Halaqah 134 | Ahlus Sunnah Mencintai Orang yang Adil dan Orang yang Melaksanakan Amanah Bag 3
Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-134 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.
Masuk kita pada pembahasas bahwa Ahlussunnah, mereka mencintai orang-orang yang adil dan orang-orang yang melaksanakan amanah.
Dan kita juga mencintai Ahlul Amānah, kita mencintai Ahla Al-Amānah, orang-orang yang melaksanakan amanah, kita mencintai mereka. Orang yang adil kita senang, dan orang amanah kita juga mencintai, yaitu Ahlus Sunnah mencintai orang-orang yang amanah.
Dan ini juga bisa dikaitkan dengan paragraf sebelumnya berkaitan dengan masalah penguasa, karena apa yang dilimpahkan kepada mereka ini merupakan amanah yang besar. Kalau mereka melaksanakan amanah ini dengan baik, menegakkan hukum Allāh, kemudian dia berbuat adil kepada rakyatnya, maka tentunya ini adalah pahala yang besar bagi mereka.
Dan Allāh ﷻ di dalam Al-Qur’an menyuruh kita untuk melaksanakan amanah, menunaikan amanah, sebagaimana firman Allāh:
إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا ٱلْأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا ۖ وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحْكُمُوا۟ بِٱلْعَدْلِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعًۭا بَصِيرًۭا
Sesungguhnya Allāh menyuruh kalian untuk menunaikan amanat kepada yang berhak, ya’murukum kata Allāh, Allāh menyuruh kalian untuk menunaikan amanat kepada yang berhak. Ini yang pertama
Wa idzā ḥakamtum bayna an-nāsi an taḥkumū bil-ʿadli — kalau kalian menghukumi di antara manusia, maka hendaklah kalian menghukumi dengan cara yang adil. Berarti di sini ada penyebutan amanah, dan di sini juga disebutkan tentang keadilan.
Innallāha niʿimmā yaʿiẓukum bih, innallāha kāna Samīʿan Baṣīrā — sesungguhnya Allāh ﷻ, sangat indah apa yang Allāh nasihatkan kepada kita, sesungguhnya Allāh adalah Dzat yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. An-Nisāʾ: 58)
Dalam ḥadīts Nabi ﷺ mengatakan:
أَدِّ ٱلْأَمَانَةَ إِلَىٰ مَنِ ٱئْتَمَنَكَ
“Hendaklah engkau tunaikan amanah kepada orang yang memberikan amanah kepadamu.”
Dan di dalam Al-Qur’an, Allāh ﷻ ketika menyebutkan sifat-sifat orang-orang yang beriman, di antara sifatnya adalah:
وَٱلَّذِينَ هُمْ لِأَمَٰنَٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَٰعُونَ
Mereka adalah orang-orang yang terhadap amanah mereka dan janji mereka, mereka dalam keadaan menjaga. (QS. Al-Mu’minūn: 8)
Ini semua menunjukkan tentang keutamaan amanah, sehingga kita mencintai orang-orang yang menegakkan keadilan dan orang-orang yang melaksanakan amanah, sebagai seorang pemerintah atau seorang penguasa maupun yang lain. Karena ini adalah sesuatu yang dicintai oleh Allāh, maka kita mencintai apa yang dicintai oleh Allāh, dan kita mencintai siapa yang memiliki sifat-sifat yang dicintai oleh Allāh ﷻ, di antaranya adalah keadilan dan juga amanah ini.
ونَبْغَضُ أَهْلَ الجَوْرِ وَالخِيَانَةِ
Dan sebaliknya, kita membenci orang-orang yang berbuat ẓalim dan melakukan khiānah. Al-Jawr ini lawan dari Al-ʿAdl, al-khiānah adalah lawan dari al-Amānah, dan ini adalah sifat yang tercela.
Allāh ﷻ mencela kezhaliman:
يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي، وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا، فَلَا تَظَالَمُوا
Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezhaliman atas diri-Ku dan Aku jadikan kezhaliman itu di antara kalian sebagai sesuatu yang haram, maka janganlah kalian saling menzhalimi satu sama lain. (HR. Muslim)
Ini menunjukkan tentang kebencian Allāh ﷻ terhadap kezhaliman. Dan Allāh ﷻ telah mengharamkan atas Diri-Nya kezhaliman dan menjadikan itu haram atas kita.
Allāh ﷻ berfirman:
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ
Sesungguhnya Allāh tidak menzhalimi meskipun hanya seberat dzarrah sekalipun. (QS. An-Nisā’ [4]: 40)
Allāh membenci kezhaliman. Dan Nabi ﷺ bersabda:
الظُّلْمُ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Kezhaliman itu adalah kegelapan pada hari kiamat. (HR. Al-Bukhārī dan Muslim)
Khianat juga demikian. Allāh ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ، وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian mengkhianati Allāh dan Rasul, dan (juga) janganlah kalian mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepada kalian, sedang kalian mengetahui. (QS. Al-Anfāl [8]: 27)
Allāh ﷻ melarang kita untuk berkhianat kepada Allāh dan juga kepada Rasul, serta melarang kita untuk mengkhianati amanah yang dipikulkan kepada kita. Amanah apa saja? Amanah jabatan, amanah harta, amanah anak—maka ini semua adalah amanah dari Allāh.
Dari sini kita mengetahui bahwa Allāh ﷻ membenci kezhaliman dan juga al-khiānah. Kalau kita mengetahui bahwa Allāh ﷻ membenci kedzhaliman dan juga al-khiānah, maka kita Ahlus Sunnah pun membenci orang yang melakukan kedzhaliman dan pengkhianatan: pemberontakan, menzhalimi rakyat—kita benci hal demikian. Namun kebencian kita bukan berarti kita memberontak kepada penguasa. Ini benci, yang penting ada bughḍ, ada kebencian.
Itu wallāhu taʿālā aʿlam hubungan antara:
وَنُحِبُّ أَهْلَ الْعَدْلِ وَالْأَمَانَةِ، وَنُبْغِضُ أَهْلَ الْجَوْرِ وَالْخِيَانَةِ
Jadi, ketaatan kita dan mendengarnya kita kepada penguasa kita bukan berarti kita mencintai kedzhaliman, bukan berarti kita tidak mencintai orang yang adil. Tidak! Tetap kita juga memiliki prinsip hati: kita mencintai orang-orang yang adil dan amanah, dan kita membenci orang-orang yang berbuat zhalim dan berkhianat.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته