Halaqah 165 | Mencintai Para Sahabat Merupakan Bagian Dari Agama

Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-165 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.

Beliau mengatakan raḥimahullāh

وَحُبُّهُمْ دِينٌ وَإِيمَانٌ وَإِحْسَانٌ

Dan mencintai mereka, yaitu mencintai para sahabat Nabi ﷺ, maka ini adalah bagian dari agama, keimanan, dan juga iḥsān.

Ini adalah bagian dari agama Islām. Islām mengajarkan kita untuk mencintai para sahabat, dengan alasan tadi: karena Allāh ﷻ mencintai mereka.

Imān, mencintai mereka adalah bagian dari keimanan. Bagian dari keimanan kita kepada Allāh ﷻ adalah kita mencintai para sahabat Nabi ﷺ. Berarti kita percaya dengan firman Allāh:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ

Dan orang-orang yang terdahulu masuk Islām di antara kaum Muhājirīn dan Anṣār. (QS. At-Taubah: 100)

Kita percaya, sehingga kita pun mencintai mereka.

Wa iḥsān: dan mencintai mereka adalah termasuk iḥsān, derajat yang paling tinggi di dalam agama kita, yaitu derajat iḥsān:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ، فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Engkau beribadah kepada Allāh seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.

Merasa diawasi oleh Allāh ﷻ. Mencintai para sahabat adalah termasuk iḥsān. Termasuk baiknya agama seseorang adalah ketika dia mencintai para sahabat raḍiyallāhu taʿālā ʿanhum.

Adapun orang yang merasa tidak diawasi oleh Allāh ﷻ, maka mereka mencela para sahabat raḍiyallāhu taʿālā ʿanhum.

وَبُغْضُهُمْ كُفْرٌ وَنِفَاقٌ وَطُغْيَانٌ

Dan membenci mereka adalah sebuah kekufuran, kenifakan, dan thughyan (melampaui batas).

Hati-hati. Membenci para sahabat adalah sebuah kekufuran. Karena itu disebutkan, ada di antara ulama yang mengkafirkan rāfiḍah. Di antaranya dalilnya adalah dalam ayat:

لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ

Supaya orang-orang kafir marah karena mereka (para sahabat). (QS. Al-Fatḥ: 29)

Kufār, yaitu orang-orang kafir, membenci para sahabat adalah sebuah kekufuran. Kenifakan. Ciri-ciri orang yang munāfiq, yaitu membenci para sahabat Nabi ﷺ.

Wa thughyan: dan ini adalah melampaui batas. Orang yang membenci para sahabat raḍiyallāhu taʿālā ʿanhum adalah melampaui batas. Ini adalah sebuah kezhaliman.

Dalam sebuah ḥadīts Nabi ﷺ mengatakan:

آيَةُ الْإِيمَانِ حُبُّ الْأَنْصَارِ، وَآيَةُ النِّفَاقِ بُغْضُ الْأَنْصَارِ

Ciri keimanan adalah mencintai Anṣār, dan ciri kenifakan adalah membenci Anṣār.

Ciri keimanan: mencintai Anṣār, yaitu golongan Anṣār. Dan ciri kenifakan adalah membenci Anṣār. Maka dari itu, beliau mengatakan:

وَبُغْضُهُمْ كُفْرٌ وَنِفَاقٌ وَطُغْيَانٌ

Membenci para sahabat adalah sebuah kenifakan. Karena mencintai mereka adalah bagian dari keimanan.

Kenapa di sini tidak disebutkan Muhājirīn? Mencintai Anṣār adalah sebuah keimanan. Lalu bagaimana dengan mencintai Muhājirīn?

Mencintai Muhājirīn lebih berhak dan lebih awlā. Dia termasuk bentuk keimanan. Kenapa demikian? Karena mana yang lebih utama, Muhājirīn atau Anṣār? Muhājirīn.

Kalau mencintai Anṣār adalah tanda keimanan, maka berarti mencintai Muhājirīn lebih-lebih lagi menunjukkan tentang tanda keimanan.

Dalam ḥadīts yang lain, Nabi ﷺ mengatakan:

الْأَنْصَارُ لَا يُحِبُّهُمْ إِلَّا مُؤْمِنٌ، وَلَا يُبْغِضُهُمْ إِلَّا مُنَافِقٌ، فَمَنْ أَحَبَّهُمْ أَحَبَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ أَبْغَضَهُ اللَّهُ

Orang-orang Anṣār tidak dicintai kecuali oleh orang yang beriman, dan tidak dibenci kecuali oleh orang munāfiq. Barang siapa mencintai mereka, maka Allāh mencintai dia. Dan barang siapa membenci mereka, maka Allāh membenci dia.

Maka kita mencintai para sahabat Nabi ﷺ supaya Allāh mencintai kita.

Dan tentunya, cinta yang sebenarnya yaitu cinta yang mengharuskan kita untuk mengikuti jejak para sahabat raḍiyallāhu ʿanhum.

Wa thughyān: dan berlebih-lebihan. Karena ini (yakni) membenci para sahabat, ini tidak pada tempatnya. Karena tempatnya adalah kita mencintai para sahabat. Orang yang membenci para sahabat berarti dia telah melampaui batas.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته