Halaqah 141 | Ahlus Sunnah Beriman dengan Adanya Fitnah Kubur

Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-141 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.

Beliau mengatakan

وَسُؤَالِ مُنْكَرٍ وَنَكِيرٍ لِلْمَيِّتِ فِي قَبْرِهِ

Dan kita juga beriman dengan pertanyaan Munkar dan juga Nakīr.

Munkar dan juga Nakīr ini adalah nama malaikat. Selain adzab kubur yang kita imani, di sana ada fitnah kubur. Fitnah kubur yaitu pertanyaan yang diajukan di alam kubur. Siapa yang bertanya? Munkar dan juga Nakīr.

إِذَا دُفِنَ أَحَدُكُمْ أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ، يُقَالُ لِأَحَدِهِمَا الْمُنْكَرُ، وَلِلْآخَرِ النَّكِيرُ

Kalau salah seorang di antara kalian dikuburkan, maka akan mendatanginya dua malaikat yang hitam lagi biru. Salah satu dari keduanya dinamakan Munkar dan yang lain dinamakan dengan Nakīr.

Kemudian bertanya tentang tiga pertanyaan, lil mayyit, bertanya kepada mayit tadi. Dan ini umum, baik seorang mayit yang Muslim maupun tidak Muslim, baik yang Muslim maupun yang munāfik, baik yang Muslim maupun yang kāfir—semuanya akan ditanya, kecuali yang memang di sana ada pengecualian. Seperti orang yang meninggal di hari Jumʿat atau di malam Jumʿat, maka disebutkan dalam Hadits bahwasanya dia akan dijaga oleh Allāh dari fitnah kubur.

Demikian pula orang yang meninggal dalam keadaan syahīd. Dalam sebuah Hadits, Nabi ﷺ ditanya oleh para shahabatnya:

مَا بَالُ الْمُؤْمِنِينَ يُفْتَنُونَ فِي قُبُورِهِمْ إِلَّا الشَّهِيدَ؟

Kenapa orang-orang yang beriman ditanya dalam alam kubur mereka kecuali orang yang mati syahīd?

Beliau mengatakan:

كَفَى بِبَارِقَةِ السُّيُوفِ عَلَى رَأْسِهِ فِتْنَةً

Cukuplah kilatan pedang yang ada di depannya itu sebagai fitnah.

Itu sudah cukup menjadi bukti bahwasanya dia adalah orang yang beriman. Ini pengecualian. Yang lainnya yang tidak masuk pengecualian, maka asalnya adalah ditanya tentang tiga pertanyaan ini.

فِي قَبْرِه عَنْ رَبِّهِ وَدِينِهِ وَنَبِيِّهِ

Di dalam kuburnya ditanya tentang Rabb-nya: Siapa Rabb-mu? Siapa yang engkau sembah tiap hari dan engkau bergantung kepada-Nya, siapa?

Tentunya orang yang bertauhid, karena dia memang dzhahir dan juga batin adalah menyembah Allāh saja, tidak menyekutukan Allāh dengan sesuatu apa pun. Maka Allāh ﷻ akan memberikan taufiq kepada-Nya untuk mengatakan:

رَبِّيَ اللَّهُ

Rabb-ku adalah Allāh.

Aku tidak menyembah selain Allāh. Tidak ada sesembahan yang aku sembah selain Allāh. Ini jawaban orang yang beriman. Tapi orang munāfik, orang kāfir ketika ditanya Siapa Rabb-mu? , mereka berkata:

هَاهْ هَاهْ، لَا أَدْرِي

Haah haah, aku tidak tahu.

‘An dīnihi — ditanya tentang apa agamamu, yang engkau jadikan manhaj di dalam kehidupanmu, cara dalam kehidupanmu, yang engkau senantiasa kembali kepadanya ketika antum ada masalah. Apa yang ada dalam agama, bagaimana petunjuk Allāh, dan maksudnya dalam masalah ini.

Tentunya orang yang menjadikan Islam ini sebagai manhaj kehidupannya, dia akan mengatakan: “Dīnī al-Islām, agamaku adalah Islam. Inilah yang aku jadikan tuntunan di dalam kehidupanku.”

Wanabiyyihi — dan akan ditanya tentang Nabinya: siapa Nabimu yang engkau imani dia, yang engkau ikuti syariatnya. Tentunya seorang Ahlus-Sunnah yang dia benar-benar mengikuti Nabi ﷺ dalam ʿaqīdah, dalam ibadah, Allāh ﷻ akan memberikan taufiq, dia mengatakan: “Nabiyyī Muḥammadun. Nabiku adalah Muḥammad, itulah yang aku contoh.”

Ini sangat erat kaitannya dengan praktik dia di dunia. Pertanyaan ini tidak cukup untuk dijawabnya dengan cara menghafal, karena kalau hanya sekadar menghafal, siapa saja bisa. Orang munafik juga bisa. Tapi orang yang mendapatkan taufiq saat itu adalah orang yang memang benar-benar mengamalkan perkara-perkara ini di dunia. Benar-benar di dunia dia menyembah Allāh ﷻ, menjadikan Islam sebagai manhaj kehidupan dia, menjadikan Nabi ﷺ sebagai panutan dia.

Dan alhamdulillāh, pertanyaan telah dibocorkan, dan sekarang adalah waktu untuk mempersiapkan jawabannya dengan baik. Dan untuk bisa menjawab pertanyaan dengan baik adalah dengan mempraktikkan dan mengamalkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan awal dari praktik, awal dari pengamalan adalah tentunya menuntut ilmu agama.

عَلَىٰ مَا جَاءَتْ بِهِ الأَخْبَارُ عَنْ رَسُولِ اللهِ ، وَعَنِ الصَّحَابَة رَضِيَ اللهُ عَنهُمْ أَجْمَعِينَ

Sesuai dengan kabar-kabar yang datang dari Rasūlullāh ﷺ dan dari para ṣaḥabatnya raḍiyallāhu ʿanhum ajmaʿīn.

Ada Hadits yang berkaitan dengan masalah fitnah kubur, adzab kubur, banyak. Nabi ﷺ ketika melewati dua kuburan kemudian mengatakan:

إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ

Sesungguhnya keduanya sedang diazab, dan keduanya tidak diazab karena perkara yang besar

أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ

Adapun yang pertama, maka tidak membersihkan dirinya dari air kencing, adapun yang kedua dia melakukan adu domba.

Ini juga menunjukkan tentang adzab kubur.

Hadits al-Barāʾ ibn ʿĀzib, Hadits yang panjang tentang perjalanan seseorang mulai dari sebelum diambil nyawanya sampai diazab di dalam kuburnya, dan sampai dia mendapatkan nikmat di dalam kuburnya karena itu adalah orang yang bertakwa. Maka kita beriman sesuai dengan kabar-kabar yang datang kepada kita, baik itu yang dinukil dari Rasūlullāh ﷺ maupun dari para ṣaḥabatnya.

Dan kalau ini berkaitan dengan perkara yang ghaib seperti ini kemudian diucapkan oleh para ṣaḥabat, yakinlah bahwasanya mereka tidaklah mengabarkan itu kecuali ada dasarnya. Hukumnya adalah Hadits yang marfūʿ, karena yang demikian tidak mungkin dengan ijtihad para ṣaḥabat.

Kalau memang sanad-nya shahih sampai ṣaḥabat tadi, yakinlah, meskipun mauqūf, diucapkan oleh seorang ṣaḥabat, tapi hukumnya adalah hukum Hadits yang marfūʿ, karena mereka tidak mungkin berbicara dengan akalnya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته