Halaqah 160 | Orang Yang Sudah Meninggal Membutuhkan Doa Bukan Malah Dimintai Doa
Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-160 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.
Beliau mengatakan raḥimahullāh
وَاللَّهُ تَعَالَىٰ يَسْتَجِيبُ الدَّعَوَاتِ
Setelah sebelumnya menyebutkan tentang bahwa doa orang yang masih hidup untuk orang yang meninggal dunia ini bermanfaat, kemudian menyebutkan bahwa Allāh ﷻ, Dia-lah yang mengabulkan doa, dan Dia-lah yang menunaikan hajat, Dia-lah yang memiliki segala sesuatu dan bukan dimiliki oleh yang lain. Di sini, wallāhu ta’ala aʿlam, ketika beliau menyebutkan tentang doa orang yang masih hidup untuk orang yang meninggal dunia, mengingatkan tentang masalah Tauḥīd al-Ulūhiyyah. Di antara bentuk kesyirikan adalah berdoa kepada orang-orang yang sudah meninggal dunia. Harusnya orang yang meninggal dunia itu didoakan, bukan kita justru berdoa kepada orang yang meninggal dunia.
Di sini beliau mengatakan: “Dan di dalam doa orang yang masih hidup itu manfaat bagi orang yang meninggal dunia.” Ingin mengingatkan kita, wallāhu ta’ala aʿlam, bahwasanya yang namanya orang meninggal itu didoakan dan bukan kita berdoa kepadanya.
Syaikh ʿAbdul Muḥsin al-ʿAbbād ḥafiẓahullāhu taʿālā, ketika beliau—dan sering di dalam majelis beliau—ketika menjelaskan tentang Nabi ﷺ dan bahwasanya kita mengucapkan shalawāt dan juga salām, menunjukkan bahwasanya Nabi ﷺ itu didoakan, bukan kita berdoa kepada beliau. Beliau mengatakan,
ٱلَّذِي يُدْعَىٰ لَهُ لَا يُدْعَىٰ
“Yang didoakan dengan kebaikan, ya jangan kita berdoa kepadanya.”
Kan kita mendoakan kebaikan untuk beliau dengan mengucapkan shalawāt dan salām, kan kita hakikatnya mendoakan kebaikan untuk beliau. Jadi, jangan kita berdoa kepada beliau.
وَالَّذِي يُدْعَى لَا يُدْعَى لَهُ
Dan Allāh ﷻ yang kita berdoa kepada-Nya, tidak boleh kita mendoakan kebaikan untuk Allāh.
Makanya dilarang kita mengatakan as-salāmu ʿalā Allāh. Jadi, yang kita berdoa kepada-Nya tidak kita doakan, yang kita doakan dengan kebaikan tidak boleh kita berdoa kepadanya.
Kemudian juga setelahnya beliau mengatakan bahwasanya Allāh, Dia-lah yang mengabulkan doa. Selain Allāh tidak mengabulkan doa. Orang yang berdoa kepada selain Allāh, sebagaimana disebutkan oleh Allāh ﷻ, adalah orang yang sangat sesat:
وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ
Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang berdoa kepada selain Allāh, kepada (sesembahan) yang tidak dapat memperkenankan (doanya) sampai hari Kiamat dan mereka terhadap (doa) mereka lalai.
(QS. Al-Aḥqāf: 5)
Kemudian dalam surat yang lain, Allāh ﷻ menyebutkan bahwasanya orang-orang yang berdoa kepada selain Allāh itu seperti orang yang mengangkat tangannya untuk mengambil air, kemudian dia ingin menyampaikan air tadi ke mulutnya:
لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ ۖ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِهِ لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُم بِشَيْءٍ إِلَّا كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ إِلَى الْمَاءِ لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَالِغِهِ ۚ وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ
Hanya bagi-Nya-lah (Allāh) doa yang benar. Dan orang-orang yang mereka seru selain Dia, tidak dapat memperkenankan sesuatu pun dari (doa) mereka, kecuali seperti orang yang membentangkan kedua tangannya ke air supaya sampai ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka. (QS. Ar-Raʿd: 14)
Allāh ﷻ, Dia-lah yang memiliki doa yang benar, yang memang berhak untuk kita berdoa kepada-Nya, yaitu Allāh. Dan selain Allāh yang diminta, maka mereka tidak mengabulkan doa sedikit pun, kecuali seperti orang yang mengedepankan kedua telapak tangannya ke air kemudian supaya air tadi sampai ke mulutnya, wa mā huwa bi bālighih, maka tidak akan sampai. Dan tidaklah doa orang-orang kafir kecuali dalam kesesatan.
Jadi, di sini beliau mengingatkan tentang Tauḥīd al-Ulūhiyyah. Allāh ﷻ, Dia-lah yang mengabulkan doa, dan Dia-lah yang menunaikan hajat manusia. Dia-lah yang memiliki segala sesuatu. Yang ini semua melazimkan kita untuk mentauhidkan Allāh ﷻ dalam ibadah. Berarti dalam Aqidah Ath-Thahawiyah juga disinggung, selain dari yang pertama dahulu tentang masalah pembagian Tauḥīd. Maka di sini juga disinggung tentang masalah Tauḥīd al-Ulūhiyyah.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته