Halaqah 131 | Kita Mengikuti Ahlu Sunah wal Jama’ah dan Menghindari Keterasingan, Perselisihan, dan Perpecahan

Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-131 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.

Beliau mengatakan

وَنَتَّبِعُ السُّنَّةَ وَالجَمَاعَةَ

Kita mengikuti Sunnah dan mengikuti al-Jamāʿah.

Yang dimaksud dengan Sunnah di sini, yaitu kita Ahlus Sunnah, sebagaimana namanya Ahlus Sunnah wal Jamāʿah. Kita mengikuti Sunnah, yaitu Sunnah Nabi ﷺ, jalan Nabi ﷺ. Dan jalan Nabi ﷺ adalah al-Islām, dan Islām tertuang di dalam Al-Qur’ān dan juga Hadits. Dan Islām yang murni adalah Islām yang dipahami oleh para ṣaḥābat raḍiyallāhu taʿālā ʿanhum.

Maka kita Ahlus Sunnah wal Jamāʿah, sebagaimana namanya Ahlus Sunnah wal Jamāʿah, kita mengikuti Sunnah, karena Allāh mengatakan:

وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan hendaklah kalian mengikuti dia (Muḥammad), agar kalian mendapat petunjuk.” (QS. Al-Aʿrāf: 158)

ʿAbdullāh bin Masʿūd mengatakan:

اتَّبِعُوا وَلَا تَبْتَدِعُوا

“Hendaklah kalian mengikutiku, dan janganlah membuat sesuatu yang baru (dalam agama).”

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ

“Wajib bagi kalian untuk berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah para Khulafā’ ar-Rāsyidīn al-Mahdiyyīn.”

Wal-Jamāʿah: dan kami, yaitu Ahlus Sunnah, mengikuti al-Jamāʿah — yaitu al-ijtimāʿ (persatuan). Kita berusaha untuk terus menjaga persatuan. Persatuan yang bagaimana? Yaitu bersatu bersama Nabi ﷺ dan juga para ṣaḥābatnya. Itulah al-Jamāʿah, Jamāʿahnya Rasulullāh ﷺ dan juga para ṣaḥābatnya.

Kalau ingin bersatu, kita bergabung dengan jamāʿah tersebut. Dan jangan sekali-kali kita memisahkan diri dari jamāʿahnya Rasulullāh ﷺ dan juga para ṣaḥābat. Kita berusaha menggali Sunnah beliau dan mengamalkan amalan beliau, dan mengikuti pemahaman para ṣaḥābat supaya kita tetap bersama mereka.

نَتَّبِعُ السُّنَّةَ وَالْجَمَاعَةَ

Kita mengikuti Sunnah dan kita mengikuti al-ijtimāʿ.

وَنَجْتَنِبُ الشُّذُوذَ وَالْخِلَافَ وَالْفُرْقَةَ

Dan kita menjauhi asy-syudhūż, al-khilāf, dan al-furqah.

Asy-syudhūż (asing): Jamāʿah, yaitu Nabi ﷺ dan para ṣaḥābatnya mereka melakukan demikian, kok kita melakukan sesuatu yang baru? Berarti kita mengasingkan diri kita dari jamāʿahnya Rasulullāh ﷺ dan juga para ṣaḥābatnya.

Wal-khilāf: dan kita menjauhi khilāf — yaitu menyelisihi apa yang ada di atasnya Rasulullāh ﷺ dan juga para ṣaḥābat.

Kita senantiasa berusaha untuk bersama-sama, bersatu, bermakmum di belakang Nabi ﷺ, menjadikan Al-Qur’ān dan Sunnah sebagai pedoman di depan kita.

Wal-furqah: dan juga perpecahan. Perpecahan dengan cara membuat sesuatu yang baru di dalam agama — baik berupa ʿaqīdah maupun berupa ʿamaliyah — maka ini semua menyebabkan al-furqah.

Apa sebab al-furqah? Sebab utamanya adalah al-bidʿah. Karena kalau masing-masing dari kelompok-kelompok tersebut, atau dibiarkan manusia semaunya untuk ber-ʿaqīdah dan ber-ʿamal, maka yang terjadi adalah bermacam-macam ʿaqīdah dan bermacam-macam amalan. Karena diperbolehkan oleh sebagian orang untuk melakukan bidʿah, yang penting “bidʿah ḥasanah”.

Akhirnya masing-masing membuat bidʿah, baik yang berkaitan dengan ʿaqīdah maupun yang berkaitan dengan ʿamaliyah. Apa yang terjadi?

Yang terjadi adalah perpecahan.

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi bergolongan-golongan, maka engkau (Muḥammad) tidak termasuk golongan mereka sedikitpun.” (QS. Al-Anʿām: 159)

Karena Nabi ﷺ itu bersama Jamāʿah — yang mereka mengikuti beliau dari kalangan ṣaḥābat, tābiʿīn, atbāʿut-tābiʿīn dan orang-orang yang mengikuti mereka.

Adapun firqah-firqah tadi, maka beliau ﷺ bukan termasuk golongan mereka. Bukan termasuk Firqah A, bukan Firqah B, bukan Firqah C. Beliau adalah aṭ-Ṭāʾifah al-Manṣūrah dan al-Firqah an-Nājiyah. Beliau ﷺ yang memimpin mereka.

Maka inilah di antara keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamāʿah: bahwa mereka mengikuti Sunnah dan juga al-ijtimāʿ, dan mereka menjauhi asy-syudhūż (keasingan), al-khilāf (menyelisihi Nabi ﷺ dan juga para ṣaḥābatnya), dan al-furqah yaitu mereka juga tidak ingin memecah belah Jamāʿah kaum Muslimin dengan membuat aliran yang baru yang tentunya bertentangan dengan apa yang ada di atasnya Nabi ﷺ dan juga para ṣaḥābatnya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته