Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm > Halaqah 20 | Simpul 16 – Menghormati Majelis Ilmu dan Memuliakan Wadah-Wadah Ilmu (1)

Halaqah 20 | Simpul 16 – Menghormati Majelis Ilmu dan Memuliakan Wadah-Wadah Ilmu (1)

Kitab: Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-20 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shālih Ibn Abdillāh Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullāhu ta’ala.

Masuk kita pada simpul yang ke-16 di antara 20 simpul yang disebutkan oleh beliau di dalam kitab ini dan semuanya adalah sebagai sarana supaya kita bisa mewujudkan pengagungan terhadap ilmu agama ini, yang ke-16

المعقد السادس عشر

Simpul yang ke-16 kata beliau

توقير مجالة العلم وإجلال أوعيته

Adalah menghargai / menghormati majelis-majelis ilmu, tempat berkumpul yang disitu yang mereka bahas adalah ilmu itu dinamakan dengan majelis ilmu, disampaikan pelajaran kitab misalnya atau disitu ada nasihat berarti itu adalah majalisul ilm tempat-tempat duduk tempat berkumpul yang disitu disampaikan ilmu agama ini.

Maka termasuk pengagungan terhadap ilmu kalau memang majelis tersebut ada sesuatu yang berkaitan dengan ilmu maka harus kita hargai majelis tersebut

وإجلال أوعيته

demikian pula mengagungkan wadah-wadah dari ilmu.

Ada tempat menuntut ilmu disana ada wadah untuk menyimpan ilmu contoh misalnya kitab, kitab ini adalah wadah untuk menyimpan ilmu, contoh misalnya kaset zaman dulu sekarang mungkin sedikit maka itu juga termasuk wadah untuk menyimpan ilmu, atau misalnya majalah ini juga wadah untuk menyimpan ilmu.

Kalau itu adalah tempat untuk menyimpan ilmu maka kita harus menghargai dan menghormati sesuatu tersebut, menghargai kitab yang menghargai kaset atau lembaran atau kertas yang disitu disebutkan ilmu maka ini adalah bentuk pengagungan kita dan penghargaan kita terhadap ilmu itu sendiri.

Kertasnya biasa tapi karena disitu ditulis tentang qalallahu qala rasul disebutkan tentang ilmu agama maka dia harus kita hormati harus kita hargai, jangan kita memperlakukan kitab atau buku atau buku tulis yang kita gunakan untuk mencatat sebagaimana kita memperlakukan buku cerita atau seperti kita memperlakukan koran.

فمجالس العلماء كمجالس الأنبياء

Maka majelis-majelis para ulama kata beliau adalah seperti majelis-majelis para nabi, dan seperti di sini dari sisi bahwasanya di situ disebutkan hukum Allāh ﷻ bukan maksudnya ulama adalah nabi, dia adalah seperti majelis-majelis para nabi karena di dalam majelis ulama disebutkan hukum Allāh ﷻ di majelisnya para nabi juga disebutkan hukum Allāh ﷻ, di majelisnya nabi itu bukan isinya adalah suatu yang tidak bermanfaat majelisnya para anbiya dibacakan kepada mereka wahyu.

قال سهل بن عبد الله: من أراد أن ينظر إلى مجالس الأنبياء  فلينظر إلى مجالس العلماء

Barangsiapa yang ingin melihat majelisnya para nabi, dan kita tidak pernah kita melihat majelisnya para nabi tapi barangsiapa yang ingin melihat majelisnya para nabi silakan dia melihat majelisnya para ulama kurang lebih demikian majelisnya para nabi dahulu, qalallahu qala rasul ikhtilaf ulama yang rajih (kuat) dan seterusnya demikianlah majelisnya para Anbiya dipenuhi dengan keberkahan disebutkan di situ hukum Allāh ﷻ wahyu Allāh ﷻ.

يجيءُ الرجل فيقول: يا فلان، أيُّ شيءٍ تقول في رجل حلف علىٰ ٱمرأته بكذا وكذا؟

Kemudian beliau menyebutkan permisalan, di majelisnya seorang ulama datang seseorang kemudian dia mengatakan wahai fulan apa pendapatmu tentang seorang laki-laki yang bersumpah atas istrinya demikian dan demikian, dia bersumpah kalau kamu demikian maka engkau aku ceraikan dan seterusnya misalnya

فيقول: طَلَقَت ٱمرأته

maka ulama tadi mengatakan wanita tersebut telah terceraikan

ويجيءُ آخر فيقول: ما تقول في رجل حلف علىٰ ٱمرأته بكذا وكذا؟

kemudian datang yang lain dan mengatakan apa pendapatmu ada seorang laki-aki yang dia bersumpah atas istrinya dengan demikian dan demikian

فيقول: ليس يحنَث بِهذا القول

kemudian dia mengatakan dia tidak berdosa dengan sebab ucapan itu.

Itulah gambaran dari majelis seorang ulama, datang yang ini bertanya datang yang ini bertanya bagaimana hukumnya ini bagaimana yang kuat diantara pendapat-pendapat tersebut. Sahl mengatakan

وليس هٰذا إلا لنبيٍّ أو لعالمٍ

Yang demikian tidaklah ada kecuali bagi seorang nabi atau seorang yang alim, majelis seperti ini terjadi dialog seperti itu hanya terjadi pada majelis seorang nabi atau majelisnya orang-orang yang mewarisi nabi yaitu para ulama, para ulama itu adalah pewaris para nabi, keadaan seperti ini suasana seperti ini hanya pada majelisnya seorang nabi atau majelisnya seorang ulama

فاعرفوا لهم ذلك

maka hendaklah kalian mengetahui keutamaan mereka.

Karena majelis seperti ini hanya ada dua kemungkinan, mungkin itu adalah majelisnya seorang nabi atau majelisnya seorang ulama (‘alim), kalau kita mengetahui yang demikian bahwasanya majelis ulama ini seperti majelis anbiya maka hendaklah kita mengetahui dan menghargai majelis ilmu.

Kalau kita memang ingin mendapatkan ilmu maka hendaklah kita menghargai dan menghormati majelis tersebut jangan kita samakan majelis ilmu tersebut dengan kalau kita sedang bermajelis ngobrol dengan teman kita atau dengan keluarga kita, harus kita bedakan kalau memang kita ingin mendapatkan ilmu agama.

فعلىٰ طالب العلم أن يعرِف لمجالس العلم حقَّها

Maka wajib bagi seorang penuntut ilmu mengetahui hak-hak majelis ilmu, harus kita tunaikan hak dari majelis-majelis ilmu tersebut, siapa yang menunaikan hak-hak majelis ilmu kalau bukan kita sebagai seorang penuntut  ilmu

فيجلِسَ فيها جِلسة الأدب

diantara haknya hendaklah kita duduk di dalam majelis ilmu tersebut dengan cara duduk yang beradab, yang sopan rapi jangan menyamakan seperti kalau dia di lapangan misalnya, duduk yang sopan menjaga adab sebagai seorang penuntut ilmu, jangan terlalu banyak bergerak

ويصغي إلىٰ الشَّيخ ناظرًا إليه

kemudian diantara adab di dalam bermajelis ilmu adalah kita konsentrasi kepada Syaikh melihat kepada beliau, jangan menoleh ke sana kemari tapi kita menghadapkan diri kepada beliau melihat kepada beliau

فا يلتفت عنه من غير ضرورةٍ

maka tidak berpaling dari beliau kecuali karena memang dharurah, sesuatu yang mau tidak mau dia harus memalingkan mukanya karena satu sebab tidak masalah, mungkin ada yang pingsan misalnya di sampingnya butuh pertolongan, ini dalam keadaan dharurah tapi kalau tidak ada keperluan tidak ada dharurah jangan kita memalingkan muka kita.

Ini sangat mengganggu ketika seseorang sedang mengajar kemudian dia melihat satu atau dua orang muridnya meskipun hanya satu atau dua orang ternyata dia memalingkan mukanya menyibukkan diri dengan yang lain maka ini sangat mengganggu, dan kalau sudah terganggu hilang konsentrasi dan yang termudharati yang hadir mereka tidak banyak mengambil manfaat dari apa yang diucapkan oleh Syaikh sebabnya karena ada sebagian kita yang tidak beradab dalam menghadiri majelis ilmu.

ولا يضطرب لضجَّةٍ يسمعها

Dan termasuk adabnya janganlah dia goncang (banyak bergerak) karena sebuah suara yang dia dengar, ini termasuk adab.

Jadi tunjukkan bahwasanya yang menjadi perhatian kita yang paling besar di sini adalah apa yang disampaikan oleh guru kita oleh Syaikh kita sehingga meskipun di sana ada suara yang keras misalnya dari luar jangan kita kemudian kelihatan resah kemudian kita banyak bergerak apa itu apa itu, ini berarti ada suatu yang lebih dia perhatikan daripada ucapan guru.

Hendaklah dia tidak bergerak karena suara yang dia dengar, mungkin di dalam masjid ada sebuah suara sesuatu yang jatuh misalnya maka tetap kita konsentrasi kepada apa yang diucapkan oleh Syaikh, terkadang yang bergerak ini bukan hanya satu orang sehingga ini merusak suasana kekhusyukan di dalam majelis ilmu tersebut.

ولا يعبَثُ بيديه أو رجليه

Dan jangan dia bermain-main dengan kedua tangannya atau kedua kakinya, membunyikan suara seperti ini dan sering itu dilakukan dalam majelis tersebut atau dia menggerak-gerakkan seperti ini atau dia menggerak-gerakkan kakinya bermain-main dengan kakinya ada sesuatu yang dia lakukan pada kakinya misal main kukunya misalnya kukunya yang sudah mau lepas, dia main-main maka ini tidak sepantasnya dilakukan di dalam majelis ilmu tersebut.

ولا يستَنِدُ بحضرة شيخه

Dan janganlah dia bersandar di depan gurunya, gurunya keadaan siap menyampaikan ilmu kemudan dia dipojokan dalam keadaan bersandar seakan-akan dia sedang sendirian di majelis, ini suatu posisi yang tidak beradab kepada gurunya.

ولا يتَّكئُ علىٰ يده

Dan janganlah dia bersandar di atas tangannya, kalau tadi bersandar dengan punggungnya kalau ini bersandar dengan tangannya, ini menunjukkan kemalasan dan tidak bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, dia harus tahu bahwasanya dia sedang di dalam majelis ilmu dia harus nampakkan pengagungan dia penghargaan dia terhadap ilmu.

ولا يُكثر التَّنحنح والحركة

Dan janganlah dia memperbanyak tanahnuh (mendehem) dan sering itu dia ucapkan, ini mengganggu tidak ada hajatnya tidak ada keperluannya untuk melakukan mendehem tadi maka ini sangat mengganggu majelis tersebut kecuali kalau memang dia sakit dan memang ada keperluan tidak apa-apa tapi kalau tidak ada keperluan dan sering dia melakukan yang demikian maka ini mengganggu

والحركة

dan juga memperbanyak bergerak, sebisa mungkin tenang di dalam majelis ilmu tidak bergerak kecuali memang diperlukan, menulis atau mengambil stip misalnya atau mengeluarkan buku apalagi di sana ada gerakan yang menunjukkan bahwasanya dia tidak betah di majelis tersebut, dia sering melihat jam atau ada jam dinding di sebelah kanan atau kirinya dia sering melihat jam dinding tersebut ini tidak enak sekali dilihat, ini menunjukkan dia tidak betah dengan majelis tersebut ingin segera selesai majelis tersebut.

ولا يتكلَّم مع جاره

Dan jangan dia berbicara dengan tetangganya, apalagi suatu yang tidak ada hubungannya dengan dars, kalau cuma bertanya ini sampai halaman berapa tadi yang disebutkan oleh Syaikh di kitab apa tidak masalah tapi kalau berbicara di luar pelajaran maka ini tidak sepantasnya dilakukan oleh seorang yang mengagungkan majelis ilmu.

وإذا عطس خَفَض صوته

Dan apabila dia bersin maka hendaklah dia merendahkan suaranya, berusaha untuk merendahkan suaranya karena dia di dalam majelis yang disitu dihadiri orang banyak, berusaha untuk merendahkan suaranya jangan dikeraskan.

وإذا تثاءب ستر فمه بعد ردِّه جَهْده

Dan apabila dia menguap maka hendaklah dia menutup mulutnya, yaitu berusaha untuk menahan bagaimana supaya mulutnya ini tidak terbuka ketika menguap, apakah itu bisa? bisa meskipun biasanya harus meneteskan air mata, tapi bisa seseorang menahan supaya tidak terbuka mulutnya ketika menguap.

Setelah dia berusaha kalau memang terpaksa tidak bisa menutup mulutnya maka petunjuk Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam adalah menutup dengan tangannya, kalau bisa dengan tangan kiri ini adalah termasuk adab.

Jadi jangan sampai apalagi yang sangat jelek pemandangannya kalau sampai dia bersuara di dalam majelis ilmu, menguap dan dia bersuara maka ini sangat tidak beradab kalau didengar oleh gurunya dan diketahui oleh gurunya ini menunjukkan bahwasanya dia tidak konsentrasi di dalam darsnya, dia bermalas-malasan dia dalam keadaan seakan-akan tidak terlalu membutuhkan apa yang disampaikan oleh guru sehingga dia menguap dan sampai kedengaran suaranya, harus dia tahan.

Pertama ini adalah di dalam majelis ilmu kemudian yang kedua petunjuk Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam memang demikian apabila kita menguap maka kita tutup mulut kita, kalau kita biarkan terbuka maka syaithan akan mengetawakan seseorang dan kita tahu bahwasanya syaithan ini adalah musuh, kita tidak ingin melihat musuh kita bahagia dia tertawa karena ini adalah sikap seseorang orang yang malas dan dia sangat senang dengan orang yang malas.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

4 thoughts on “Halaqah 20 | Simpul 16 – Menghormati Majelis Ilmu dan Memuliakan Wadah-Wadah Ilmu (1)”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top