Halaqah 139 | Beriman Kepada Malaikat yang Mulia Pencatat Amal Manusia dan Malaikat Maut

Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-139 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.

Beliau mengatakan

وَنُؤْمِنُ بِالكِرَامِ الكَاتِبِينَ، وَأَنَّ اللهَ قَدْ جَعَلَهُمْ عَلَيْنَا حَافِظِينَ

Sekarang beliau kembali lagi ke rukun iman, yaitu tentang beriman dengan malaikat. Sebenarnya pembahasan tentang iman dengan malaikat sudah pernah disinggung oleh beliau, ya meskipun secara global, yaitu beriman dengan para malaikat-malaikat Allāh. Nah, di sini ada sedikit perincian. Beliau mengatakan wa nuʾminu bil-kirāmil-kātibīn, dan kita beriman dengan al-kirāmil-kātibīn, yaitu dengan malaikat-malaikat yang mereka memiliki sifat karām, yaitu mulia, atau hatinya adalah hati yang pemurah.

Al-kātibīn, mereka menulis, yaitu menulis amalan kita. Diperintahkan oleh Allāh untuk menulis seluruh amalan kita:

وَأَنَّ ٱللَّهَ تَعَالَى قَدْ جَعَلَهُمْ عَلَيْنَا حَافِظِينَ

Dan sesungguhnya Allāh ﷻ telah menjadikan mereka menjaga kita atau mengawasi kita. Apa dalilnya? Firman Allāh ﷻ:

وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ ۝ كِرَامًا كَاتِبِينَ

Dan sesungguhnya ada pada kalian malaikat-malaikat yang menjaga (mengawasi). Mereka adalah malaikat-malaikat yang mulia dan mereka menulis (amalan kalian). (QS. Al-Infiṭār: 10–11)

Dan di dalam ayat yang lain, Allāh ﷻ mengatakan:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya ada malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS. Qāf: 18)

Ini juga menjadi dalil tentang adanya malaikat yang ditugaskan oleh Allāh ﷻ untuk menulis apa yang dilakukan oleh manusia, apa yang diucapkan oleh mereka, ini juga harus kita imani.

Wallāhu aʿlam, di sini beliau menyebutkan terkhususnya tentang masalah malaikat-malaikat yang mencatat, karena mungkin ada sebagian di sana, khususnya orang-orang yang mendahulukan akal: “Bagaimana ditulis seluruh amalan kita, seluruh ucapan kita, yang kita tidak berhenti-berhenti sedikit-sedikit kita mengamalkan, sedikit-sedikit kita mengucapkan, bagaimana mereka menulis itu semuanya dengan lengkap?”

Sehingga mungkin di sana ada yang mengingkari adanya malaikat-malaikat yang ditugaskan untuk menulis ini, padahal jelas firman Allāh ﷻ

وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ ۝ كِرَامًا كَاتِبِينَ

kita harus imani. Dan termasuk di antara iman kepada malaikat adalah beriman bahwasanya Allāh ﷻ telah menugaskan kepada mereka, di antaranya adalah ditugaskan untuk mencatat amalan manusia.

وَنُؤْمِنُ بِمَلَكِ المَوْتِ المُوَكَّلِ بِقَبْضِ أَرْوَاحِ العَالَمِينَ

Dan kita beriman dengan malaikat maut.

Ada malaikat yang ditugaskan untuk mencabut nyawa, maka kita beriman. Jangan kita mengatakan: “Bagaimana mencabut nyawa, sementara setiap harinya yang meninggal ini banyak. Bagaimana dia berada di sana, kemudian di sana juga ada yang meninggal,” dan seterusnya. Akhirnya dia mengingkari apa yang telah ditetapkan oleh Allāh ﷻ dan juga Rasul-Nya ﷺ.

Ada di sana malaikat yang bertugas untuk mencabut nyawa, yaitu Malakul-Maut. Dalam beberapa tempat di dalam Al-Qur’an, Allāh ﷻ menyebutkan tentang Malakul-Maut. Di antaranya adalah firman Allāh ﷻ:

قُلْ يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ ٱلْمَوْتِ ٱلَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ

Katakanlah akan mewafatkan kalian Malaikat maut yang telah diwakilkan kepada kalian (untuk mencabut nyawa), kemudian kepada Rabb kalianlah kalian akan dikembalikan. (QS. As-Sajdah: 11)

Maka apa yang kita ragukan lagi? Allāh ﷻ mengatakan:

قُلْ يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ ٱلْمَوْتِ

berarti ada disana malaikat yang mencabut nyawa.

المُوَكَّلِ بِقَبْضِ أَرْوَاحِ العَالَمِينَ

Yang ditugaskan oleh Allāh ﷻ untuk mencabut nyawa Al-ʿālamīn.

Al-ʿālamīn di sini adalah jamak dari ʿālam. Dan ʿālam dalam bahasa Arab maksudnya adalah makhluk Allāh ﷻ yang mereka memiliki sejenis, mereka banyak dan sejenis. Contoh, misalnya ʿālam manusia, kemudian di sana ada ʿālam hewan, di sana ada ʿālam jin. Jamaknya yaitu al-ʿālamīn.

Yang bertugas untuk mencabut nyawa al-ʿālamīn, yang mencabut nyawa jin, atau mencabut nyawa manusia, atau mencabut nyawa hewan, maka ini harus kita imani yang demikian.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته