Halaqah 75 | Kandungan-Kandungan Dalam Bab 14

Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-75 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauḥīd alladzhī huwa ḥaqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muḥammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī raḥimahullāh.

Masuk kita pada bab yang ke-14 yang diberi judul oleh beliau

بَابٌ مِنَ الشِّرْكِ أَنْ يَسْتَغِيثَ بِغَيْرِ اللَّهِ أَوْ يَدْعُوَ غَيْرَهُ

Bab termasuk kesyirikan beristighātsah kepada selain Allāh atau berdoa kepada selain Allāh.

Beliau mengatakan

فِيهِ مَسَائِلُ

Di dalamnya ada beberapa permasalahan.

الأُولَى: أَنَّ عَطْفَ الدُّعَاءِ عَلَى الِاسْتِغَاثَةِ مِنْ عَطْفِ الْعَامِّ عَلَى الْخَاصِّ

(1) Bahwasanya penyebutan doa setelah istighatsah ini termasuk penyebutan sesuatu yang umum setelah sesuatu yang khusus, karena istighatsah ini lebih khusus daripada doa.

الثَّانِيَةُ: تَفْسِيرُ قَوْلِهِ: {وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ}

(2) Tafsir firman Allāh, “Dan janganlah engkau berdoa kepada selain Allāh sesuatu yang tidak memberikan manfaat kepadamu dan tidak memberikan mudharat.” (QS. Yunus: 106).

Kalau dia disembah tidak memberikan manfaat, dan kalau dia tidak disembah maka tidak memberikan mudharat. Dan doa di sini mencakup di dalamnya istighatsah, dan di sini ada larangan, dan larangan asalnya menunjukkan keharaman.

الثَّالِثَةُ: أَنَّ هَذَا هُوَ الشِّرْكُ الْأَكْبَرُ

(3) Bahwasanya ini adalah termasuk kesyirikan yang besar.

Karena Allāh mengatakan setelahnya,

فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ

“Kalau engkau melakukannya, yaitu berdoa kepada selain Allāh, beristighatsah kepada selain Allāh, engkau termasuk orang-orang yang zhalim.” (QS. Yunus: 106).

Dan zhalim adalah kesyirikan, sebagaimana firman Allāh,

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya kesyirikan adalah kezhaliman yang sangat besar.” (QS. Luqman: 13)

الرَّابِعَةُ: أَنَّ أَصْلَحَ النَّاسِ لَوْ فَعَلَهُ إِرْضَاءً لِغَيْرِهِ صَارَ مِنَ الظَّالِمِينَ

(4) Orang yang paling shalih, yaitu Nabi ﷺ, seandainya beliau melakukan itu untuk mencari ridha manusia, niscaya beliau termasuk orang-orang yang zhalim, termasuk orang-orang yang musyrik.

Lalu bagaimana dengan selain beliau?

الْخَامِسَةُ: تَفْسِيرُ الْآيَةِ الَّتِي بَعْدَهَا

(5) Tafsir ayat yang kedua (setelahnya), yaitu firman Allāh.

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ

“Kalau Allāh ﷻ menimpakan kepadamu sebuah musibah, maka tidak ada yang menyingkapnya kecuali Allāh.” (QS. Yunus: 107)

Menunjukkan bahwasanya istighatsah hanya kepada Allāh.

السَّادِسَةُ: كَوْنُ ذَلِكَ لَا يَنْفَعُ فِي الدُّنْيَا مَعَ كَوْنِهِ كُفْرًا

(6) Yang demikian tidak bermanfaat di dunia, yaitu seseorang beristighatsah kepada selain Allāh maka ini tidak bermanfaat di dunia, dan dia adalah sebuah kekufuran yang merusak agama, dan membatalkan aqidah seseorang.

السَّابِعَةُ: تَفْسِيرُ الْآيَةِ الثَّالِثَةِ

(7) Tafsir ayat yang ketiga, yaitu firman Allāh ﷻ,

فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ

Yaitu: “Hendaklah kalian mencari rezeki hanya di sisi Allāh.” (QS. Al-Ankabut: 17)

الثَّامِنَةُ: أَنَّ طَلَبَ الرِّزْقِ لَا يَنْبَغِي إِلَّا مِنَ اللَّهِ كَمَا أَنَّ الْجَنَّةَ لَا تُطْلَبُ إِلَّا مِنْهُ

(8) Bahwasanya mencari rezeki tidak boleh kecuali dari Allāh saja, sebagaimana Surga tidak diminta kecuali dari Allāh saja. Karena di sini Allāh ﷻ mengkhususkan (فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ) hendaklah kalian mencari hanya dari Allāh saja.

التَّاسِعَةُ: تَفْسِيرُ الْآيَةِ الرَّابِعَةِ

(9) Tafsir ayat yang keempat.

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ……

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang-orang yang menyembah selain Allāh, (sembahan) yang tidak dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari Kiamat….” (QS. Al-Ahqāf: 5).

الْعَاشِرَةُ: أَنَّهُ لَا أَضَلَّ مِمَّنْ دَعَا غَيْرَ اللَّهِ

(10) Bahwasanya tidak ada yang lebih sesat daripada orang yang berdoa kepada selain Allāh, sampai hari kiamat dia tidak akan mendapatkan apa yang dia inginkan.

الْحَادِيَةَ عَشْرَةَ: أَنَّهُ غَافِلٌ عَنْ دُعَاءِ الدَّاعِي لَا يَدْرِي عَنْهُ

(11) Bahwasanya orang yang disembah tadi dan dia sudah meninggal dunia, baik wali, nabi, dan seterusnya. Dia tidak mendengar doanya orang yang berdoa kepadanya, tidak tahu, dan tidak menyadari yang demikian.

الثَّانِيَةَ عَشْرَةَ: أَنَّ تِلْكَ الدَّعْوَةَ سَبَبٌ لِبُغْضِ الْمَدْعُوِّ لِلدَّاعِي وَعَدَاوَتِهِ لَهُ

(12) Justru doa yang salah alamat tadi, menjadi sebab murkanya dan marahnya yang disembah.

Orang-orang shalih yang disembah tadi akan murka kepada orang-orang yang berdoa kepadanya, dan akan memusuhi mereka, sebagaimana disebutkan dalam ayat.

الثَّالِثَةَ عَشْرَةَ: تَسْمِيَةُ تِلْكَ الدَّعْوَةِ عِبَادَةً لِلْمَدْعُوِّ

(13) Penamaan doa tadi sebagai sebuah ibadah.

Karena tadi disebutkan (وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ) dan mereka dengan ibadah mereka (كَافِرِينَ) mereka kufur.

الرَّابِعَةَ عَشْرَةَ: كُفْرُ الْمَدْعُوِّ بِتِلْكَ الْعِبَادَةِ

(14) Pengingkaran yang disembah terhadap ibadah-ibadah tadi.

الْخَامِسَةَ عَشْرَةَ: أَنَّ هَذِهِ الْأُمُورَ سَبَبُ كَوْنِهِ أَضَلَّ النَّاسِ

(15) Bahwasanya perkara-perkara inilah yang menjadikan dia adalah manusia yang paling sesat. Sudah tidak mendapatkan manfaat, menjadi orang yang kufur, dan di akhirat dia dimusuhi dan dimurkai.

السَّادِسَةَ عَشْرَةَ: تَفْسِيرُ الْآيَةِ الْخَامِسَةِ

(16) Tafsir dari ayat yang kelima.

السَّابِعَةَ عَشْرَةَ: الْأَمْرُ الْعَجِيبُ، وَهُوَ إِقْرَارُ عَبَدَةِ الْأَوْثَانِ أَنَّهُ لَا يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِلَّا اللَّهُ، وَلِأَجْلِ هَذَا يَدْعُونَهُ فِي الشَّدَائِدِ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

(17) Yaitu firman Allāh,

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan.” (QS. An-Naml: 62).

Perkara yang sangat mengherankan bahwasanya di sini disebutkan bagaimana pengakuan orang-orang musyrikin bahwasanya,

لَا يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِلَّا اللَّهُ

Tidak ada yang mengabulkan doa orang yang kesusahan kecuali Allāh.

وَلِأَجْلِ هَذَا يَدْعُونَهُ فِي الشَّدَائِدِ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

Oleh karena itu mereka berdoa kepada Allāh dalam keadaan susah, mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allāh saja.

الثَّامِنَةَ عَشْرَةَ: حِمَايَةُ الْمُصْطَفَى ﷺ حِمَى التَّوْحِيدِ وَالتَّأَدُّبُ مَعَ اللَّهِ

(18) Penjagaan Nabi ﷺ terhadap batas-batas tauhid, dan bagaimana beliau berusaha untuk beradab bersama Allāh, yaitu yang disebutkan dalam hadits tadi,

إِنَّهُ لَا يُسْتَغَاثُ بِي

“Sesungguhnya tidak boleh istighatsah kepadaku.”

وَإِنَّمَا يُسْتَغَاثُ بِاللَّهِ

“Sesungguhnya istighatsah hanyalah dengan Allāh ﷻ.”

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته