Halaqah 74 | Pembahasan Hadits Riwayat Ath-Thabrani Dengan Sanad Lemah
Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-74 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauḥīd alladzhī huwa ḥaqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muḥammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī raḥimahullāh.
Masuk kita pada bab yang ke-14 yang diberi judul oleh beliau
بَابٌ مِنَ الشِّرْكِ أَنْ يَسْتَغِيثَ بِغَيْرِ اللَّهِ أَوْ يَدْعُوَ غَيْرَهُ
Bab termasuk kesyirikan beristighātsah kepada selain Allāh atau berdoa kepada selain Allāh.
Beliau mendatangkan hadits Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani,
وَرَوَى الطَّبَرَانِيُّ بِإِسْنَادِهِ
Ath-Thabrani beliau meriwayatkan dengan sanadnya.
Sanad hadits ini adalah sanad yang dhaif. Dan dia disebutkan oleh Imam Ath-Thabrani di dalam kitab beliau Al-Mu’jam Al-Kabir.
أَنَّهُ كَانَ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ ﷺ مُنَافِقٌ يُؤْذِي الْمُؤْمِنِينَ
Sesungguhnya dahulu di zaman Nabi ﷺ ada seorang munafik, yaitu orang yang menampakan keimanan dan menyembunyikan kekufuran, yang dia menyakiti orang-orang yang beriman.
Orang-orang munafik senangnya dia menyakiti Rasulullah ﷺ, menyakiti orang-orang yang beriman dengan ucapan mereka, dengan perilaku mereka, bahkan dengan isyarat-isyarat mereka.
Mereka mengganggu orang-orang yang beriman.
فَقَالَ بَعْضُهُمْ قُومُوا بِنَا نَسْتَغِيثُ بِرَسُولِ اللهِ ﷺ مِنْ هَذَا الْمُنَافِقِ
Maka sebagian orang-orang beriman mengatakan kepada yang lain, hendaklah kalian berdiri dengan kami, “Ayo kita beristighatsah dengan Rasulullah ﷺ,” yaitu kita minta pertolongan kepada beliau, dari orang munafik ini.
Karena mereka sudah merasa terganggu sekali dengan orang munafik ini sehingga mereka berencana untuk meminta pertolongan kepada Rasulullah ﷺ. Dan secara asal ini perkara yang boleh. Seperti yang tadi kita sebutkan, kalau terpenuhi empat syarat tadi. Istighatsah kepada orang yang masih hidup, dia berada di depan kita, mendengar ucapan kita, kemudian yang ketiga di dalam perkara yang dia mampu sebagai seorang manusia.
Dan dalam hal ini Rasulullah ﷺ mampu untuk melindungi mereka, karena beliau adalah seorang pemimpin, melarang mereka, memerintahkan mereka. Sehingga para sahabat pada saat itu mengatakan, atau sebagian mengatakan, “Ayo kita berdiri, kita meminta pertolongan kepada Rasulullah ﷺ dari orang munafik ini.” Kemudian,
فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ
Maka Nabi ﷺ berkata.
Ketika mendengar ucapan mereka, dan syakwa (شَكْوَى) mereka, karena mereka mengadu atas kejelekan orang munafik ini. Maka beliau mengatakan. Dengan adabnya beliau mengatakan,
إِنَّهُ لَا يُسْتَغَاثُ بِي، وَإِنَّمَا يُسْتَغَاثُ بِاللهِ ﷻ
“Sesungguhnya tidak boleh beristighatsah kepadaku.”
Sesungguhnya, لا di sini adalah penafian, dia adalah لا النافية. Cuma di sini fungsinya adalah للنهي, fungsinya adalah untuk menunjukkan larangan. Dan sebagian mengatakan uslub seperti ini, cara seperti ini adalah lebih dalam daripada langsung dilarang.
Ketika dikatakan,
إِنَّهُ لَا يُسْتَغَاثُ بِي
“Sesungguhnya tidak beristighatsah kepadaku.”
Maka ini lebih dalam daripada ucapan seseorang (لَا تَسْتَغِثْ بِي) janganlah engkau beristighatsah kepadaku.
إِنَّهُ لَا يُسْتَغَاثُ بِي
Nabi ﷺ adalah seorang Nabi dan Rasul, tapi beliau mengatakan, “Tidak boleh beristighatsah kepadaku.”
Menunjukkan bahwasanya selain beliau lebih aula, kalau beliau saja ﷺ yang sangat dekat dengan Allāh, tidak boleh kita beristighatsah dengan beliau, lalu bagaimana dengan selain beliau ﷺ.
وَإِنَّمَا يُسْتَغَاثُ بِاللَّهِ ﷻ
Dan sesungguhnya, innamā, innamā di sini adalah lilhashr (لِلْحَصْرِ), yaitu untuk menunjukkan pembatasan (وَإِنَّمَا يُسْتَغَاثُ بِاللَّهِ) sesungguhnya yang merupakan tempat untuk beristighatsah adalah Allāh ﷻ, bukan selain Allāh.
Dan ini menunjukkan sesuai dengan judul bab ini. Karena bab ini menerangkan tentang termasuk kesyirikan, maka di sini,
وَإِنَّمَا يُسْتَغَاثُ بِاللَّهِ
Sesungguhnya istighatsah itu hanya untuk Allāh ﷻ.
Di dalam hadits ini, Nabi ﷺ, seandainya hadits ini adalah hadits yang shahih, karena tadi kita sebutkan isnadnya adalah isnad yang dhaif. Seandainya dia adalah hadits yang shahih, maka ucapan Nabi ﷺ,
إِنَّهُ لَا يُسْتَغَاثُ بِي
“Sesungguhnya tidak boleh beristighatsah kepadaku.”
Maksudnya adalah istighatsah yang merupakan ibadah, jelas ini tidak boleh diserahkan kepada beliau ﷺ.
Atau maksudnya di sini adalah untuk adab, melatih adab kepada para sahabat, karena mungkin ada sebagian orang yang memahami lain tentang masalah istighatsah ini. Sehingga beliau ﷺ melarang para sahabatnya untuk beristighatsah dengan beliau ﷺ. Ini adalah termasuk adab bersama Allāh ﷻ.
Dan sudah berlalu bahwasanya beristighatsah kepada makhluk ini boleh dengan empat syarat tadi. Adapun istighatsah yang merupakan ibadah, dan tidak ada yang melakukannya kecuali Allāh, maka ini semua harus diserahkan hanya kepada Allāh, tidak boleh diserahkan kepada selain Allāh ﷻ.
Dan sekali lagi hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani di dalam Al-Mu’jam Al-Kabir dan dia adalah dengan sanad yang dhaif.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته