syafā‘ah untuk kita. Kalau demikian maka harusnya ketergantungan kita hanyalah kepada Allāh. Jangan tergantung hati kita dengan wali karena meyakini dia adalah yang memberikan syafā‘ah, atau nabi, atau malaikat.
Sehingga sebagian orang caranya bagaimana untuk mendapatkan syafā‘ah wali, nabi, malaikat tadi? Mereka mendekatkan diri mereka kepada wali tersebut, dengan berbagai ibadah, berdoa, memuji awalnya, kemudian berdoa kepadanya, atau bahkan ada yang bernadzar untuknya, ada yang ber-i’tikaf di sekitar kuburannya. Maksudnya apa? Maksudnya kalau mereka melakukan itu semuanya, wali tersebut, nabi tersebut yang sudah meninggal dunia, dia senang dan bahagia dengan perbuatan orang tersebut. Kemudian dia ketika meminta kepada Allāh ﷻ, supaya Allāh ﷻ mengampuni orang ini, supaya Allāh ﷻ meluaskan rezekinya dan seterusnya. Karena dia adalah seorang wali, maka dia memiliki kedudukan di sisi Allāh sehingga dikabulkan permintaannya.
Ini cara sebagian orang untuk mendapatkan syafā‘ah, termasuk di antaranya adalah syafā‘ah di hari kiamat. Bagaimana cara mereka mendapatkan syafā‘ah di hari kiamat? Dengan mendekatkan diri kepada wali dan nabi atau malaikat tadi. Sehingga kelak di hari kiamat mereka akan berdoa kepada Allāh untuk orang-orang yang telah mendekatkan diri kepada mereka di dunia.
Bab ini ingin menjelaskan kepada kita bahwasanya syafā‘ah semuanya adalah milik Allāh. Apa hubungannya dengan dua bab sebelumnya? Karena di dalam dua bab sebelumnya dijelaskan tentang bagaimana lemahnya segala sesuatu yang disembah selain Allāh. Nabi ﷺ, dan sudah disebutkan dalam bab yang ke-15, bagaimana lemahnya beliau. Kemudian bab yang ke-16 bagaimana lemahnya malaikat. Dan bahwasanya rubūbiyyah adalah milik Allāh ﷻ semata. Nabi ﷺ dan juga para malaikat mereka tidak memiliki sifat rubūbiyyah sedikit pun.
Nah, mungkin ada sebagian orang mengatakan, “Oh iya, kami juga meyakini demikian, Allāh ﷻ Dialah yang mencipta, Dialah yang memberikan mudharat, memberikan manfaat. Tapi, katanya, para nabi dan juga para malaikat, mereka kan memiliki kedudukan di sisi Allāh. Sehingga kami pun melakukan ini supaya mereka memberikan syafā‘ah untuk kami di sisi Allāh. Kami tidak meyakini bahwasanya nabi yang mencipta, malaikat yang mencipta, memberikan rezeki, tidak, tapi kami melakukan ini adalah supaya mereka memberikan syafā‘ah untuk kami di sisi Allāh.”
Sehingga sangat munāsib sekali, sangat sesuai sekali Syaikh mendatangkan bab ini setelah menjelaskan tentang bahwasanya nabi dan juga para malaikat tidak memiliki sifat rubūbiyyah, mungkin saja ada orang yang berdalil dengan dalil tadi, “Kami ingin syafā‘ah mereka, bukan meyakini rubūbiyyah-nya mereka.” Ya, karena Syaikh sangat berpengalaman dan di zaman beliau banyak orang yang salah paham tentang masalah ini. Ya, masalah syafā‘ah. Dan beliau mengetahui tentang alasan-alasan mereka. Kenapa sampai mereka mendekatkan diri kepada wali, kepada nabi. Sehingga beliau munculkan di sini, di dalam kitab ini, setelah membahas tentang lemahnya nabi dan juga para malaikat, beliau membahas tentang masalah syafā‘ah ini.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته