Halaqah 81 | Penjelasan Umum Bab 16 dan Pembahasan QS. Saba’: 23

Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-81 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauḥīd alladzhī huwa ḥaqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muḥammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī raḥimahullāh.

Sampai kita kepada bab yang ke-16. Bab ini yaitu bab yang ke-16 masih berkaitan dengan lemahnya segala sesuatu yang disembah selain Allāh. Sebagaimana bab yang ke-15 sebelumnya, beliau rahimahullāh mendatangkan dalil-dalil yang menunjukkan tentang lemahnya segala sesuatu yang disembah selain Allāh dan menunjukkan tentang qudratullāh ﷻ, maka demikian pula bab yang ke-16 ini.

Perbedaannya, bab yang ke-15 disebutkan tentang dalil-dalil lemahnya afdhalul basyar, yaitu Rasulullāh ﷺ. Menunjukkan bahwasanya Beliau ﷺ adalah manusia biasa yang terluka, yang tidak memiliki mudharat dan juga manfaat. Adapun bab yang ke-16 ini berkaitan dengan makhluk mulia yang lain yaitu para malaikat Allāh ﷻ. Dan bahwasanya keadaan mereka sebagaimana Rasulullāh ﷺ. Mereka adalah makhluk yang lemah, yang membutuhkan Allāh ﷻ, yang masuk di dalam diri mereka rasa takut.

Dan kalau demikian perkaranya, berarti tidak halal dan tidak boleh dan haram hukumnya menyerahkan sebagian ibadah atau seluruhnya kepada Rasulullāh ﷺ ataupun malaikat-malaikat Allāh ataupun yang lain. Kalau Rasulullāh ﷺ manusia yang paling mulia di bumi dan malaikat-malaikat Allāh ﷻ makhluk yang paling mulia di langit, mereka saja tidak berhak untuk disembah. Mereka lemah dan mereka butuh kepada Allāh ﷻ, lalu bagaimana disembah selain malaikat, selain Rasulullāh ﷺ, yang tentunya keadaan mereka di bawah Rasulullāh ﷺ dan juga para malaikat.

Bagaimana disembah matahari, disembah bulan, disembah pohon, disembah batu, disembah jin. Kalau peribadatan kepada Nabi ﷺ dan juga para malaikat adalah peribadatan yang bāthilah, lalu bagaimana dengan ibadah yang diserahkan kepada selain Rasulullāh ﷺ dan juga para malaikat. Maka inilah yang akan didatangkan oleh beliau rahimahullāh di dalam bab ini. Yang menunjukkan kepada kita tentang lemahnya malaikat Allāh ﷻ dan bahwasanya yang berhak untuk disembah semata hanyalah Allāh ﷻ saja.

Beliau mengatakan,

بَابُ قَوْلِ اللهِ تَعَالَى

Bab tentang firman Allāh Ta‘ālā:

حَتَّىٰ إِذَا فُزِّعَ عَن قُلُوبِهِمْ قَالُوا۟ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ ۖ قَالُوا۟ ٱلْحَقَّ ۖ وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْكَبِيرُ

Sehingga apabila dihilangkan rasa takut dari hati-hati mereka, mereka mengatakan, “Apa yang dikatakan oleh Rabb kalian?” Mereka menjawab, “(Perkataan) yang benar,” dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. Saba’: 23)

Bab tentang firman Allāh, “sehingga apabila dihilangkan rasa takut dari hati-hati mereka,” dhamir di sini, yaitu dalam kalimat qulūbihim kembali kepada malaikat-malaikat Allāh. Sehingga ketika fuzzi‘a, yaitu dihilangkan rasa takut, ‘an qulūbihim dari hati-hati mereka. Menunjukkan bahwasanya para malaikat memiliki qulūb.

Kemudian yang kedua menunjukkan bahwasanya sebelumnya mereka tertimpa rasa takut. Karena makna fuzzi‘a adalah dihilangkan rasa takut dari mereka. Menunjukkan bahwasanya sebelumnya mereka tertimpa rasa takut yang sangat. Yaitu rasa takut kepada Allāh ﷻ, yang menjadikan mereka tidak sadar. Hattā idzā fuzzi‘a ‘an qulūbihim, ketika mereka sudah ditenangkan dan dihilangkan rasa takut yang sangat tadi, qālū, mereka mengatakan, mādzā qāla rabbukum. Mereka mengatakan dan bertanya, apa yang dikatakan oleh Rabb kalian?

Menunjukkan bahwasanya para malaikat yang disembah oleh sebagian manusia, ada sebagian manusia yang mereka menyembah kepada malaikat-malaikat Allāh, mengagungkan mereka sebagaimana mengagungkan Allāh, berdoa kepada malaikat-malaikat tersebut sebagaimana mereka berdoa kepada Allāh, lihat bagaimana mereka di hadapan Allāh ﷻ, sangat takut kepada Allāh ﷻ. Bagaimana makhluk yang ditimpa rasa takut yang sangat, disembah selain Allāh ﷻ. Maka orang yang menyembah kepada malaikat mereka telah menyembah kepada makhluk yang lemah, makhluk yang ditimpa rasa takut.

Qālū, mādzā qāla rabbukum – Mereka mengatakan, apa yang dikatakan oleh Rabb kalian? Ini adalah pertanyaan. Mādzā artinya adalah apa. Di sana ada pertanyaan yang diucapkan oleh para malaikat tadi, dan ini menunjukkan bahwasanya mereka tidak mengetahui ilmu yang ghaib. Mereka dalam keadaan tidak sadar, kemudian ketika mereka sadar, bertanya mādzā qāla rabbukum, apa yang dikatakan oleh Rabb kalian. Berarti mereka tidak mengetahui ilmu yang ghaib. Jadi secara qudrah mereka lemah dan secara ilmu juga demikian. Mereka tidak mengetahui ilmu yang ghaib, lalu bagaimana makhluk yang demikian lemahnya disembah selain Allāh ﷻ. Beliau mendatangkan ayat yang ada dalam surat Saba’ ini yang menunjukkan kepada kita tentang lemahnya malaikat yang disembah oleh sebagian manusia.

Qālū al-haqqa – Mereka mengatakan al-haqqa, yaitu Allāh ﷻ mengatakan yang haq. Meskipun mereka tidak mendengar, tapi mereka yakin bahwasanya Allāh ﷻ tidaklah berucap kecuali yang haq saja, tidak ada kebatilan yang Allāh ﷻ ucapkan. Seandainya itu adalah sebuah berita, maka itu adalah berita yang shidq. Dan seandainya itu adalah sebuah hukum, maka itu adalah hukum yang adil.

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا

Dan telah sempurna kalimat Rabbmu (Al-Qur’an), (sebagai kalimat) yang benar dan adil. (QS. Al-An‘am: 115)

Shidqan fil-akhbār wa ‘adlan fil-ahkām, jujur dalam kabar-kabarnya dan berita-beritanya, itu adalah benar semata. Dan Dia adalah adil di dalam hukum-hukumnya. Sehingga mereka mengatakan, qālul-ḥaqq. Mereka mengatakan, yaitu para malaikat mengatakan, yang Allāh katakan itu pasti al-haqq. Wa huwal ‘aliyyul kabīr – Dan Dialah Allāh ﷻ Yang Maha Tinggi dan juga Maha Besar.

Menunjukkan tentang qudratullāh, Dialah Allāh ﷻ Yang Maha Tinggi. Dan ketinggian di sini mencakup ketinggian Dzat maupun ketinggian kedudukan maupun ketinggian al-qahr yaitu kekuasaan. Tinggi kekuasaannya, kedudukannya dan juga Dzatnya. Dan Dialah Al-Kabīr yaitu Yang Maha Besar, tidak ada yang lebih besar daripada Allāh ﷻ. Dialah Al-‘Aliyyul Kabīr, Dialah Yang Maha Tinggi dan juga Maha Besar. Segala sesuatu selain Allāh adalah kecil di hadapan Allāh ﷻ.

Maka itulah yang berhak untuk disembah, yang memiliki ketinggian Dzat, ketinggian kekuasaan, ketinggian kedudukan dan Dialah Yang Maha Besar, maka itulah yang berhak untuk disembah. Bukan malaikat, bukan nabi apalagi yang lain. Maka ayat ini menunjukkan tentang lemahnya malaikat yang disembah oleh sebagian manusia dan menunjukkan tentang kesempurnaan kekuasaan Allāh dan qudratullāh ﷻ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته