Halaqah 175 | Penutup
Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-175 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.
Beliau mengatakan raḥimahullāh
فَهَذَا دِينُنَا وَاعْتِقَادُنَا ظَاهِرًا وَبَاطِنًا
Maka inilah, yaitu apa yang disebutkan oleh beliau dari awal, inilah agama kami, yaitu yang kami beragama dengannya, kami yakini, yang kami amalkan. Waʿtiqādunā, dan inilah yang menjadi akidah kami, ẓāhiran wa bāṭinan, baik secara ẓāhir maupun secara bāṭin.
Secara ẓāhir, inilah yang kami ucapkan, yang kami ajarkan, yang kami tulis. Wa bāṭinan, dan secara bāṭin, itulah yang kami yakini. Tidak ada yang kami sembunyikan. Kami bukan orang-orang munafik yang menampakkan sesuatu yang berbeda dengan bāṭinnya. Inilah yang ada di dalam bāṭin-bāṭin kami, tidak ada yang kami sembunyikan. Inilah yang kami ajarkan, tidak ada yang kami sembunyikan.
Agama Allāh jelas, berbeda dengan sebagian haliran, sebagian kelompok. Di depan orang, mereka mengatakan demikian, tapi ketika di dalam jamaah mereka sendiri berbeda lagi. Kita beragama bukan dengan cara seperti itu. Tidak ada yang kita sembunyikan, semuanya jelas agama ini, tidak ada yang kita sembunyikan. Silahkan yang mau mendengar, faḍlan, tidak ada yang kita sembunyikan. Yang mau belajar, faḍlan. Semua apa yang kita sampaikan ditulis dalam buku, diceramahkan oleh para ulama. Tidak ada yang kita sembunyikan.
وَنَحْنُ بُرَآءُ إِلَى اللهِ مِنْ كُلِّ مَنْ خَالَفَ الَّذِي ذَكَرْنَاهُ وَبَيَّنَّاهُ
Dan kami berlepas diri kepada Allāh, dan kami berlepas diri kepada Allāh dari setiap orang yang menyelisihi apa yang kami sebutkan dan apa yang kami jelaskan.
Yaitu kalau ada di sana orang-orang yang menyelisihi apa yang kami sebutkan berupa akidah ini, maka kami berlepas diri. Karena beliau sudah berusaha, ini adalah akidah Ahlus Sunnah wal Jamāʿah dari semenjak para shahabat Nabi ﷺ. Maka beliau berlepas diri dari setiap orang yang menyelisihi.
Namun seperti yang sudah kita lalui bersama dalam kitab ini, di sana ada perkara-perkara yang tidak kita sependapat dengan Al-Imām Abū Jaʿfar Aṭ-Ṭaḥāwī. Di sana ada perkara, dan ini suatu yang biasa, namanya ulama, mereka sudah berusaha sekuat tenaga, berijtihad mengikuti sunnah, tapi ada perkara-perkara yang beliau salah dalam perkara tersebut.
Maka tentunya apa yang beliau sebutkan di sana adalah secara umum, karena beliau menganggap bahwa apa yang beliau tulis semuanya adalah ḥaqq, sudah berusaha sesuai dengan kebenaran. Dan secara umum, kita berlepas diri dari seluruh perkara yang bertentangan dengan Al-Qur’ān dan Sunnah dengan pemahaman para salaf. Itu yang menjadi prinsip kita: kita berlepas diri dari setiap orang yang menyelisihi akidah yang bertentangan dengan Al-Qur’ān dan Sunnah dengan pemahaman para salaf.
Kemudian beliau raḥimahullāh berdoa kepada Allāh, karena menyadari bahwasanya tidak ada yang bisa menjaga keimanan seseorang kecuali Allāh ﷻ. Maka di akhir akidah ini beliau berdoa kepada Allāh dan mengatakan:
وَنَسْأَلُ اللهَ تَعَالَىٰ أَنْ يُثَبِّتَنَا عَلَىٰ الإِيمَانِ
Kita meminta kepada Allāh. Kita, bukan hanya mendoakan untuk diri beliau sendiri, tapi juga mendoakan untuk yang membaca kitab beliau: Semoga Allāh ﷻ menetapkan kita di atas iman, menguatkan kita di atas iman.
Karena iman bertambah dan juga berkurang. Di sana banyak pengaruh-pengaruh dari luar maupun dari dalam yang bisa menggoyahkan keimanan seseorang. Meskipun dia sudah belajar akidah Ath-Ṭaḥāwīyah dari awal sampai akhir, bahkan kitab-kitab yang lain, tapi kalau Allāh ﷻ tidak menguatkan keimanan dia dan akidah dia, maka akan goyah keimanan tersebut.
Nabi ﷺ banyak meminta kepada Allāh, mengatakan:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.
وَيَخْتِمَ لَنَا بِهِ
Dan semoga Allāh ﷻ menutup untuk kita dengannya, yaitu dengan keimanan.
Yaitu menutup umur kita, menutup kehidupan kita dengan keimanan. Karena al-aʿmāl bil-khawātīm, amalan itu sesuai dengan akhirnya. Kalau akhirnya baik, maka baik. Kalau akhirnya jelek, maka jelek. Doa Nabi Yūsuf ‘alaihis salam:
تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ
Wafatkanlah aku dalam keadaan Muslim dan gabungkan aku bersama orang-orang yang shāliḥ.
Dan Allāh mengatakan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allāh dengan sebenar-benarnya takwa, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan sebagai seorang Muslim. (QS. Āli ʿImrān: 102)
وَيَعْصِمَنَا مِنَ الأَهْوَاءِ المُخْتَلِفَةِ، وَالآرَاءِ المُتَفَرِّقَةِ
Dan semoga Allāh ﷻ menjaga kita dari hawa nafsu yang bermacam-macam. Karena hawa nafsu ini di antara hal yang menggelincirkan seseorang. Allāhu a’lam di sini berkaitan dengan syahwat — ini termasuk di antara yang bisa menggelincirkan seseorang. وَالْآرَاءِ الْمُتَفَرِّقَةِ, dan juga pendapat-pendapat yang bermacam-macam, ini berkaitan dengan syubhat.
Media yang ada di zaman sekarang ini semakin membahayakan: membawa syahwat dan juga membawa syubhat. Dan kalau seseorang tidak dijaga oleh Allāh ﷻ, maka dia bisa tergelincir sewaktu-waktu. Makanya beliau meminta kepada Allāh supaya dijauhkan, dijaga dari hawa nafsu-hawa nafsu yang bermacam-macam ini dan juga syubhat-syubhat yang bermacam-macam ini.
وَالمَذَاهِبِ الرَّدِيَّةِ
Dan juga mazhab-mazhab yang sesat, yang radiyyah, maksudnya adalah yang jatuh, yang menyimpang.
Dan yang dimaksud dengan mazhab di sini adalah aliran-aliran, bukan mazhab Mālikī atau Syāfiʿī atau Aḥmad bin Ḥanbal. Mazhahib di sini adalah lebih umum, yaitu cara pandang atau ajaran. Masuk didalamnya adalah aliran-aliran, dan ini yang beliau maksud di sini, aliran-aliran yang sesat seperti:
مِثْلِ المُشَبِّهَةِ، [وَالمُعْتَزِلَةِ]، وَالجَهْمِيَّةِ، وَالجَبَرِيَّةِ، وَالقَدَرِيَّةِ، وَغَيْرِهِم
- Musyabbihah, orang-orang yang menyerupakan Allāh dengan makhluk.
- Jahmiyyah, mazhabnya Jahm bin Ṣafwān yang mereka mengingkari nama dan juga sifat Allāh.
- Jabariyyah, mazhab Jabariyyah yang mereka mengatakan bahwasanya kita ini tidak punya masyīʾah, dan mengatakan bahwasanya yang melakukan kemaksiatan kita adalah Allāh, yang shalat adalah Allāh. Kita berlepas diri dari ajaran-ajaran seperti ini.
- Qadariyyah, demikian pula Qadariyyah, yang mereka mengatakan Allāh yang menciptakan kita, sedangkan kita yang menciptakan amalan kita.
- Wa ghayrihim, dan selain mereka.
Ini menunjukkan berlepas dirinya Abū Jaʿfar Ath-Thahawi dari seluruh aliran. Beliau berusaha untuk mengikuti jalan yang lurus, berlepas diri dari seluruh aliran,
مِنَ الَّذِينَ خَالَفُوا [السُّنَّةَ وَ]الجَمَاعَةَ
Aliran-aliran yang mereka menyelisihi jamāʿah. Maksudnya adalah menyelisihi jamāʿahnya Rasūlullāh ﷺ dan juga para shahabatnya. Secara umum beliau berlepas diri dari setiap orang yang menyelisihi jamāʿahnya Rasūlullāh ﷺ dan juga para shahabat.
وَحَالَفُوا الضَّلَالَةَ
Dan mereka bersekutu dengan kesesatan.
Ini yang seharusnya dimiliki oleh seorang Ahlus Sunnah wal Jamāʿah. Mereka berlepas diri, bukan justru malah mengatakan:
نَتَعَاوَنُ فِيمَا اتَّفَقْنَا، وَيَعْذُرُ بَعْضُنَا بَعْضًا فِيمَا اخْتَلَفْنَا
Kita saling bekerja sama, yaitu bekerja sama dengan aliran-aliran tersebut dalam perkara yang kita sepakat, akhirnya tidak ada di sana amr maʿrūf nahi munkar. Dan kita saling memberikan udzur satu dengan yang lain di dalam perkara yang kita perselisihkan. Antara Musyabbihah dengan Muʿaṭṭilah, antara Jahmiyyah dengan yang lain.
Ini prinsip sebagian golongan yang mereka sangat tipis walāʾ dan juga barāʾ-nya. Menganggap bahwasanya amr maʿrūf nahi munkar, membantah golongan yang sesat, ini adalah memecah belah umat. Padahal hakikatnya ini adalah mengajak mereka untuk bersatu di atas kebenaran, untuk kembali kepada kebenaran setelah sebelumnya mereka menyelisihi kebenaran.
Kemudian beliau mengatakan raḥimahullāhu,
وَنَحْنُ مِنْهُمْ بُرَآءُ
Dan kami berlepas diri dari mereka.
Berlepas diri dari seluruh aliran-aliran tadi. Ini yang harus dimiliki oleh seorang Ahlus Sunnah: kita berlepas diri dari seluruh aliran yang mereka menyelisihi jalannya Rasūlullāh ﷺ. Berlepas diri,
وَهُمْ عِنْدَنَا ضُلَّالٌ وَأَرْدِيَاءُ
Dan mereka ini menurut kami, yaitu menurut Ahlus Sunnah, adalah orang-orang yang terjatuh ke dalam kesesatan, yang mereka ardiya’, yaitu menyimpang dari jalan yang lurus.
Menurut kami mereka adalah sesat dan kami berlepas diri. Kemudian, kita menganggap mereka adalah sesat bukan berarti kita mendzhalimi mereka, atau kemudian kita serta merta memboikot mereka. Tapi kalau kita mengatakan bahwa mereka adalah sesat dan kita berlepas diri dari mereka, maka diikuti dengan keinginan untuk memperbaiki mereka. Mereka adalah sesat. Kalau mereka memang sesat, ya kita dakwahi mereka. Kita ajak mereka untuk kembali kepada al-ḥaqq. Bukan hanya sekadar mengatakan mereka adalah sesat, kita berlepas diri dari mereka, kemudian tidak ada usaha untuk mendakwahi mereka.
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang maʿrūf dan mencegah dari yang munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Āli ʿImrān: 104)
Kita ajak mereka untuk kembali kepada al-haq, bukan hanya sekedar mengatakan mereka adalah sesat kita berlepas diri dari mereka, kemudian tidak ada usaha untuk mendakwai mereka. Nabi ﷺ memerintahkan kita untuk berdakwah. Dan Allāh ﷻ memerintahkan kita untuk berdakwah:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dia lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk. (QS. An-Naḥl: 125)
Hendaklah engkau mengajak kepada jalan Rabb-mu. Kalau memang mereka tidak berada di atas jalan Allāh, ajak mereka ke jalan Allāh, dengan hikmah, dengan nasihat yang baik. Kita dakwahi mereka dengan akhlak yang benar, dengan cara yang benar.
Sebagaimana dahulu Nabi ﷺ berlepas diri dari orang-orang musyrikīn, tapi beliau mendakwahi mereka dengan kelembutan. Meyakini bahwasanya mereka ini kuffār, dan beliau mendakwahi mereka dengan kelembutan. Nabi Mūsā dan juga Nabi Hārūn diperintahkan untuk mendakwahi Firʿaun dengan kelembutan, padahal Firʿaun di sisi mereka adalah kāfir, jelas mengatakan anā rabbukumul-aʿlā, tapi tetap diperintahkan untuk berlemah lembut dengan mereka.
Jadi ucapan beliau
وَنَحْنُ مِنْهُمْ بُرَآءُ، وَهُمْ عِنْدَنَا ضُلَّالٌ وَأَرْدِيَاءُ
bukan berarti Ahlus Sunnah adalah orang yang kasar dalam dakwah mereka, tapi mereka berdakwah sesuai dengan yang dilakukan oleh Nabi ﷺ: penuh dengan hikmah, penuh dengan kelemah-lembutan. Keinginan dalam hatinya adalah bagaimana mereka mendapatkan hidayah, bukan untuk menghina mereka atau mencela mereka.
وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Dan Allāh ﷻ, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang kebenaran. Karena bagaimanapun, seorang ulama sudah berusaha menulis tentang masalah akidah, tentunya kembali Allāh Dia-lah yang lebih tahu. Dia hanya berusaha menulis. Mungkin apa yang beliau tulis benar, sesuai dengan harapan, dan mungkin saja beliau terjatuh ke dalam kesalahan.Maka beliau akhiri dengan mengatakan: Wallāhu aʿlamu biṣ-ṣawāb.
وَإِلَيْهِ المَرْجِعُ وَالمَآبُ
Dan kepada Allāh-lah tempat kembali kita semuanya.
Al-marjiʿ dan juga al-ma’abʿ ini hampir sama, hanya kepada Allāh tempat kembali. Sebagaimana firman Allāh:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Sesungguhnya kami milik Allāh dan sesungguhnya kepada-Nya lah kami kembali. (QS. Al-Baqarah: 156)
Kita adalah milik Allāh dan kita kembali kepada Allāh.
Al-ḥamdu lillāhi alladzī biniʿmatihi tatimmuṣ-ṣāliḥāt, ucapan
تَمَّتْ بِحَمْدِ اللَّهِ
ini adalah ucapan dari muḥaqqiq, bukan ucapan dari Al-Imām Abū Jaʿfar Aṭ-Ṭaḥāwī. Semoga Allāh ﷻ membalas Abū Jaʿfar Aṭ-Ṭaḥāwī dengan kebaikan.
Alḥamdulillāh, kita sudah banyak mengambil ilmu dari kitab yang beliau tulis. Dan kita berdoa kepada Allāh, semoga apa yang kita pelajari dari kitab ini menjadi ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang menjadikan kita semakin dekat dengan Allāh, semakin menguatkan akidah kita, dan ilmu yang kita amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Al-ḥamdu lillāhi alladzī biniʿmatihi tatimmuṣ-ṣāliḥāt.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته