Halaqah 78 | Pembahasan Hadits Anas Radhiyallāhu ‘anhu

Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-78 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauḥīd alladzhī huwa ḥaqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muḥammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī raḥimahullāh.

Beliau mendatangkan hadits dari Nabi ﷺ, menunjukkan tentang lemahnya segala sesuatu yang disembah selain Allāh ﷻ. Dan di sini akan disebutkan tentang lemahnya Rasulullah ﷺ. Artinya, beliau manusia seperti yang lain. Dicipta, terluka, keliru seperti manusia yang lain. Cuma beliau ﷺ dijaga, maksum dalam wahyu, dan dijaga oleh Allāh ﷻ dari dosa-dosa besar.

Maka di sini beliau ingin menjelaskan kepada kita tentang bahwa beliau ﷺ adalah manusia biasa, sebagaimana firman Allāh ﷻ:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ

“Katakanlah, sesungguhnya aku adalah manusia seperti kalian.” (QS. Al-Kahf: 110)

Artinya, manusia seperti kalian, sakit sebagaimana kalian sakit, lapar sebagaimana kalian lapar, haus sebagaimana kalian haus.

Hadits yang pertama,

وَفِي الصَّحِيحِ عَنْ أَنَسٍ قَالَ شُجَّ النَّبِيُّ ﷺ يَوْمَ أُحُدٍ، وَكُسِرَتْ رَبَاعِيَتُهُ

Di dalam hadits yang shahih, dan hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan juga Muslim, dari Anas yaitu Anas ibn Mālik radhiyallāhu ‘anhu, beliau mengatakan: “Nabi ﷺ terluka pada wajahnya pada saat perang Uhud dan gigi ruba‘iyyah beliau patah.”

Yaitu perang yang terjadi pada tahun 3 Hijriah. Dan Uhud ini nama gunung yang ada di sebelah utara kota Madinah. Di tahun tersebut terjadi perang antara Rasulullah ﷺ dan para sahabat melawan orang-orang Quraisy yang mereka datang dari Makkah untuk membalas dendam atas kekalahan mereka di perang Badar yang terjadi setahun sebelumnya.

Saat itu terjadilah apa yang terjadi, yaitu sebagian sahabat mereka bermaksiat karena tidak mengindahkan aturan dan pesan dari Nabi ﷺ supaya mereka tidak meninggalkan gunung yang dekat dengan Uhud, yang di situ mereka sebagai pasukan anak panah, menghalau pasukan berkuda orang-orang Quraisy supaya mereka tidak menyerang kaum muslim dari Makkah.

Apa pun yang terjadi, namun ternyata mereka saat itu tidak mengindahkan pesan dari Nabi ﷺ, sehingga sebagian besar mereka turun. Terjadilah apa yang terjadi. Khālid ibn Al-Walīd dan pasukan berkudanya datang dari belakang, membunuh yang masih tersisa, kemudian menyerang kaum muslim dari belakang, dan banyak orang Islam yang meninggal saat itu sampai 70 orang.

Nah, termasuk di antara musibah yang terjadi saat itu, jadi peringatan bagi kita, maksiat satu saja, demikian keadaan kaum muslim. Mereka terkalahkan. Lalu bagaimana seandainya kemaksiatan itu bukan hanya satu? Kemaksiatan satu saja, akibatnya seperti ini. Lalu bagaimana dengan kemaksiatan yang lain? Bagaimana kita ditolong oleh Allāh ﷻ sementara kita tidak memperbaiki diri kita?

Nabi ﷺ terluka di perang Uhud.

وَكُسِرَتْ رَبَاعِيَتُهُ

Kemudian pecah raba‘iyyah beliau.

Raba‘iyyah  ini adalah jenis gigi. Yang dinamakan dengan raba‘iyyah ini setelah dua gigi yang terakhir, gigi yang tengah bagian atas ini ada dua. Nah, setelahnya, baik bagian kiri maupun bagian kanan, ini dinamakan dengan raba‘iyyah.

Salah satu di antara raba‘iyyah beliau pecah. Ya, mungkin terkena senjata. Yang jelas wajah beliau terluka. Berdarah, kepala beliau berdarah dan sampai gigi beliau ini pecah. Ini menunjukkan apa? Menunjukkan bahwasannya beliau terluka sebagaimana manusia yang lain juga terluka. Beliau tidak mengetahui ilmu yang ghaib, sehingga bila bisa menghindarkan dirinya dari musibah ini, menunjukkan bahwasannya beliau manusia seperti yang lain. Tidak berhak untuk disembah.

Kalau beliau terluka, lalu bagaimana beliau bisa melindungi yang lain?

Beliau sendiri terluka dan pecah giginya, dan menunjukkan bahwasannya beliau tidak mengetahui ilmu yang ghaib. Seandainya beliau mengetahui ilmu yang ghaib, sebagaimana firman Allāh ﷻ:

وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ

“Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku akan memperbanyak kebaikan dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan.” (QS. Al-A‘rāf: 188)

Buktinya di sini beliau tertimpa musibah. Berarti beliau tidak mengetahui ilmu yang ghaib.

Lalu bagaimana makhluk yang demikian disembah selain Allāh ﷻ? Beliau adalah rasul yang kita muliakan, yang kita imani, tapi harus kita dudukkan beliau pada tempatnya, yaitu sebagai seorang manusia, sebagai seorang makhluk yang tidak berhak untuk disembah.

فَقَالَ: «كَيْفَ يُفْلِحُ قَوْمٌ شَجُّوا نَبِيَّهُمْ؟

Kemudian beliau mengatakan, bagaimana sebuah kaum yang melukai kepala Nabinya ini dia beruntung.

Melukai kan bertingkat-tingkat. Ada melukai tangan, ada melukai kaki, tapi ini berani mereka melukai kepala Nabi, berani melukai wajah Nabi. Ini sudah keterlaluan.

Sehingga Nabi ﷺ di sini mengatakan, “Bagaimana dia beruntung?” Dan ini maksudnya adalah istib‘ād, yaitu jauh-lah. Orang seperti itu jauh dari keberuntungan. Sudah berani melukai Nabinya, yaitu Nabi yang diutus kepada mereka. Ini sudah keterlaluan.

Maka di sini beliau istib‘ād. Beliau, “Jauh-lah orang yang seperti itu dari keberuntungan.”

Tapi ternyata yang namanya falāh, yang namanya keberuntungan itu bukan di tangan Nabi. Itu adalah perkiraan beliau sebagai seorang manusia yang penuh dengan keterbatasan.

Tapi al-falāh bi yadillāh. Keberuntungan yang sesungguhnya adalah di tangan Allāh ﷻ.

فَنَزَلَتْ: لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ

Engkau tidak memiliki perkara sedikit pun.

Al-falāh milik Allāh ﷻ, bukan di tangan Nabi ﷺ.

Nah, ini menunjukkan bahwasannya Nabi ﷺ, meskipun beliau adalah Nabi yang paling mulia, manusia yang paling mulia, tapi urusan ini bukan di tangan beliau, tapi di tangan Allāh ﷻ. Termasuk di antaranya adalah keberuntungan. Al-falāh di dunia maupun di akhirat. Maka ini adalah di tangan Allāh.

Dan di antara mereka yang melukai Nabi ﷺ, banyak di antara mereka yang masuk Islam. Khālid ibn Al-Walīd, yang ikut berperang saat itu, masuk ke dalam agama Islam. Abū Sufyān demikian pula. Bahkan beliau saat itu sebagai pemimpin, komandan dari orang-orang Quraisy, ternyata setelahnya masuk ke dalam agama Islam.

Menunjukkan bahwasannya perkara semuanya adalah di tangan Allāh, bukan di tangan Nabi ﷺ. Maka mintalah kepada Allāh yang di tangan-Nya segala sesuatu, bukan meminta kepada Nabi ﷺ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته