Halaqah 80 | Kandungan Bab 15
Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-80 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauḥīd alladzhī huwa ḥaqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muḥammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī raḥimahullāh.
Beliau mengatakan
فِيهِ مَسَائِلُ
Di dalamnya ada beberapa permasalahan/faedah
الأُولَى: تَفْسِيرُ الآيَتَيْنِ
1. Tafsir dua ayat, yaitu beliau menyebutkan dua ayat, ini sudah kita jelaskan.
الثَّانِيَةُ: قِصَّةُ أُحُدٍ
2. Kisah Perang Uhud. Ini sudah kita jelaskan ringkasnya.
الثَّالِثَةُ: قُنُوتُ سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ وَخَلْفَهُ سَادَاتُ الْأَوْلِيَاءِ يُؤَمِّنُونَ فِي الصَّلَاةِ
3. Qunutnya Rasulullāh ﷺ ketika shalat, ini adalah qunut nāzilah, dan dibelakang Beliau ada pemuka-pemuka wali-wali Allāh yang mereka mengamini doa Beliau didalam shalat. Dan ini, wallāhu a‘lam, menunjukkan bagaimana mereka, orang-orang shalih saja, mereka berdoa kepada Allāh. Mereka butuh kepada Allāh. Termasuk di antaranya adalah sādātul awliyā’, mereka adalah pemuka wali-wali Allāh. Mereka saja memintanya kepada Allāh. Lalu bagaimana dengan kita? Maka sangat sesat orang yang justru berdoa kepada wali-wali tadi. Mereka saja berdoa kepada Allāh.
الرَّابِعَةُ: أَنَّ الْمَدْعُوَّ عَلَيْهِمْ كُفَّارٌ
4. Orang yang didoakan dengan kejelekan saat itu adalah orang-orang kafir. Maksudnya adalah saat itu, yaitu ketika didoakan, mereka dalam keadaan kuffar. Dalam keadaan masih di atas kekafiran, belum masuk ke dalam agama Islam.
Beliau di sini tentunya maksudnya bukan hanya mengatakan atau memberikan faedah mereka ini kafir saat itu. Maksudnya di sini wallāhu a‘lam, kalau doa yang jelek saja yang kita tujukan untuk orang-orang kafir, yang kita sebutkan secara khusus nama-namanya, ini saja Allāh ﷻ berfirman:
لَيْسَ لَكَ مِنَ ٱلْأَمْرِ شَىْءٌ
Engkau tidak memiliki perkara sedikit pun. (QS. Ali ‘Imran: 128)
Padahal mereka adalah orang-orang kafir yang memang mereka kufur kepada Allāh. Dan dijauhkan dari rahmat Allāh.
فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ
“Maka laknat Allāh atas orang-orang kafir” (QS. Al-Baqarah: 89)
Meskipun demikian, maka Nabi ﷺ dikatakan kepada beliau:
لَيْسَ لَكَ مِنَ ٱلْأَمْرِ شَىْءٌ
Padahal mereka adalah saat itu sebagai orang-orang kafir.
الْخَامِسَةُ: أَنَّهُمْ فَعَلُوا أَشْيَاءَ مَا فَعَلَهَا غَالِبُ الْكُفَّارِ، مِنْهَا: شَجُّهُمْ نَبِيَّهُمْ، وَحِرْصُهُمْ عَلَى قَتْلِهِ، وَمِنْهَا التَّمْثِيلُ بِالْقَتْلَى مَعَ أَنَّهُمْ بَنُو عَمِّهِمْ
5. Ditambah lagi selain mereka ini kuffar, mereka juga melakukan perkara-perkara yang tidak dilakukan oleh sebagian besar orang kafir. Sebagian besar orang kafir tidak melakukan seperti yang mereka lakukan. Menunjukkan tentang sebenarnya mereka ini sudah parah kekufurannya. Sudah kafir ditambah lagi melakukan kekufuran-kekufuran yang lain, yang tidak dilakukan oleh orang kafir yang lain.
Di antaranya adalah mereka melukai kepala Nabi mereka, yaitu Nabi yang diutus kepada mereka. Dan mereka ingin membunuh Nabinya. Di antaranya adalah mereka mencincang orang-orang Islam yang meninggal dunia saat itu. Padahal mereka ini adalah anak dari paman-paman mereka sendiri.
Itu masih saudara, masih saudara senenek moyang. Tapi mereka mencincang saudara-saudara mereka karena beda akidah. Dan Nabi ﷺ berdoa dengan kejelekan untuk mereka
كَيْفَ يُفْلِحُ قَوْمٌ شَجُّوا نَبِيَّهُمْ؟
Bagaimana kaum yang melukai Nabinya ini akan selamat? Ini sudah parah. Tapi meskipun demikian Allāh ﷻ berfirman
لَيْسَ لَكَ مِنَ ٱلْأَمْرِ شَىْءٌ
Kamu tidak memiliki perkara sedikit pun
السَّادِسَةُ: أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي ذَلِكَ: لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ
6. Allāh ﷻ menurunkan kepada Beliau di dalam kisah ini, Engkau tidak memiliki perkara sedikit pun.
السَّابِعَةُ: قَوْلُهُ: ﴿أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ﴾، فَتَابَ عَلَيْهِمْ فَآمَنُوا
7. Allāh ﷻ berfirman, atau Allāh memberikan taubat kepada mereka atau mengadzabnya, itu kembali kepada Allāh. Kalau Allāh menghendaki, Allāh memberikan taubat kepada mereka dan mereka masuk Islam. Kalau Allāh menghendaki, Allāh mengadzabnya. Urusannya bukan di tanganmu. Benar mereka kufur dan sudah keterlaluan melakukan kekufuran, melukai Nabinya, dan ingin membunuh Beliau. Tapi yang namanya hidayah, yang namanya adzab itu di tangan Allāh, bukan di tanganmu. Maka Allāh ﷻ ternyata memberikan taubat kepada mereka dan mereka pun beriman.
الثَّامِنَةُ: الْقُنُوتُ فِي النَّوَازِلِ
8. Hadits yang tadi disebutkan oleh beliau, menunjukkan tentang disyariatkannya qunut nāzilah yaitu ketika ingin mendoakan untuk orang-orang kuffar yang mereka sudah keterlaluan mengganggu kaum muslimin di sebuah daerah, maka ini termasuk nāzilah, sesuatu yang datang tiba-tiba, dan itu adalah mengganggu sebagian kaum muslimin, maka disyariatkan kaum muslimin yang lain untuk mendoakan keselamatan bagi kaum muslimin, dan mendoakan kejelekan bagi orang-orang kuffar tersebut.
Sebagian ulama mengatakan bahwasanya qunut nāzilah ini disyariatkan untuk musibah yang berasal dari manusia. Artinya di sana ada sebab dari manusia. Adapun wabah misalnya, yang itu berasal dari Allāh ﷻ, maka tidak disyariatkan di sana qunut nāzilah. Tidak disyariatkan di sana qunut nāzilah karena di zaman ‘Umar ibn Al-Khaththab radhiyallāhu ‘anhu, pernah terjadi yang demikian yaitu wabah namun beliau radhiyallāhu ‘anhu tidak melakukan qunut nāzilah.
التَّاسِعَةُ: تَسْمِيَةُ الْمَدْعُوِّ عَلَيْهِمْ فِي الصَّلَاةِ بِأَسْمَائِهِمْ وَأَسْمَاءِ آبَائِهِمْ
9. Penamaan/penyebutan nama orang yang didoakan dengan kejelekan di dalam shalat dengan nama mereka dan juga nama bapak-bapak mereka. Karena dalam sebuah riwayat tadi disebutkan Shafwān ibn Umayyah, Suhail ibn ‘Amr, Al-Hārits ibn Hisyām. Menunjukkan bolehnya menyebutkan nama. Dan ini tidak membatalkan shalat. Karena ini termasuk berbicara kepada Allāh, bukan berbicara kepada manusia.
الْعَاشِرَةُ: لَعْنُ الْمُعَيَّنِ فِي الْقُنُوتِ
10. Tentang laknat untuk orang tertentu, yang dengan menyebutkan namanya ketika qunut. Sebagaimana dilakukan oleh Nabi ﷺ.
الْحَادِيَةَ عَشْرَةَ: قِصَّتُهُ ﷺ لَمَّا أُنْزِلَ عَلَيْهِ: وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ
11. Kisah Beliau ketika diturunkan kepada Beliau ‘Wa andzir ‘ashīratakal-aqrabīn’, yaitu ketika Beliau berdiri dan memanggil keluarganya.
الثَّانِيَةَ عَشْرَةَ: جِدُّهُ ﷺ فِي هَذَا الْأَمْرِ؛ بِحَيْثُ فَعَلَ مَا نُسِبَ بِسَبَبِهِ إِلَى الْجُنُونِ، وَكَذَلِكَ لَوْ يَفْعَلُهُ مُسْلِمٌ الْآنَ
12. Kesungguhan Beliau di dalam dakwah ini, yaitu Beliau melakukan sebuah amalan, sebuah perkara yang dengan sebabnya Beliau dikatakan orang gila. Yaitu berdiri, kemudian berteriak, ‘Wahai orang Quraisy, Wahai pamanku, Wahai ‘Abbas, Wahai Shafiyyah, Wahai Fatimah’, mereka mengatakan Nabi gila gara-gara Beliau melakukannya demikian. Dan demikian pula kalau dilakukan orang Islam sekarang.
Sekarang kalau misalnya ada di antara kita yang berdakwah dengan cara seperti ini, yaitu kita berdiri, kemudian kita teriak ‘Ya Fulan Ya Fulan’ memanggil keluarganya kita, apa yang mereka katakan? Mereka akan mengatakan kita ini sudah gila. Tapi Nabi ﷺ melakukannya karena sudah perintah Allāh. Allāh ﷻ yang memerintahkan Beliau untuk mengingatkan keluarganya dan mengatakan kepada Beliau ‘Wa andzir ‘ashīratakal-aqrabīn’. Ini menunjukkan kesungguhan Beliau di dalam dakwahnya.
الثَّالِثَةَ عَشْرَةَ: قَوْلُهُ لِلْأَبْعَدِ وَالْأَقْرَبِ: «لَا أُغْنِي عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا» حَتَّى قَالَ: «يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ! لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا» فَإِذَا صَرَّحَ وَهُوَ سَيِّدُ الْمُرْسَلِينَ بِأَنَّهُ لَا يُغْنِي شَيْئًا عَنْ سَيِّدَةِ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ، وَآمَنَ الْإِنْسَانُ بِأَنَّهُ لَا يَقُولُ إِلَّا الْحَقَّ، ثُمَّ نَظَرَ فِيمَا وَقَعَ فِي قُلُوبِ خَوَاصِّ النَّاسِ الْيَوْمَ؛ تَبَيَّنَ لَهُ تَرْكُ التَّوْحِيدِ وَغُرْبَةُ الدِّينِ
13. Ucapan Beliau kepada yang jauh dan yang dekat, “Aku tidak mampu menolongmu dari Allāh” sampai perkataan “Wahai Fatimah aku tidak bisa menolongmu dari Allāh sedikit pun.” Apabila Nabi ﷺ, dan beliau adalah pemukanya rasul, beliau menjelaskan bahwasanya beliau tidak bisa menolong pemukanya wanita ‘ālamīn, yaitu Fatimah. Dan seseorang dia meyakini bahwasanya Beliau tidak berbicara kecuali benar. Kita semuanya meyakini bahwasanya ucapan Beliau adalah benar. Ketika Beliau mengatakan, “Saya tidak bisa menolong kamu sedikit pun wahai Fatimah” benar ucapan Beliau.
Kemudian dia melihat kepada apa yang terjadi, atau apa yang ada di dalam orang-orang tertentu hari ini. Ada sebagian orang meyakini tentang Nabi ﷺ keyakinan yang salah. Padahal mereka ini orang-orang yang mungkin mereka berpendidikan, atau bahkan tokoh agama. Tapi ternyata dia tidak memahami yang demikian.
Nabi ﷺ tidak bisa menolong putrinya. Padahal beliau adalah Sayyidul Mursalīn dan putrinya adalah Sayyidatun Nisā’il ‘Ālamīn. Dan beliau tidak mengucapkan kecuali ucapan yang benar. Tapi sebagian manusia terfitnah hatinya dan ghuluw terhadap Nabi ﷺ. Sehingga dalam keadaan susah istighatsah kepada Nabi. Dalam keadaan terkena musibah mintanya kepada Nabi ﷺ. Maka beliau mengatakan dari sini jelas, tentang bagaimana sebagian orang yang meninggalkan tauhid, dan jelas bagi dia tentang anehnya agama ini yaitu khususnya di akhir zaman ini.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته