Halaqah 72 | Pembahasan QS. Yūnus: 106-107 dan QS. Al-Ankabut: 17
Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-72 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauḥīd alladzhī huwa ḥaqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muḥammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī raḥimahullāh.
Masuk kita pada bab yang ke-14 yang diberi judul oleh beliau
بَابٌ مِنَ الشِّرْكِ أَنْ يَسْتَغِيثَ بِغَيْرِ اللَّهِ أَوْ يَدْعُوَ غَيْرَهُ
Bab termasuk kesyirikan beristighātsah kepada selain Allāh atau berdoa kepada selain Allāh
Beliau mendatangkan firman Allāh ﷻ,
وَقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى
Kalau tadi kita baca بَابِ مِنَ الشِّرْكِ, maka وَقَوْلِ اللَّهِ karena dia di’athafkan. Tapi kalau tadi kita baca بَابٌ مِنَ الشِّرْكِ, maka dibaca وَقَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى. Allāh mengatakan,
وَلَا تَدْعُ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ
“Dan janganlah engkau berdoa kepada selain Allāh, kepada sesuatu yang tidak dapat memberikan manfaat kepadamu dan tidak pula memberikan mudharat kepadamu.” (QS. Yunus: 106).
Dan janganlah engkau berdoa kepada selain Allāh. Berarti di sini Allāh melarang. Karena لَا di sini adalah لَا النَّاهِيَةُ, yaitu lā yang menunjukkan larangan.
“Janganlah engkau berdoa.” Dan larangan asalnya adalah littahrīm (لِلتَّحْرِيمِ). Larangan menunjukkan diharamkan. Berarti berdoa kepada selain Allāh ini adalah perkara yang diharamkan, bahkan dia termasuk kesyirikan.
Karena setelahnya Allāh mengatakan,
وَلَا تَدْعُ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ
Janganlah engkau berdoa kepada selain Allāh, kepada sesuatu yang tidak memberikan manfaat kepadamu dan tidak memberikan mudharat.
Kalau kamu menyembahnya, dia tidak memberikan manfaat. Dan kalau kamu tidak menyembahnya, dia tidak akan memberikan mudharat kepadamu.
Adapun Allāh ﷻ, Dia-lah yang memberikan manfaat dan Dia memberikan mudharat. Orang yang beribadah kepada Allāh ﷻ, Allāh memberikan kepadanya banyak kebaikan. Dan orang yang tidak beribadah kepada Allāh ﷻ, maka Allāh ﷻ akan memberikan kepadanya adzab di dunia maupun di akhirat.
Maka janganlah engkau menyembah, berdoa kepada selain Allāh, kepada sesuatu yang tidak memberikan manfaat kepadamu dan tidak memberikan mudharat.
فَإِن فَعَلْتَ
“Kalau engkau melakukannya.”
Dan di sini khithabnya adalah kepada Nabi ﷺ. Yang diajak bicara di sini adalah Nabi ﷺ. Padahal beliau adalah orang yang tidak mungkin melakukan kesyirikan karena beliau adalah maksum. Nabi ﷺ saja dikatakan oleh Allāh ﷻ,
“Janganlah engkau berdoa kepada selain Allāh, kepada sesuatu yang tidak memberikan manfaat kepadamu dan tidak memberikan mudharat.”
Lalu bagaimana dengan selain beliau yang mungkin saja terjadi pada dirinya perkara ini? Maka tentunya ini lebih dilarang lagi.
فَإِن فَعَلْتَ
“Kalau engkau melakukannya,”
فَإِنَّكَ إِذٗا مِّنَ ٱلظَّٰلِمِينَ
“Maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang zhalim.”
Dan yang dimaksud dengan zhalim di sini adalah asy-syirk (الشِّرْك). Karena Allāh ﷻ mengatakan,
إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ
“Sesungguhnya kesyirikan benar-benar merupakan kezhaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13).
Sehingga di sini kita mengetahui bahwasanya berdoa kepada selain Allāh adalah termasuk kesyirikan yang besar. Dan larangan berdoa kepada selain Allāh, masuk di dalamnya adalah beristighātsah kepada selain Allāh. Karena istighātsah termasuk bagian dari doa. Doa kepada selain Allāh adalah syirik, dan istighātsah termasuk doa. Berarti istighātsah kepada selain Allāh hukumnya adalah syirik yang besar.
وَإِن يَمۡسَسۡكَ ٱللَّهُ بِضُرّٖ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَ
“Dan jika Allāh menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia.” (QS. Yunus: 107).
Kalau Allāh ﷻ memberikan kepadamu musibah, memberikan kepadamu dhurr (ضُرّ). Dhurr maksudnya adalah mudharat. Dan mudharat di sini, baik mudharat pada diri kita, harta kita, maupun anak dan istri kita.
وَإِن يَمۡسَسۡكَ ٱللَّهُ بِضُرّٖ
Kalau Allāh ﷻ menghendaki untuk memberikan mudharat kepadamu, dijadikan kita merasakan musibah tadi,
فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَ
Maka tidak ada yang bisa menyingkap musibah tadi kecuali Dia. Yang menurunkan musibah itulah yang bisa menyingkap musibah tadi.
وَإِن يُرِدۡكَ بِخَيۡرٖ فَلَا رَآدَّ لِفَضۡلِهِۦۚ يُصِيبُ بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۚ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ
“Dan jika Dia menghendaki kebaikan bagimu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 107).
Kalau Allāh ﷻ saja yang dapat mengangkat musibah, maka ini menjadi dalil bahwasanya istighātsah hanya kepada Allāh saja. Perkara yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allāh, maka kita beristighātsah hanya kepada Allāh saja. Karena Allāh mengatakan,
فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَ
“Tidak ada yang menyingkapnya kecuali Allāh.” (QS. Yūnus: 107)
Berarti menyerahkan istighatsah kepada selain Allāh adalah kesia-siaan belaka, karena tidak ada yang menyingkap dan menghilangkan sebuah musibah, kecuali Allāh ﷻ.
وَإِن يَمۡسَسۡكَ ٱللَّهُ بِضُرّٖ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَ
“Dan jika Allāh menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia.” (QS. Yūnus: 107)
Maka ini menunjukkan tentang wajibnya beristighatsah hanya kepada Allāh ﷻ.
وَقَوْلُهُ: فَٱبۡتَغُوا۟ عِندَ ٱللَّهِ ٱلرِّزۡقَ وَٱعۡبُدُوهُ
Dan juga firman Allāh ﷻ,
فَٱبۡتَغُوا۟ عِندَ ٱللَّهِ ٱلرِّزۡقَ وَٱعۡبُدُوهُ
“Maka hendaklah kalian mencari di sisi Allāh rezeki dan sembahlah Dia.” (QS. Al-‘Ankabūt: 17)
Sebelumnya Allāh mengatakan,
إِنَّمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوۡثَٰنٗا وَتَخۡلُقُونَ إِفۡكًاۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ لَا يَمۡلِكُونَ لَكُمۡ رِزۡقٗا فَٱبۡتَغُوا۟ عِندَ ٱللَّهِ ٱلرِّزۡقَ وَٱعۡبُدُوهُ وَٱشۡكُرُوا۟ لَهُۥٓۖ إِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ
“Sesungguhnya apa yang kalian sembah selain Allāh hanyalah berhala-berhala, dan kalian mengada-adakan kedustaan. Sesungguhnya apa yang kalian sembah selain Allāh itu tidak memiliki rezeki sedikit pun untuk kalian. Maka carilah rezeki di sisi Allāh, sembahlah Dia, bersyukurlah kepada-Nya, dan hanya kepada-Nya kalian akan dikembalikan.” (QS. Al-‘Ankabūt: 17)
Rezeki bukan dari dia, tapi dari Allāh. Kalau demikian,
فَٱبۡتَغُوا۟ عِندَ ٱللَّهِ ٱلرِّزۡقَ
“Maka hendaklah kalian mencari di sisi Allāh rezeki.” (QS. Al-‘Ankabūt: 17)
Jadi, sebelumnya Allāh ﷻ menafikan bahwasanya yang disembah selain Allāh ini tidak mungkin memiliki rezeki bagi kalian. Maka untuk apa seseorang beribadah kepada selain Allāh dan mencari rezeki dari selain Allāh?
فَٱبۡتَغُوا۟ عِندَ ٱللَّهِ ٱلرِّزۡقَ
“Maka hendaklah kalian mencari di sisi Allāh rezeki.” (QS. Al-‘Ankabūt: 17)
Berarti di sini, misalnya, seseorang terjadi atau tertimpa kemiskinan, kefakiran, dan ini adalah termasuk musibah. Bagaimana cara mengangkat musibah tadi? Dengan cara beristighatsah kepada selain Allāh ﷻ, meminta supaya dihilangkan dari musibah tadi.
فَٱبۡتَغُوا۟ عِندَ ٱللَّهِ ٱلرِّزۡقَ
Maka hendaklah kalian mencari di sisi Allāh rezeki. (QS. Al-‘Ankabūt: 17)
Dan ar-rizq (ٱلرِّزۡقَ) di sini, hak dia adalah di depan. Secara bahasa Arab, ar-rizq (ٱلرِّزۡقَ) di sini hak dia di depan, yaitu mengatakan,
فَٱبۡتَغُوا۟ ٱلرِّزۡقَ عِندَ ٱللَّهِ
“Hendaklah kalian mencari rezeki di sisi Allāh.”
Tapi ketika dia diakhirkan, ini menunjukkan kekhususan, sehingga para ulama menjelaskan,
تَقْدِيمُ مَا حَقُّهُ التَّأْخِيرُ وَتَأْخِيرُ مَا حَقُّهُ التَّقْدِيمِ يُفِيدُ الْخُصُوصَ، يُفِيدُ الْخُصُوصِيَّةَ
“Mendahulukan apa yang seharusnya diakhirkan dan mengakhirkan apa yang seharusnya didahulukan menunjukkan kekhususan.”
عِندَ ٱللَّهِ
Bukan ‘indal wali (عِندَ الْوَلِيِّ) atau ‘indan nabi (عِندَ النَّبِيِّ), tapi ‘indallāh (عِندَ ٱللَّهِ). Hendaklah kalian mencari rezeki, mencari di sisi Allāh, bukan di sisi yang lain, rezeki.
Karena banyak di sana orang yang tertimpa kesulitan dalam masalah harta dunia, terjerumus ke dalam kemiskinan, kefakiran, tapi dia bukan meminta dan beristighatsah kepada Allāh, tetapi justru beristighatsah kepada selain Allāh ﷻ.
وَٱعْبُدُوهُ وَٱشْكُرُوا۟ لَهُۥٓ ۖ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Dan hendaklah kalian berdoa dan beribadah kepada-Nya, mencari rezeki dan meminta rezeki dari Allāh, dan beribadahlah kalian, dan bersyukurlah kepada-Nya, kepada Dia-lah kalian akan dikembalikan, kepada Allāhlah kalian akan dikembalikan.
وَٱعْبُدُوهُ
“Hendaklah kalian menyembah kepada-Nya.”
Dan sebagian ulama menyebutkan, disebutkan di sini wa’buduh (وَٱعْبُدُوهُ) setelah disuruh untuk mencari rezeki, menunjukkan bahwasanya ibadah ini bisa menjadi sebab seseorang mendapatkan rezeki dari Allāh ﷻ.
وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ
“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit.” (QS. Al-A‘rāf: 96)
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ
Seandainya mereka beriman dan bertakwa, maka ini adalah ibadah, niscaya Kami akan menurunkan kepada mereka air dan keberkahan-keberkahan yang lain.
لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم
Yaitu Kami akan membukakan bagi mereka berkah-berkah dari langit maupun dari bumi, termasuk di antaranya adalah air. Diturunkan oleh Allāh ﷻ dari atas dan Allāh menumbuhkan tanam-tanaman. Ini semua adalah termasuk keberkahan. Berarti iman dan takwa ini menjadi sebab rezeki.
Dan Allāh ﷻ mengatakan,
وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barang siapa yang bertakwa kepada Allāh, maka Allāh memberikan kepadanya jalan keluar dan memberikan rezeki dari arah yang tidak dia sangka.” (QS. Ath-Thalāq: 2–3)
Syahidnya di sini adalah فَٱبْتَغُوا۟ عِندَ ٱللَّهِ ٱلرِّزْقَ (hendaklah kalian mencari rezeki dari Allāh).
Orang yang dalam keadaan kesusahan masalah keuangan, maka dia beristighatsahnya hanya kepada Allāh.
Bahkan ada sebagian ulama yang mengatakan rezeki di sini bukan hanya masalah harta. Tapi rezeki masuk di dalamnya kesehatan, masuk di dalamnya kuda tunggangan, atau masuk kalau di zaman sekarang mobil dan seterusnya. Mungkin dia mobilnya terkena sesuatu, atau hewannya terkena sesuatu, hartanya, kesehatannya, maka ini semua termasuk rizq (ٱلرِّزْقَ).
Jadi kita meminta kepada Allāh rezeki, masuk di dalam masalah rezeki harta, kesehatan, kendaraan, dan seterusnya.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته