Home > Kajian Kitab > Kitab Awaa’iqu ath Thalab > Materi 24 ~ Tidak Bertahap Dalam Menuntut Ilmu Bagian (4) – Tahapan Pertama Dalam Menuntut Ilmu

Materi 24 ~ Tidak Bertahap Dalam Menuntut Ilmu Bagian (4) – Tahapan Pertama Dalam Menuntut Ilmu

🌍 Kajian Kitab
👤 Al-Ustadz Abu Haidar As-Sundawy حفظه الله
📗 Kitab Awaa’iqu ath Thalab (Kendala Bagi Para Penuntut Ilmu)
📝 as-Syaikh Abdussalam bin Barjas Alu Abdul Karim حفظه الله

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Contoh lain berkata Abu Umar bin Abdul Bar rahimahullahu ta’ala, “Mencari ilmu itu bertahap, bertingkat dan berurutan. Tidak boleh dilanggar. Siapa yang melanggarnya cara keseluruhan berarti dia sudah menyimpang dari metodelogi salaf didalam belajar”.

Pasti banyak penyimpangan didalam pemahamannya. Barangsiapa yang menyimpang dari metodelogi salaf didalam belajar (kalo dia sengaja maka sesat, kalo dia melanggarnya karena ijtihad maka dia akan tergelincir). Apapun motivasinya kalo menyimpang dari metodelogi ini dia merumuskan, merancang metodelogi baru didalam mempelajari agama ini maka dia akan menyimpang baik secara sengaja ataupun tidak disengaja. Makanya jangan merumuskan sistematika menurut produk akal kita sendiri, menurut metodelogi kita, menurut ijtihad sendiri, ikuti saja apa yang sudah dijelaskan oleh generasi as-salafushaleh. Itulah yang paling selamat.

Lalu disiplin ilmu apa sajakah yang harus kita pelajari terlebih dahulu ?
Ilmu pertama kali yang harus dipelajari adalah menghafalkan kitab Allah azza wajalla, menghafalkan Al-Qur’an dan memahaminya serta mempelajari semua yang bisa membantu untuk memahami Al-Qur’an. Makanya jangan heran kalau para ulama sebelum mereka belajar ilmu apapun sejak kecil mereka sudah hafal Al-Qur’an. Sejak usianya sebelum 10 Tahun, sebelum mempelajari ilmu-ilmu yang lain. Kadang-kadang setelah Al-Qur’an hafal diluar kepala maka dilanjutkan ke beberapa matan dari kitab-kitab yang kecil dan itulah memang ilmu pertama yang harus dipahami, dikuasai oleh setiap penuntut ilmu yakni menghafal Al-Qur’an. Dan wajib dipelajari semua ilmu yang bisa membantu memahami isi Al-Qur’an. Apakah dengan demikian kalau menghafalkan Al-Qur’an itu seluruhnya wajib ?

Berkata mualif (penulis), “Aku tidak berkata bahwa menghafalkan Al-Qur’an semua itu wajib, tetapi maknanya adalah bahwa hal itu kewajiban yang melekat terus menerus bagi orang yang ingin menjadi orang yang berilmu”. Bukan berarti fardhu bagi seluruh kaum muslimin. Bagi orang-orang yang ingin menjadi ahli ilmu maka pelajari atau hafalkan terlebih dahulu Al-Qur’an. Selain itu para ulama ada yang menghafalkan sebelum baligh lalu berlanjut kepada ilmu yang bisa mempelajari membantu dia untuk memahami isi Al-Qur’an berupa bahasa Arab. Karena memahami bahasa Arab faktor pendukung yang sangat besar untuk memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah karena keduanya itu berbahasa Arab. Barangsiapa memahami bahasa Arab dengan sebenarnya, dengan memahami nilai sastra yang dikandungnya pasti dia akan meyakini betapa tingginya nilai sastra Al-Qur’an dan juga hadits Nabi ﷺ .

Jadi yang pertama hafalkan Al-Qur’an dan juga bahasa Arab.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنْتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *