Halaqah 71 | Penjelasan Umum Bab 14

Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-71 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauḥīd alladzhī huwa ḥaqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muḥammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī raḥimahullāh.

Masuk kita pada bab yang ke-14 yang diberi judul oleh beliau

بَابٌ مِنَ الشِّرْكِ أَنْ يَسْتَغِيثَ بِغَيْرِ اللَّهِ أَوْ يَدْعُوَ غَيْرَهُ

Bab termasuk kesyirikan beristighātsah kepada selain Allāh atau berdoa kepada selain Allāh

Di dalam bab ini beliau rahimahullah kembali menyebutkan kepada kita satu diantara jenis-jenis kesyirikan, yang banyak terjadi di antara manusia. Bahkan, di sana ada sebagian orang yang mereka mengaku muslim, menyerahkan diri kepada Allāh, tetapi terjerumus ke dalam istighātsah kepada selain Allāh.

Maka di sini beliau akan menjelaskan bahwasanya ini adalah termasuk kesyirikan yang bertentangan dengan syahadat Lā ilāha illallāh, bertentangan dengan pernyataan kita bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allāh.

Beliau mengatakan,

بَابٌ مِنَ الشِّرْكِ

Bab termasuk kesyirikan

Dan yang dimaksud dengan kesyirikan di sini adalah syirik yang besar, yang mengeluarkan seseorang dari agama Islam, membatalkan amalan, dan kalau pelakunya meninggal dunia dalam keadaan dia tidak bertaubat kepada Allāh, maka tempat kembalinya adalah Neraka dan diharamkan atasnya masuk ke dalam Surga Allāh ﷻ. Ini adalah termasuk syirik yang besar, bukan syirik yang kecil.

أَنْ يَسْتَغِيثَ بِغَيْرِ اللَّهِ

Seseorang beristighātsah

Yang dimaksud dengan istighātsah adalah meminta pertolongan (thalabul ghauts), yaitu meminta pertolongan dari musibah yang sudah menimpa, istighātsah meminta pertolongan kepada yang lain dari musibah yang sudah menimpa dirinya, meminta supaya musibah tadi diangkat, dihilangkan dari kesusahannya. Inilah yang dimaksud dengan istighātsah.

Kalau isti’adzah, maka ini meminta perlindungan dari kejelekan yang belum terjadi. Kalau istighātsah, meminta supaya dihilangkan dari kesusahan yang sudah terjadi.

أَنْ يَسْتَغِيثَ بِغَيْرِ اللَّهِ

Beristighātsah kepada selain Allāh. Maksudnya di sini adalah بِغَيْرِ اللَّهِ, dengan selain Allāh, apa saja baik malaikat, nabi, wali, pohon, batu, matahari, jin, maka itu semua masuk dalam بِغَيْرِ اللَّهِ, kepada selain Allāh.

Istighātsah, meminta kepada makhluk-makhluk tersebut untuk menyingkap, untuk menghilangkan perkara yang tidak mampu melakukannya kecuali Allāh, maka ini termasuk kesyirikan.

Contohnya misalnya ketika terjadi kemarau panjang, dia beristighātsah kepada wali, “Ya wali Fulan,” baik dia masih hidup, apalagi sudah meninggal dunia, “Ya wali Fulan, aghitsnā.” Atau mengatakan, “Ya Syaikh Abdul Qādir, aghitsnā,” atau mengatakan, “Wahai Nabi, aghitsnā, tolonglah kami, keluarkan kami dari kesusahan.”

Maka ini adalah termasuk kesyirikan kepada Allāh ﷻ, termasuk kesyirikan yang besar.

أَوْ يَدْعُوَ غَيْرَهُ

Atau berdoa kepada selain Allāh.

Maka berdoa kepada selain Allāh ini juga termasuk kesyirikan yang besar, karena doa adalah ibadah.

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

kata Nabi ﷺ. Doa itu adalah ibadah.

Dan Allāh berfirman

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.’ Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk ke dalam Jahannam dalam keadaan hina.” (QS. Ghafir: 60)

Dan berkata Rabb kalian, “Hendaklah kalian berdoa kepada-Ku.” Sesungguhnya orang-orang yang sombong dari beribadah kepada-Ku, yaitu berdoa kepada-Ku, mereka akan masuk ke dalam Jahannam dalam keadaan mereka terhina.

أَوْ يَدْعُوَ غَيْرَهُ

Atau berdoa kepada selain Allāh.

Kalau kita sudah tahu bahwasanya doa adalah ibadah, maka tentunya termasuk kesyirikan yang besar apabila doa tadi diserahkan kepada selain Allāh.

Kemudian, apa yang beliau sebutkan di sini, apa beda antara istighātsah dengan berdoa?

Berdoa ini lebih umum daripada istighātsah. Karena istighātsah tadi adalah khusus, meminta dihilangkan dari musibah yang sudah menimpa. Tapi kalau doa ini umum. Bisa sebelum menimpa musibah tersebut, dan ini dinamakan isti’adzah. Dan juga masuk di dalamnya setelah terjadinya musibah tadi. Berarti berdoa ini lebih umum daripada istighātsah.

Masuk di dalam doa adalah isti’adzah, isti’anah, dan istighātsah. Maka beliau menyebutkan di dalam judulnya bahwa istighātsah kepada selain Allāh dan berdoa kepada selain-Nya adalah termasuk kesyirikan yang besar.

Jadi, yang dimaksud dengan istighātsah yang termasuk kesyirikan yang besar di sini adalah istighātsah didalam perkara yang tidak mampu melakukannya kecuali Allāh. Seperti misalnya mendatangkan hujan. Tidak ada yang mampu melakukannya kecuali Allāh ﷻ.

Adapun istighātsah kepada makhluk dalam perkara yang dia mampu sebagai seorang makhluk, dan kita tidak meyakini bahwasanya dia yang memberikan manfaat, tetapi kita bertawakal kepada Allāh, kemudian makhluk tersebut dalam keadaan hidup, ada di depan kita, mendengar ucapan kita, dan dia sebagai seorang makhluk mampu untuk melakukannya, kalau terpenuhi syarat-syarat ini, maka boleh seseorang beristighātsah kepada selain Allāh, yaitu meminta pertolongan kepada makhluk, tetapi dengan empat syarat.

1. Makhluk tersebut dalam keadaan hidup.

2. Dia hadir dan mendengar apa yang kita ucapkan.

3. Didalam perkara yang dia mampu sebagai seorang makhluk. Contohnya misalnya kita dalam keadaan genting, sedang dikeroyok, dan seterusnya. Kemudian kita minta tolong kepada seorang polisi. Dia hidup, dia ada di depan kita, kemudian dia sebagai seorang makhluk mampu untuk melakukannya. Dia bisa melerai, dia bisa memberikan tembakan peringatan misalnya.

4. Tidak boleh kita bertawakal kepada polisi tadi. Bertawakal hanya kepada Allāh. Allāh-lah yang memberikan manfaat dan Dia-lah yang menolak mudharat.

Maka kalau terpenuhi empat syarat ini, boleh seseorang beristighātsah kepada makhluk, yaitu meminta pertolongan kepada makhluk.

Jadi yang dimaksud dengan istighātsah kepada selain Allāh yang termasuk kesyirikan adalah istighātsah yang merupakan ibadah. Di situ ada tawakal kepada makhluk tersebut. Orang yang mengatakan, “Ya Syaikh aghitsnā”, kemudian dia bertawakal kepada makhluk tersebut, apalagi dalam perkara yang tidak mampu melakukannya kecuali Allāh, apalagi dia dalam keadaan sudah meninggal dunia, atau dia dalam keadaan ghaib, tidak mendengar apa yang kita ucapkan, maka ini termasuk kesyirikan yang besar.

Sehingga di dalam sebuah ayat, Allāh ﷻ ketika menceritakan tentang ada dua orang, satu dari kaumnya Fir’aun dan satu dari kaumnya Nabi Musa, dari Bani Israil, mereka saling berkelahi.

هَٰذَا مِن شِيعَتِهِۦ وَهَٰذَا مِنْ عَدُوِّهِۦ

Ini adalah termasuk satu qabilah dengan Nabi Musa, dan ini adalah termasuk musuh beliau.

فَٱسْتَغَٰثَهُ ٱلَّذِي مِن شِيعَتِهِۦ عَلَى ٱلَّذِي مِنْ عَدُوِّهِۦ فَوَكَزَهُۥ مُوسَىٰ فَقَضَىٰ عَلَيْهِ

Maka orang yang termasuk kelompok Nabi Musa, yaitu dari Bani Israil, meminta perlindungan kepada Musa untuk memerangi musuhnya, supaya Musa membantu orang Bani Israil tadi untuk menyelesaikan atau melawan musuh mereka.

فَوَكَزَهُۥ مُوسَىٰ فَقَضَىٰ عَلَيْهِ

Maka Nabi Musa memukulnya, kemudian ternyata orang tersebut meninggal dunia.

Di sini ada seorang makhluk beristighātsah kepada makhluk yang lain. Ini boleh, tetapi dengan syarat-syarat yang tadi kita sebutkan.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته