Halaqah 133 | Ahlus Sunah Mencintai Orang yang Adil dan Orang yang Melaksanakan Amanah Bag 2

Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-133 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.

Ahlussunnah wal Jamāʿah, mereka mengikuti sunnah dan juga jamāʿah—mengikuti Rasulullāh ﷺ dan juga para sahabatnya. Demikian pula, mereka mentaati pemerintah kaum Muslimin dan juga penguasa kaum Muslimin.

Nah, yang selanjutnya juga bisa dihubungkan ke sana.

وَنُحِبُّ أَهْلَ العَدْلِ وَالأَمَانَةِ، ونَبْغَضُ أَهْلَ الجَوْرِ وَالخِيَانَةِ

“dan kami, yaitu Ahlussunnah wal Jamāʿah, mencintai orang-orang yang adil dan juga amanah.”

Ini bisa dihubungkan juga dengan paragraf sebelumnya, yaitu tentang penguasa dan juga pemerintah, bahwasanya kita memang diperintahkan untuk mendengar dan taat kepada penguasa. Tetapi ada penguasa kita yang adil, yang amanah, dan ada di antara penguasa yang mereka berbuat dzalim dan juga berkhianat.

Bagaimana sikap Ahlussunnah? Kecintaan mereka mengikuti kecintaan Allāh ﷻ. Bukan berarti ketika kita mengatakan mendengar dan taat kepada penguasa, kemudian kita berarti mencintai orang yang dzalim, kemudian kita mencintai orang yang berkhianat. Tidak. Ini babnya lain lagi.

Mendengar dan taat kepada penguasa, iya, tapi kita juga mencintai dan membenci sesuai dengan ketaatan dia.

وَنُحِبُّ أَهْلَ الْعَدْلِ

Kita yaitu Ahlussunnah wal Jamāʿah mencintai orang-orang yang adil.

Kenapa kita mencintai mereka? Orang-orang yang adil masuk di dalamnya adalah: penguasa yang adil, kepala rumah tangga yang adil, kepala sekolah yang adil, seorang pemimpin yang adil. Maka kita Ahlussunnah mencintai keadilan dan kita mencintai orang-orang yang adil.

Kenapa kita mencintai mereka? Karena Allāh mencintai mereka. Allāh mengatakan:

وَأَقْسِطُوٓاۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ

Hendaklah kalian berbuat adil (karena) sesungguhnya Allāh mencintai orang-orang yang berlaku adil. (QS. Al-Ḥujurāt: 9)

Allāh ﷻ juga berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَانِ

Sesungguhnya Allāh menyuruh (kamu) berlaku adil dan juga berbuat baik. (QS. An-Naḥl: 90)

Dan Allāh ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِٱلْقِسْطِ شُهَدَآءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمْ أَوِ ٱلْوَٰلِدَيْنِ وَٱلْأَقْرَبِينَ

Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian menjadi orang-orang yang selalu menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allāh, meskipun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. (QS. An-Nisāʾ: 135)

Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian menjadi orang-orang yang qawwāmīna bil-qisṭi, tegak dengan keadilan. Qawwāmīn yaitu orang-orang yang sangat tegak dengan keadilan—berbuat adil, meletakkan sesuatu pada tempatnya.

Syuhadāʾa lillāh, dalam keadaan kita bersaksi untuk Allāh, yaitu bersaksi dalam keadaan kita adil

Walau ʿalā anfusikum awi-l-wālidayni wal-aqrabīn, meskipun kepada diri kalian sendiri—kalau memang kita salah, ya kita sampaikan kita salah. Ataupun kepada orang tua kita sendiri, kalau memang orang tua kita salah, kita sampaikan bahwa itu salah. Ini termasuk keadilan. Allāh memerintahkan kita untuk berbuat adil. Dan juga keluarga kita, jangan kita kalau sama orang lain kita tegakkan keadilan tapi kalau untuk keluarga sendiri kemudian kita lalai dari keadilan.

إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَانِ

Allāh menyuruh kita untuk berbuat adil dan berbuat baik

يَا أَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ بِٱلْقِسْطِ شُهَدَآءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمْ أَوِ ٱلْوَٰلِدَيْنِ وَٱلْأَقْرَبِينَ ۚ إِن يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًۭا فَٱللَّهُ أَوْلَىٰ بِهِمَا 

Kalau mereka kaya atau miskin maka Allāh yang lebih berhak dengan keduanya. Yang jelas, kita berbuat adil sebagaimana yang Allāh perintahkan.

فَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلْهَوَىٰٓ أَن تَعْدِلُوا۟ 

Janganlah kalian mengikuti hawa nafsu.

Itu di antara dalil yang menunjukkan tentang wajibnya kita berbuat adil. Demikian pula dalam ḥadīts, Nabi ﷺ juga mendorong kita untuk berbuat adil. Di mana Nabi ﷺ menyebutkan bahwa orang-orang yang mereka berbuat adil di dunia, maka Allāh ﷻ akan menjadikan mereka di atas mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya:

إِنَّ ٱلْمُقْسِطِينَ يَوْمَ ٱلْقِيَامَةِ عَلَىٰ مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ

Sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil di hari Kiamat berada di atas mimbar-mimbar yang berasal dari cahaya.

Kemudian di akhir Beliau mengatakan:

ٱلَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا

Yaitu orang-orang yang adil dalam hukumnya (ketika dia menghukumi / membuat keputusan dia adil), kepada keluarga mereka, dan orang-orang yang dibawah mereka.

Menunjukkan bagaimana tingginya derajat orang-orang yang berbuat adil, sampai Allāh ﷻ membuatkan mereka mimbar, berarti mereka kedudukannya lebih tinggi daripada yang lain, dan terbuat dari cahaya.

Maka kita Ahlussunnah mencintai orang-orang yang berbuat adil, karena Allāh ﷻ mencintai mereka dan memberikan kepada mereka pahala yang besar serta mengangkat derajat mereka. Dan tentunya, keadilan ini—kalau itu adalah sesuatu yang dicintai oleh Allāh—maka atas seorang pemerintah dan juga penguasa, lebih ditekankan lagi.

Karena ketidakadilan itu akan menimbulkan kekacauan. Sekarang kalau ada orang yang tidak adil di rumahnya sebagai seorang kepala rumah tangga, maka yang terjadi adalah anak-anak kita saling melirik satu dengan yang lain, saling cemberut satu dengan yang lain, dan mungkin malah tidak mau bantu, tidak mau bekerja. Tapi kalau kita berbuat adil, maka semuanya nyaman.

Lalu bagaimana dengan seorang Waliyyul Amr, dia seorang penguasa, yang dia urus bukan hanya satu rumah, tapi jutaan rumah, bukan hanya satu suku, tapi banyak suku. Nah, ini tentunya sangat dikuatkan lagi keadilan tersebut. Karena kalau sampai dia tidak adil di dalam mengurus rakyatnya, maka dikhawatirkan akan terjadi banyak perkara, banyak masalah.

Kemudian juga ucapan Nabi ﷺ: orang-orang yang ada dalam hukumnya, keluarganya, dan orang-orang yang di bawahnya—ini mencakup pemerintah, maupun kepala rumah tangga, ataupun yang lain.

Demikian pula dalam sebuah ḥadīts, Nabi ﷺ menyebutkan,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ

ada tujuh golongan yang kelak akan mendapatkan naungan dari Allāh di hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan Allāh. Di antaranya adalah

إِمَامٌ عَادِلٌ

seorang imam yang adil.

Ini menunjukkan tentang keutamaan keadilan, sampai seorang imam yang adil, penguasa yang adil, ini termasuk orang yang akan mendapatkan naungan dari Allāh di hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan dari Allāh ﷻ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته