Halaqah 84 | Pembahasan Hadits Nawas Bin Sam’an

Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-84 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauhīd alladzhī huwa haqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muḥammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī raḥimahullāh.

Sampai kita kepada bab yang ke-16.

وَعَنِ النَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dan dari an-Nawwās ibn Sam‘ān, beliau mengatakan Rasulullāh ﷺ bersabda:

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ تَعَالَى أَنْ يُوحِيَ بِالْأَمْرِ تَكَلَّمَ بِالْوَحْيِ

Apabila Allāh ﷻ menghendaki untuk mewahyukan sebuah perkara, maka Allāh ﷻ berbicara dengan wahyu.

Kalau Allāh ingin menentukan sebuah kejadian-kejadian di alam semesta ini, maka Allāh berbicara dengan wahyu. Allāh mewahyukan.

أَخَذَتِ السَّمَاوَاتِ مِنْهُ رَجْفَةٌ – أَوْ قَالَ: رِعْدَةٌ شَدِيدَةٌ

Ketika Allāh ﷻ berbicara maka langit ini akan tertimpa rajfah atau ri‘dah, yaitu ketakutan yang sangat, rajfatun syadīdah atau ri‘datun syadīdah, yaitu kegoncangan yang sangat, tergoncang langit.

Kenapa mereka menjadi bergetar, dengan getaran yang syadīdah, dengan getaran yang sangat?

خَوْفًا مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Karena mereka takut dengan Allāh ﷻ.

Padahal dia adalah makhluk yang jāmid, tidak seperti kita makhluk yang hidup. Namun demikian Allāh ﷻ menjadikan di dalam diri langit-langit tersebut rasa takut ketika mereka mendengar kalāmullāh ﷻ. Lalu bagaimana kita tidak memiliki ta‘zhīm dan rasa takut terhadap Allāh dan memiliki ihtirām, penghormatan dan pengagungan terhadap Al-Qur’an, kalāmullāh, sebagaimana Allāh ﷻ kabarkan di dalam Al-Qur’an:

لَوْ أَنزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّهِ

Seandainya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada gunung, niscaya engkau akan melihat dia dalam keadaan khusyu’, dalam keadaan takut. (QS. Al-Hasyr: 21).

فَإِذَا سَمِعَ ذَلِكَ أَهْلُ السَّمَاوَاتِ صُعِقُوا وَخَرُّوا لِلَّهِ سُجَّدًا

Apabila penduduk langit mendengar yang demikian, maka mereka akan pingsan (shu‘iqū, mereka akan pingsan), wa kharrū lillāhi sujjadan dan mereka akan bersujud di hadapan Allāh ﷻ.

Allāhu a‘lam, di sini sujudnya apakah setelah pingsan atau sebelum pingsan, karena waw (و) di sini tidak mengharuskan urutan. Bisa sebelum pingsan atau setelah pingsan.

فَيَكُونُ أَوَّلَ مَنْ يَرْفَعُ رَأْسَهُ جِبْرِيلُ

Maka jadilah yang pertama kali mengangkat kepalanya adalah Jibrīl.

Allāhu a‘lam, di sini menunjukkan bahwasanya sujudnya mereka adalah setelah pingsan. Dan ini menunjukkan tentang lemahnya para malaikat. Lihat bagaimana mereka pingsan, dan lihat bagaimana ibadahnya mereka kepada Allāh. Mereka adalah hamba-hamba yang menyembah kepada Allāh, bukan yang disembah selain Allāh ﷻ. Maka jadilah yang pertama kali mengangkat kepalanya adalah Jibrīl.

فَيُكَلِّمُهُ اللَّهُ مِنْ وَحْيِهِ بِمَا أَرَادَ

Maka Allāh ﷻ berbicara kepada Jibrīl.

Menunjukkan bahwasanya Allāh memiliki sifat kalām. Allāh berbicara sesuai dengan keagungan-Nya, dari wahyu-Nya, sesuai dengan apa yang Allāh kehendaki.

ثُمَّ يَمُرُّ جِبْرِيلُ عَلَى الْمَلَائِكَةِ

Kemudian setelah Jibrīl, yaitu Jibrīl mendengar dari Allāh ﷻ, dia melewati para malaikat.

كُلَّمَا مَرَّ بِسَمَاءٍ سَأَلَهُ مَلَائِكَتُهَا

Setiap kali dia melewati sebuah langit, maka para malaikat yang ada di langit tersebut bertanya.

مَاذَا قَالَ رَبُّنَا يَا جِبْرِيلُ؟

Apa yang dikatakan oleh Rabb kita wahai Jibrīl?

Menunjukkan bahwasanya langit ini ada yang menghuninya, setiap langit ada para malaikat yang menghuninya. Dan menunjukkan bahwasanya mereka tidak mengetahui ilmu yang ghaib, sehingga mereka bertanya kepada Jibrīl.

فَيَقُولُ جِبْرِيلُ: قَالَ الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

Maka berkatalah Jibrīl: Qālal haqq (Yang jelas yang Allāh katakan adalah kebenaran), wa huwal ‘aliyyul kabīr (dan Dialah Yang Maha Tinggi dan Maha Besar).

فَيَقُولُونَ كُلُّهُمْ مِثْلَ مَا قَالَ جِبْرِيلُ

Kemudian akhirnya mereka semuanya mengatakan persis dengan yang dikatakan oleh Jibrīl, yaitu mengatakan qālal haqq (yang Allāh katakan adalah kebenaran).

فَيَنْتَهِي جِبْرِيلُ بِالْوَحْيِ إِلَى حَيْثُ أَمَرَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ

Maka Jibrīl pun selesai menjalankan tugasnya, sesuai dengan apa yang Allāh ﷻ perintahkan.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim di dalam kitab beliau As-Sunnah dan juga oleh Al-Baihaqi di dalam Asma’ dan juga Sifat, dan sebagian ahlul ilmu ada yang mendha’ifkan sanadnya. Namun apa yang disebutkan oleh Syaikh berupa ayat dan juga hadits yang pertama yang diriwayatkan oleh Bukhari dan juga Muslim menunjukkan tentang lemahnya para malaikat-malaikat Allāh ﷻ. Sehingga sungguh sesat dan sungguh bathil orang-orang yang menyembah kepada malaikat-malaikat Allāh. Yang berhak untuk disembah hanyalah Allāh ﷻ semata, sementara yang lain bagaimanapun kuatnya dia seperti para malaikat ini tidak berhak untuk disembah.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته