Halaqah 69 | Pembahasan Hadits Khaulah bintu Hakīm Bag 2
Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-69 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauḥīd alladzhī huwa ḥaqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muḥammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī raḥimahullāh.
Beliau mendatangkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam Shahih-nya.
وَعَنْ خَوْلَةَ بِنْتِ حَكِيمٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: مَنْ نَزَلَ مَنْزِلًا فَقَالَ: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
Dan dari Khaulah bintu Hakīm, semoga Allāh meridhai beliau. Beliau mengatakan, aku mendengar Rasulullāh ﷺ bersabda, “Barang siapa yang menempati sebuah tempat atau singgah di sebuah tempat, kemudian dia mengatakan,
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
‘Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allāh yang sempurna dari kejelekan apa yang Dia ciptakan.'”
Kalimat yang ringkas, tetapi mengandung makna yang dalam.
مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
“Dari kejelekan apa yang Dia ciptakan.”
Maksudnya adalah dari kejelekan apa yang diciptakan oleh Allāh dan memiliki kejelekan. Karena tidak semua yang diciptakan oleh Allāh memiliki kejelekan.
Ada di antara makhluk Allāh yang sama sekali tidak ada kejelekannya, seperti misalnya Al-Jannah (الجَنَّةُ), Surga. Surga adalah makhluk Allāh dan tidak ada kejelekan di dalamnya. Dan di sana ada Al-Anbiyā’ (الْأَنْبِيَاءُ) yang mereka ma’shum (مَعْصُوم).
Dan di sana ada makhluk Allāh yang jelek, isinya adalah syarr (شَرّ), yaitu kejelekan, seperti iblis misalnya atau An-Nār (النَّار), Neraka. Maka isinya adalah kejelekan.
Kemudian di sana ada makhluk Allāh yang memiliki al-khair wa asy-syarr (الْخَيْرُ وَالشَّرُّ), memiliki kebaikan dan juga kejelekan. Maka kalau makhluk tersebut memiliki kejelekan, kita berlindung kepada Allāh.
مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
“Dari kejelekan apa yang Dia ciptakan.”
Neraka ada kejelekannya dan dia adalah kejelekan, maka kita berlindung kepada Allāh dari kejelekan adzab Neraka.
Iblis adalah kejelekan, maka kita berlindung kepada Allāh dari kejelekan iblis.
Dan makhluk yang di situ ada khairun wa syarr (خَيْرٌ وَشَرٌّ), ada kebaikan dan ada kejelekan, maka kita berlindung kepada Allāh dari kejelekannya.
Seorang manusia memiliki kehendak yang baik dan ada kehendak yang jelek. Ada hasad di dalam hatinya, ada iri, ada dengki, dan di sana juga mungkin ada sifat-sifatnya yang baik. Maka kita berlindung kepada Allāh dari kejelekan yang dia miliki. Kalau dia punya hasad, dia punya keinginan yang jelek, maka kita berlindung kepada Allāh dari kejelekan dirinya.
Inilah yang dimaksud dengan,
مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
“Dari kejelekan apa yang Dia ciptakan.”
Berarti di sini dia telah berlindung kepada Allāh dari seluruh kejelekan apa yang Allāh ﷻ ciptakan yang memang memiliki kejelekan tersebut.
Masuk di dalamnya kejelekan jin. Kita singgah di sebuah tempat dan mungkin di situ ada jin, maka kita berlindung kepada Allāh dari kejelekan jin, sehingga dia tidak mengganggu kita, tidak datang dalam mimpi kita, dan tidak menakut-nakuti kita.
Kemudian juga kita berlindung dari kejelekan hewan yang mungkin ada di tempat tersebut. Mungkin dia menyengat, mungkin dia menggigit, mungkin dia mengagetkan.
Demikian pula kita berlindung dari kejelekan manusia yang memiliki kehendak yang jelek, ingin berbuat jahat, dan seterusnya.
Ini semua masuk dalam makna مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
Kalau kita membaca doa ini, apa faedahnya dan apa pahalanya?
لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْحَلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ
“Tidak akan dimudharati oleh sesuatu apa pun.”
Dan di sini شَيْءٌ adalah nakirah fī siyāqin nafy (النَّكِرَةُ فِي سِيَاقِ النَّفْيِ). Ini adalah nakirah dan konteksnya di sini adalah penafian, berarti umum. Tidak akan dimudharati oleh sesuatu apa pun. Masuk di dalamnya jin, hewan, manusia, dan seterusnya. Tidak akan memudharati dia sesuatu apa pun.
حَتَّى يَرْحَلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ
“Sampai dia meninggalkan tempat tersebut.”
Artinya, Allāh ﷻ akan menjaga dia di tempat tersebut. Kalau dia berpindah ke tempat yang lain, maka dia membaca lagi doa ini. Karena apa faedah doa ini? Dijaga oleh Allāh dari segala sesuatu selama dia berada di tempat tersebut. Sehingga ketika dia berpindah ke tempat yang lain, maka dia membaca doa ini kembali.
Ini menunjukkan tentang pahala yang Allāh sediakan bagi orang yang membaca doa ini.
Dan pahala menunjukkan apa? Pahala menunjukkan bahwasanya dia adalah sesuatu yang dicintai oleh Allāh, berarti dia adalah ibadah. Berarti termasuk beribadah kepada Allāh adalah berlindung dengan kalimat-kalimat Allāh.
Dan kalau dia ibadah, maka tidak boleh diserahkan kepada selain Allāh. Tidak boleh diserahkan kepada jin, tidak boleh diserahkan kepada makhluk, karena dia adalah ibadah yang seseorang mendapatkan pahala dari ibadah tersebut.
Sehingga Syaikh di sini mendatangkan hadits ini ingin menjelaskan kepada kita bahwasanya isti’ādzah dengan kalimat-kalimat Allāh ini adalah sebuah ibadah. Barang siapa yang melakukan isti’ādzah ini kepada selain Allāh, maka dia telah terjerumus ke dalam kesyirikan.
Dan para ulama menjelaskan, apa yang kita baca ini hanyalah sebagai sebab, dan tentunya keputusannya ada di tangan Allāh. Kadang dengan sebab ini, kalau memang terpenuhi syaratnya dan tidak ada di sana penghalang, maka Allāh ﷻ akan melindungi kita, sebagaimana dalam hadits ini.
لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ
“Tidak akan dimudharati oleh sesuatu apa pun.”
Ini kalau terpenuhi syaratnya dan tidak ada di sana māni’ (مَانِع), tidak ada penghalang. Tetapi terkadang seseorang membaca doa ini, kemudian di sana ada penghalang yang menghalangi terkabulnya doa ini, sehingga dia pun terkena mudharat.
Maka seseorang berusaha untuk memenuhi syaratnya dan menghilangkan darinya penghalang.
Allāhu a’lam, di antara penghalangnya adalah kita kurang khusyuk, kurang konsentrasi, atau kurang yakin.
Ketika kita mengatakan,
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
tetapi tidak menghadirkan kekhusyukan, tidak menghadirkan hati, sehingga seseorang mungkin saja membaca doa tadi dan dia masih terkena mudharat.
Maka kita harus mengoreksi diri kita sendiri. Yang salah bukan doanya. Doanya berasal dari Nabi ﷺ, dan beliau tidak berbicara dari hawa nafsunya. Yang salah adalah pada diri kita sendiri. Mungkin kita kurang khusyuk, mungkin kita kurang yakin, dan seterusnya. Sehingga seseorang, meskipun dia membaca doa ini, dia tetap terkena mudharat.
Sebagian ulama terbiasa membaca doa ini ketika singgah di sebuah tempat. Kemudian pada suatu saat dia lupa, tidak membaca doa ini, sehingga terkena sengatan seekor hewan. Di situ dia baru sadar bahwasanya dia lupa tidak membaca doa ini.
رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته