Halaqah 83 | Pembahasan Hadits Abu Hurairah Bag 2

Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-83 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauhīd alladzhī huwa haqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muḥammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī raḥimahullāh.

Sampai kita kepada bab yang ke-16. Hadits yang pertama adalah hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan juga Muslim.

فِي الصَّحِيحِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

Di dalam hadits yang shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan juga Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu, dari Nabi ﷺ Beliau bersabda:

فَيَسْمَعُهَا مُسْتَرِقُ السَّمْعِ

Maka yang mencuri pendengaran mendengarkan ucapan tadi.

Dan yang dimaksud dengan mustariqus-sam‘i di sini adalah setan. Dan mustariq artinya adalah yang mencuri. Yang mengambil sesuatu tanpa izin dengan sembunyi-sembunyi, itulah yang dimaksud dengan mustariq. Mustariqus-sam‘i, setan mendengar wahyu yang Allāh ﷻ ucapkan, yang berkaitan dengan apa yang terjadi di permukaan bumi ini. Berkaitan dengan perkara-perkara kauniyyah yang terjadi di alam semesta.

وَمُسْتَرِقُ السَّمْعِ هَكَذَا بَعْضُهُ فَوْقَ بَعْضٍ

Dan didengar oleh pencuri pendengaran yang lain.

Berarti di sana bukan hanya satu saja. Yasma‘uhā mustariqus-sam‘i wa mustariqus-sam‘i. Hākadzā – Demikian. Ba‘dhuhu fauqa ba‘dhin – Sebagian mereka berada di atas sebagian yang lain. Berarti di sana ada mustariqus-sam‘i, setan-setan yang mereka mencuri pendengaran dan ingin mendengar wahyu yang disampaikan oleh Allāh ﷻ, kabar yang Allāh kabarkan di atas. Dan mereka ba‘dhuhu fauqa ba‘dhin, sebagian mereka berada di atas sebagian yang lain, saling bekerja sama untuk bisa mencuri kabar dari langit.

وَوَصَفَهُ سُفْيَانُ بِكَفِّهِ فَحَرَّفَهَا وَبَدَّدَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ

Sufyān, yaitu Sufyān ibn ‘Uyainah, salah seorang perawi hadits ini, beliau mensifatkan dengan telapak tangan beliau. Maka beliau mencondongkan telapak tangannya dan merenggangkan di antara jari-jarinya.

Beliau mempraktikkan. Ingin menunjukkan bahwasanya para setan tadi bekerja sama dan sebagian yang lain berada di atas sebagian yang lain. Ba‘dhuhu fauqa ba‘dhin, yang satunya berada di atas yang lain. Kemudian seterusnya sampai ke bumi. Nah, ini termasuk semangat para salaf dalam memberikan ta‘līm, dalam memberikan pengajaran kepada murid-muridnya, terkadang dengan mempraktikkan. Karena yang demikian lebih dipahami. Demikian pula kita sebagai seorang pengajar, berusaha untuk menggunakan berbagai cara yang dicontohkan oleh para salaf kita dalam memberikan pengajaran supaya apa yang kita ajarkan benar-benar sampai kepada mereka.

فَيَسْمَعُ الْكَلِمَةَ فَيُلْقِيهَا إِلَى مَنْ تَحْتَهُ

Maka pencuri tadi, setan tadi yang berada di atas mendengar kalimat, ya mendengar sebuah kalimat. Tidak mendengar secara utuh tapi dia mendengar sebuah kalimat. Kemudian dia melemparkan kalimat tadi kepada orang yang ada di bawahnya.

Segera dia sampaikan kepada setan yang ada di bawahnya.

ثُمَّ يُلْقِيهَا الْآخَرُ إِلَى مَنْ تَحْتَهُ

Kemudian yang di bawahnya tadi menyampaikan kepada yang di bawahnya.

حَتَّى يُلْقِيَهَا عَلَى لِسَانِ السَّاحِرِ أَوِ الْكَاهِنِ

Sampai mereka atau para pencuri kabar dari langit tadi, yaitu para setan menyampaikan kalimat tadi kepada lisannya seorang tukang sihir atau dukun.

Tukang sihir ini yang mereka mensihir manusia, yang meniupkan pada buhul-buhul, yang memisahkan antara seorang suami dengan istrinya, yang menyantet, yang memudharati orang, ini dinamakan dengan sāhir. Adapun al-kāhin, maka yang dimaksud adalah dukun. Yang mereka mengaku mengetahui ilmu yang ghaib. Mengetahui perkara yang akan terjadi. Mengaku mengetahui barang hilang atau mengetahui apa yang akan terjadi tahun depan, maka ini dinamakan dengan kāhin. Sampai dia menyampaikan ini kepada tukang sihir atau dukun yang dia mengaku mengetahui ilmu yang ghaib.

فَرُبَّمَا أَدْرَكَهُ الشِّهَابُ قَبْلَ أَنْ يُلْقِيَهَا

Terkadang setan ini terkena lemparan bintang sebelum dia menyampaikan kalimat tadi kepada tukang sihir atau dukun.

Berarti dia sudah hancur lebur duluan sebelum dia menyampaikan kalimat tadi kepada tukang sihir atau dukun.

وَرُبَّمَا أَلْقَاهَا قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُ

Atau kemungkinan yang kedua dia sudah menyampaikan kalimat tadi sebelum dia terkena lemparan bintang.

Karena di antara fungsi dan tujuan Allāh ﷻ menciptakan bintang adalah sebagai pelempar bagi setan.

فَيَكْذِبُ مَعَهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ فَيُقَالُ أَلَيْسَ قَدْ قَالَ لَنَا يَوْمَ كَذَا وَكَذَا كَذَا وَكَذَا فَيُصَدَّقُ بِتِلْكَ الْكَلِمَةِ الَّتِي سُمِعَتْ مِنَ السَّمَاءِ 

Kemudian akhirnya ketika tukang sihir tadi dan juga dukun tadi dia bisa mendengar meskipun sedikit dari setan tadi, dia berdusta bersama dengan kalimat tadi.

Artinya membumbui atau menambah kedustaan-kedustaan bersama dengan kalimat yang benar. Kalimat yang benar tadi yang didengar oleh setan benar, itu adalah wahyu dari Allāh, al-haqq, itu adalah kebenaran. Namun dengan pintarnya dukun tadi menambah-nambah. Mi’ata kadzbah – Menambah dengan seratus kedustaan. Jadi ucapan yang benar, al-haqq tadi, ditambah dengan seratus kedustaan.

Sehingga ketika dia mengabarkan kepada manusia dia mengabarkan yang haq dan juga mengabarkan seratus kedustaan tadi. Yang benar pasti terjadi karena itu adalah wahyu dari Allāh ﷻ. Adapun seratus kedustaan tadi maka ini adalah dusta, ucapan yang bohong dari dukun tadi. Manusia mereka mendengar yang haq dan yang bohong tadi

Fayuqālu: alaysa qad qāla lanā yauma kadzā wa kadzā kadzā wa kadzā – Sehingga manusia mengatakan apa? Bukankah si fulan, yaitu dukun tadi telah mengabarkan kepada kita pada hari itu (menyebutkan harinya dulu atau tahun lalu), bukankah dia telah mengatakan di hari tersebut demikian dan demikian? Yaitu mengabarkan sebuah kabar di hari tertentu.

Jadi mereka yaitu manusia tertipu dengan dukun tadi. Kebenaran yang dibawakan oleh dukun tadi yang dia sempat curi dari langit dengan perantara setan-setan tadi tentunya itu adalah benar, pasti akan terjadi. Cuma kebohongan-kebohongan yang dia tambah, maka itu adalah kebohongan dan juga kedustaan. Dia berbicara dengan dusta, tidak berdasarkan ilmu. Tapi manusia ketika mereka sudah sekali mengetahui bahwasanya si fulan mengabarkan dengan kabar yang benar, akhirnya mereka membenarkan dan menganggap bahwasanya dukun tadi benar-benar mengetahui ilmu yang ghaib.

Akhirnya dia dibenarkan oleh manusia karena sebuah kalimat yang didengar dari langit. Kebenaran yang sampai kepadanya yang sedikit tadi. Adapun seratus kebohongan yang lain, maka manusia melupakan yang demikian. Dan ini adalah kebiasaan manusia dan kelemahan mereka, mereka mengingat yang benar saja. Ya, satu kebenaran yang mereka pernah dengar dari dukun tadi, itu yang mereka ingat. Adapun kedustaan-kedustaan yang lain, banyak di antara mereka yang melupakannya atau lupa. Padahal dia pernah mengatakan ini dan bohong tidak terjadi, pernah mengatakan ini dan bohong tidak terjadi. Tapi tidak diingat oleh manusia. Ini menunjukkan tentang lemahnya manusia.

Maka hati-hati dengan kebatilan yang dibungkus dengan kebenaran. Karena kebatilan kalau disampaikan kepada manusia dengan kebatilan saja, maka ini tentunya tidak akan diterima oleh manusia. Tapi ketika dihias, kemudian dibungkus dengan kebenaran, dibumbui dengan kebenaran, maka ini akan banyak manusia yang tertipu dengan tipuan seperti ini. Syahidnya di sini adalah tentang lemahnya para malaikat yang disembah oleh sebagian manusia. Dan bahwasanya yang berhak untuk disembah semata-mata hanyalah Allāh ﷻ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته