Halaqah 76 | Penjelasan Umum Bab 15 dan Pembahasan QS. Al-A’raf 191-192
Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-76 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauḥīd alladzhī huwa ḥaqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muḥammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī raḥimahullāh.
Sampai insyaAllah kita akan memasuki bab yang baru, yaitu bab yang ke-15, yang berisi tentang lemahnya segala sesuatu yang disembah selain Allāh ﷻ. Beliau mengatakan,
بَابُ قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: أَيُشْرِكُونَ مَا لَا يَخْلُقُ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ ۞ وَلَا يَسْتَطِيعُونَ لَهُمْ نَصْرًا وَلَا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ, الآيَةَ
Bab tentang firman Allāh ﷻ, apakah mereka menyekutukan apa yang tidak menciptakan sesuatu, bahkan mereka diciptakan dan mereka tidak bisa menolong yang beribadah kepada mereka, kelanjutan ayatnya, wa lā anfusahum yanshurūn, bahkan menolong diri mereka sendiri mereka tidak mampu.
Beliau mendatangkan bab ini, yang isinya adalah tentang penjelasan lemahnya segala sesuatu yang disembah selain Allāh. Segala sesuatu di sini masuk di antaranya matahari, bulan, patung, nabi, wali, dan seterusnya. Yang jelas segala sesuatu yang disembah selain Allāh. Ternyata mereka adalah lemah, tidak memiliki sifat yang dengannya dia berhak untuk disembah.
Kenapa di sini beliau membawakan bab ini? Allāhu A‘lam, sebelumnya karena beliau menyebutkan tentang diharamkannya istighatsah dan berdoa kepada selain Allāh, diharamkannya istiadzah kepada selain Allāh, dan bahwasanya ini semua adalah termasuk syirik yang besar. Maka pada bab ini beliau ingin menjelaskan di antara alasan diharamkannya. Karena orang yang berdoa dan beribadah kepada selain Allāh, dia berdoa dan beribadah kepada sesuatu yang lemah, sesuatu yang tidak berdaya. Maka ini adalah ibadah yang batil.
Ibadah yang benar adalah ibadah kepada Dzat yang memang dia memiliki qudrah, memiliki kesempurnaan, yang memiliki segala sesuatu, yang menciptakan, yang menghidupkan. Itulah Dzat yang berhak untuk disembah.
Baik, beliau mengatakan, menyebutkan ayat yang pertama, ayat yang menunjukkan tentang kebatilan penyembahan kepada selain Allāh. Bābu qaulillāhi ta‘ālā, bab tentang firman Allāh
أَيُشْرِكُونَ مَا لَا يَخْلُقُ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ
Apakah mereka, dan apakah di sini adalah istifham, yaitu pertanyaan, namun pertanyaan di sini bukan pertanyaan biasa, dia adalah pertanyaan yang sifatnya pengingkaran. Apakah mereka menyekutukan Allāh dengan sesuatu yang tidak menciptakan apa pun? Karena yang berhak untuk diibadahi siapa? Yang berhak untuk diibadahi adalah yang mencipta, yang menjadikan dari sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Dan kekuasaan dan kemampuan untuk mencipta, ini adalah qudrah yang paling besar.
Kalau sesembahan tersebut, dia mencipta maka itulah yang berhak, dan itulah sesembahan yang hak. Adapun dia disembah dan dia tidak bisa mencipta, maka ini adalah sesembahan yang batil. Sesuatu yang disembah dengan kebatilan, dan orang yang menyembahnya adalah terjerumus ke dalam kesesatan yang nyata. Tidak ada orang yang lebih sesat daripada orang yang tersesat. Karena dia menyembah sesuatu yang lemah, tidak bisa mencipta.
لَا يَخْلُقُ شَيْئًا
Sedikit pun dia tidak mencipta. Satu titik pun dia tidak mencipta, maka bagaimana dia disembah? Bahkan
وَهُمْ يُخْلَقُونَ
Bahkan mereka ini diciptakan. Kita tahu sesuatu yang diciptakan berarti dia membutuhkan yang mencipta. Bagaimana dia disembah selain Allāh? Padahal dia diciptakan, dan yang diciptakan berarti dia membutuhkan kepada yang menciptakan.
Dan kalau dia diciptakan berarti sekarang dia ada, sebelumnya dia tidak ada. Sesuatu yang sebelumnya tidak ada, maka yang demikian mungkin sekali setelah ada dia menjadi tidak ada kembali. Dia adalah sesuatu yang hādits, sesuatu yang terjadi baru sekarang.
Sebelumnya tidak ada, kemudian sekarang ada, maka yang demikian sifatnya kemungkinan nanti akan tidak ada. Nah kalau demikian sifat dia, maka bagaimana dia disembah selain Allāh? Padahal dia nanti tidak ada.
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian.” (QS. Āli ‘Imrān: 185)
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
Maka ini menunjukkan tentang lemahnya segala sesuatu yang disembah selain Allāh.
Syai’an di sini umum, karena dia adalah nakirah, sesuatu yang nakirah fī siyāqi an-nafyi, nafi di sini adalah lā, yaitu lā an-nāfiyah. Karena dia adalah nakirah fī siyāqin-nafyi, maka dia umum, segala sesuatu, selain Allāh, tidak ada yang menciptakan, yang menciptakan hanya Allāh.
Kalau Allāh saja yang mencipta, berarti yang disembah hanya Allāh, dan selain Allāh tidak berhak untuk disembah.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 21)
Berarti yang berhak untuk disembah adalah yang mencipta.
Dan dalam sebuah hadits, ketika Nabi ﷺ ditanya tentang, apa dosa yang paling besar? Penjelasan Umum Bab 15 dan Pembahasan QS Al araf 191 192Beliau mengatakan,
أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ
“Engkau menjadikan bagi Allāh sekutu, padahal Dia yang telah menciptakan dirimu.”
Engkau menjadikan bagi Allāh sekutu, yaitu engkau menyembah Allāh, dan juga menyembah selain Allāh, kemudian engkau mengetahui bahwasanya, Dialah yang telah menciptakan dirimu. Harusnya, kalau memang Allāh, Dia saja yang menciptakan kita, ibadah pun hanya kita serahkan kepada Allāh ﷻ.
Baiklah, syahidnya di sini, selain Allāh, tidak berhak untuk disembah, karena dia tidak bisa mencipta.
Di dalam ayat yang lain, Allāh mengatakan, Sebelumnya Allāh mengatakan,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ ۖ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ۚ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ
“Wahai manusia, telah dibuat suatu perumpamaan, maka dengarkanlah. Sesungguhnya segala sesuatu yang kalian sembah selain Allāh tidak akan dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Sama-sama lemahnya yang menyembah dan yang disembah.” (QS. Al-Hajj: 73)
Wahai manusia, telah dibuatkan bagi kalian perumpamaan, perumpamaan yang dengannya kalian memahami. Sesungguhnya, orang-orang atau segala sesuatu yang kalian sembah selain Allāh, itu tidak bisa menciptakan seekor lalat. Pikirkan dan renungkan, tidak bisa menciptakan seekor lalat. Dan lalat ini adalah makhluk yang kecil dan rangkaian tubuhnya atau susunan tubuhnya adalah sangat sederhana.
Allāh mengatakan mereka tidak akan bisa menciptakan seekor lalat. Menunjukkan lemahnya lagi, seandainya mereka semua bersatu. Bersatu segala sesuatu yang disembah selain Allāh.
Meskipun mereka bersatu, berkumpul untuk menciptakan seekor lalat, mereka tidak akan bisa. Berkumpul saja, mereka tidak bisa, apalagi sendiri-sendiri, tidak akan bisa. Ini perumpamaan menunjukkan kepada kita tentang kebatilan penyembahan kepada selain Allāh.
Istighatsah kepada selain Allāh, isti‘ādzah kepada selain Allāh. Maka ini adalah kesyirikan dan kebatilan, kesesatan.
وَلَا يَسْتَطِيعُونَ لَهُمْ نَصْرًا وَلَا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ
Dan mereka tidak mampu untuk menolong orang-orang yang menyembahnya.
Lahum, di sini kembali ke orang-orang yang menyembahnya. Mereka tidak mampu menolong. Seandainya yang menyembah mereka diserang oleh musuh, maka sesembahan-sesembahan ini tidak akan bisa menolong orang-orang yang menyembah mereka.
Berarti dia dalam keadaan lemah tidak bisa menghilangkan mudharat dan menghindarkan mudharat dari orang-orang yang menyembahnya. Bagaimana dia disembah? Kita menyembah kepada Dzat yang bisa menolong kita ketika kita membutuhkan. Dialah Allāh ﷻ.
Dialah yang memiliki nama An-Nāshir, Yang Maha Menolong. Dialah yang Al-Wakīl. Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Melihat, dan Dia Maha Mampu untuk melakukan segala sesuatu.
Dialah Al-Qahhār, yang mengalahkan segala sesuatu. Adapun sesuatu yang disembah selain Allāh, mereka tidak bisa menolong orang yang menyembah mereka. Bahkan mereka tidak bisa menolong diri mereka sendiri.
Ini menunjukkan bagaimana lemahnya segala sesuatu yang disembah selain Allāh. Menolong yang menyembah tidak bisa. Menolong diri mereka sendiri tidak bisa juga. Bagaimana yang demikian disembah? Baik, ini adalah dalil yang pertama.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته