Halaqah 161 | Manusia Selalu Membutukan Allāh ﷻ Dalam Setiap Waktunya
Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-161 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.
Beliau mengatakan raḥimahullāh
وَلَا غِنَى عَنِ اللهِ تَعَالَىٰ طَرْفَةَ عَيْنٍ
Dan tidak ada merasa cukup dari Allāh ﷻ meskipun hanya sekejap mata.
Ghinā artinya adalah merasa cukup. Artinya, seseorang dalam setiap waktunya, tidak terkecuali, itu dalam keadaan dia sangat membutuhkan Allāh ﷻ.
Apakah ada satu kejap di dalam kehidupan kita, kita tidak diatur oleh Allāh ﷻ dan kita tidak butuh dengan Allāh ﷻ? Jawabannya: tidak ada sekejap pun. Atau kalau memang di sana ada yang lebih sedikit daripada satu kejap, seluruh makhluk itu dalam keadaan mereka membutuhkan Allāh ﷻ. Makanya beliau mengatakan: wa lā ghinā ʿaniLlāhi ṭarfata ʿaynin, tidak mungkin seorang makhluk itu merasa cukup dan tidak butuh kepada Allāh ﷻ meskipun hanya sekejap mata.
Cuma, ada di antara mereka yang merasakan yang demikian, mengakui yang demikian, menyadari yang demikian. Ada di antara mereka yang lalai, lalai bahwasanya dia ini sangat membutuhkan Allāh ﷻ dalam setiap waktu. Itu maksud ucapan beliau: wa lā ghinā ʿaniLlāhi ṭarfata ʿaynin.
Di dalam sebuah doa, Nabi ﷺ mengajarkan:
اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو، فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ
Ya Allāh, Raḥmat-Mu lah yang aku harapkan. Aku berusaha sesuai dengan kemampuanku yang sangat terbatas ini, dan yang lebih aku harapkan adalah Raḥmat-Mu, ya Allāh.
Allāhumma raḥmataka arjū, kasih sayang-Mu lah yang lebih aku harapkan daripada usahaku sendiri.
Fa-lā takilnī ilā nafsī ṭarfata ʿaynin, maka janganlah Engkau jadikan aku bertawakal kepada diriku sendiri meskipun hanya sekejap mata.
Doa yang sangat penting sekali, karena di situ kita meminta kepada Allāh ﷻ, jangan sampai kita bertawakal kepada diri kita sendiri dan lalai dan lupa kepada Allāh ﷻ, padahal dia adalah makhluk yang sangat lemah, yang tidak mungkin dia hidup tanpa bantuan dari Allāh ﷻ, tanpa pertolongan dari Allāh ﷻ meskipun hanya sekejap mata.
Kemudian,
وَمَنِ اسْتَغْنَى عَنِ اللهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ؛ فَقَدْ كَفَرَ
Dan barang siapa yang merasa cukup dari Allāh ﷻ meskipun hanya sekejap mata, sungguh dia telah keluar dari agama Islām.
Barang siapa yang merasa dirinya tidak butuh dengan Allāh ﷻ meskipun hanya sekejap mata—dia mengatakan: “Ana tidak butuh kepada Allāh ﷻ, hari ini saya tidak butuh kepada Allāh”—misalnya, maka dia telah keluar dari agama Islām. Jangankan hari ini, seandainya dia merasa tidak butuh kepada Allāh ﷻ dan merasa tidak perlu kepada Allāh ﷻ meskipun hanya sekejap mata, maka sungguh dia telah keluar dari agama Islām.
Kewajiban seorang makhluk, hukumnya adalah wajib: dia merasa dirinya butuh kepada Allāh ﷻ dalam setiap waktu. Keyakinan ini harus ada pada diri kita masing-masing. Cuma, terkadang kita lalai, kita lupa bahwasanya kita ini sangat butuh kepada Allāh ﷻ, sehingga kita jarang berdoa, sehingga kita melakukan berbagai aktivitas seakan-akan kita yang bisa melakukan itu sendiri tanpa bantuan dari Allāh ﷻ.
Nah, ini sebuah kekurangan yang ada dalam diri kita, tapi bukan berarti dia keluar dari agama Islām. Yang keluar dari agama Islām itu kalau sampai ada keyakinan di dalam dirinya bahwasanya dia tidak butuh dengan Allāh ﷻ. Nah, ini yang mengeluarkan seseorang dari agama Islām.
Adapun seorang Muslim yang dia mengakui, “Ya Allāh, saya butuh kepada-Mu ya Allāh. Saya butuh dikabulkan doanya ya Allāh. Saya butuh perhatian-Mu ya Allāh,” tapi kadang dia lalai karena kesibukan dan seterusnya—ini bukan termasuk orang yang dimaksudkan oleh Syaikh di sini: “Sungguh dia telah keluar dari agama Islām.”
وَصَارَ مِنْ أَهْلِ الحَيْنِ
Dan dia—yaitu orang yang merasa cukup dari Allāh ﷻ, yaitu merasa tidak butuh kepada Allāh ﷻ—ini termasuk ahlul-hain.
Al-hain artinya adalah bencana atau kebinasaan. Sehingga wa kāna min ahlil-hain, yaitu termasuk orang-orang yang binasa.
Jadi justru Allāh ﷻ sangat mencintai seorang hamba yang sangat merasa butuh kepada Allāh ﷻ. Semakin dia merasa butuh kepada Allāh ﷻ, Allāh ﷻ semakin mencintai hamba tersebut. Sedikit-sedikit dia meminta kepada Allāh ﷻ, sampai disebutkan bahwasanya sebagian salaf ketika putus sendalnya, dia meminta kepada Allāh ﷻ. Ya, sampai ketika putus sendalnya, dia meminta kepada Allāh ﷻ.
Dan dalam Hadits Qudsī, Allāh ﷻ mengatakan:
يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلَّا مَنْ أَطْعَمْتُهُ، فَاسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ
Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya kalian semua adalah lapar, maka mintalah makan kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikan makan kepada kalian.
Coba siapa di antara kita ketika dia lapar meminta kepada Allāh ﷻ: “Ya Allāh, berikan aku makanan, jadikanlah saya kenyang.” Rata-rata kita merasa di rumah ada makanan, ada nasi, ada lauk. Ana lapar, maka saya akan makan. Tapi jarang di antara kita yang menyadari: saya tidak mungkin mendapatkan makanan tadi, tidak mungkin bisa memasukkan makanan tadi, tidak mungkin saya bisa kenyang, tidak mungkin saya bisa menikmati, kecuali dengan kemudahan yang Allāh ﷻ berikan. Allāh ﷻ mengatakan: fastaṭʿimūnī, “Mintalah makan kepada-Ku.” Ya Allāh, berikan aku makan. Ya Allāh, berikan aku minum. Hilangkanlah lapar yang ada pada diriku. Hilangkanlah dahagaku, ya Allāh.
Kemudian Allāh ﷻ mengatakan:
يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلَّا مَنْ كَسَوْتُهُ، فَاسْتَكْسُونِي أَكْسُكُمْ
Wahai hamba-hamba-Ku, semuanya kalian masing-masing adalah telanjang, tidak memakai pakaian. Kalau Allāh ﷻ tidak memberikan pakaian, kita tidak punya pakaian. Maka mintalah kalian pakaian kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikan pakaian kepada kalian.
Siapa di antara kita yang berdoa meminta kepada Allāh ﷻ pakaian? Padahal kita tahu dan menyadari masing-masing dari kita bahwa tidak mungkin kita memakai pakaian tadi kecuali dengan kemudahan yang Allāh ﷻ berikan.
Maka, seorang semakin dia merasa butuh dengan Allāh ﷻ, semakin perlu kepada Allāh ﷻ, Allāh ﷻ semakin mencintai orang tersebut. Ditunjukkan dengan banyaknya dia berdoa, banyaknya dia bergantung kepada Allāh ﷻ. Bisa kita katakan itu berkaitan dengan Tauḥīd Rubūbiyyah, dan Tauḥīd Rubūbiyyah mengharuskan Tauḥīd Ulūhiyyah.
Kemudian beliau mengatakan raḥimahullāhu taʿālā:
وَاللَّهُ يَغْضَبُ وَيَرْضَى
Dan Allāh ﷻ, Dia-lah yang marah dan juga Riḍā.
Di sini berbicara tentang masalah nama dan juga sifat Allāh ﷻ, yaitu sifat Allāh: al-ghaḍab dan juga sifat ar-riḍā. Beliau ingin menetapkan bahwasanya di antara akidah beliau adalah menetapkan sifat bagi Allāh ﷻ, di antaranya adalah sifat marah dan juga sifat Riḍā.
Berdasarkan firman Allāh ﷻ, misalnya,
وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُّتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا
Dan barang siapa membunuh seorang Mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Neraka Jahanam, kekal ia di dalamnya. Allāh murka kepadanya, melaknatnya, dan menyediakan adzab yang besar baginya. (QS. An-Nisā’ [4]: 93)
Wa ghaḍiba Allāhu ʿalayh berarti Allāh ﷻ memiliki sifat ghaḍab, yaitu marah.
Dan Allāh ﷻ memiliki sifat Riḍā. Allāh ﷻ mengatakan
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
Allāh Riḍā kepada mereka dan mereka pun Riḍā kepada Allāh. (QS. Al-Bayyinah: 8)
Dan Allāh ﷻ mengatakan
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ
Allāh sungguh Riḍā kepada orang-orang yang beriman yang membaiatmu.
(QS. Al-Fatḥ: 18)
Dan Allāh ﷻ mengatakan
وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللَّهِ أَكْبَرُ
Dan keridaan dari Allāh itu adalah yang lebih besar. (QS. At-Taubah: 72)
Ini semua menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat Riḍā dan Allāh ﷻ memiliki sifat al-ghaḍab.
Kenapa di sini disebutkan sifat marah dan juga sifat Riḍā? Karena di sana ada ahlut-taʾwīl atau ahlut-taʿṭīl yang mereka menafikan sifat ghaḍab dan juga sifat Riḍā. Mereka mengatakan, “Kalau kita sifatkan Allāh dengan ghaḍab, marah, berarti kita menyerupakan Allāh dengan makhluk.” Karena yang namanya marah, ini adalah ghalayānuddam, ini adalah darah yang mendidih, berarti Allāh ﷻ punya darah seperti makhluk. Maka mereka menafikan sifat ghaḍab. Demikian pula sifat Riḍā, mereka menafikan. Ini adalah muʿaṭṭilah, masuk ke dalamnya ahlut-taʾwīl, mereka yang menakwil sifat ghaḍab dengan irādatul-intiqām, Riḍā dengan irādatun-niʿmah. Ghaḍab: keinginan untuk membalas. Yarḍā: diartikan dengan keinginan untuk memberikan kenikmatan.
Maka ini keyakinan Ahlus-Sunnah, bahwasanya Allāh ﷻ itu marah dan Allāh Riḍā. Allāh marah kepada siapa yang memang berhak untuk dimarahi oleh Allāh, dan Allāh Riḍā kepada setiap orang yang memang berhak untuk diridhai oleh Allāh.
لاَ كَأَحَدٍ مِنَ الوَرَى
Tidak seperti seorang pun dari makhluk.
Berarti di sini ada itsbāt, ada nafyu. Kita menetapkan: Wallāhu yaghdabu wa yarḍā, dan kita menafikan lā ka-aḥadin minal-warā sifat tersebut tidak sama dengan sifat makhluk.
Dan ini seperti firman Allāh:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Tidak ada yang serupa dengan Allāh, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Ash-Shūrā [42]: 11)
Berarti di sini ada penafian dan juga penetapan. Kita nafikan Allāh ﷻ dari sesuatu yang semisal dengan Allāh, dan kita tetapkan nama dan juga sifat Allāh, yaitu di antaranya adalah Maha Mendengar dan juga Maha Melihat.
Berarti di sana ada penafian dan di sana ada penetapan. Sama dengan yang diungkapkan oleh beliau di sini: Wallāhu yaghdabu wa yarḍā ini itsbāt, menetapkan. lā ka-aḥadin minal-warāʾ ini penafian, bahwasanya marahnya Allāh itu tidak sama dengan marahnya makhluk. Tapi itu adalah marah yang sesuai dengan keagungan Allāh. Keridaan Allāh juga demikian, tidak sama dengan keridaan yang dimiliki oleh makhluk. Jadi, baik marah maupun keridaan-Nya Allāh, ini sesuai dengan keagungan Allāh, tidak sama dengan yang dimiliki oleh makhluk.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته