Home > Halaqah Silsilah Ilmiyah > Ushulus Sunnah > Halaqah 73 | Aqidah Ahlu Sunah terhadap Para Sahabat Nabi ﷺ ~ Khilafiyah Siapa yang Lebih Utama Utsman atau Ali

Halaqah 73 | Aqidah Ahlu Sunah terhadap Para Sahabat Nabi ﷺ ~ Khilafiyah Siapa yang Lebih Utama Utsman atau Ali

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
أصول السنة
Ilmiyyah.com
〰〰〰〰〰〰〰

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-73 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Ushulus Sunnah yang ditulis oleh Imam Ahmad ibn Hanbal rahimahullāh.

Aqidah ahlussunnah terhadap para sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.

Terjadi sebuah perbedaan pendapat dahulu diantara ulama ahlussunnah tentang siapa yang lebih afdhal antara Utsman dan juga Ali, jumhur (mayoritas) ulama mengatakan bahwasanya yang lebih afdhal adalah Utsman sebagaimana diucapkan oleh Al Imam Ahmad bin hambal dan dikabarkan oleh Abdullah bin Umar.

Ada sebagian yang tawaquf (berhenti/tidak mengutarakan pendapatnya) karena masing-masing ada dalilnya menunjukkan masing-masing memiliki keutamaan, dan sebagian mereka ada yang mengutamakan Ali Bin Abi Thalib diantaranya adalah Sufyan Ats-Tsaury Amirul Mukminin fil hadits seorang tokoh ahlussunnah di kufah dan beberapa orang, mereka meyakini bahwasanya Ali itu lebih afdhal daripada Utsman bin Affan.

Dan mereka mengakui tentang kekhilafahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, kekhilafahan Umar ibn Khattab, kekhilafahan Utsman bin Affan setelah Umar Bin Khattab, hanya di dalam masalah keutamaan sampai kepada mereka dalil tentang keutamaan Ali sehingga ada di antara mereka yang meyakini bahwasanya Ali dari sisi keutamaan lebih afdhal daripada Utsman, mereka Inilah yang dikatakan oleh para ulama dengan tasyayyu’ yakni meyakini bahwasanya Ali lebih utama daripada Utsman.

Tapi mereka tidak sama dengan orang-orang rafidhah karena orang-orang syi’ah rafidhah mengkafirkan Abu Bakar As Siddiq Umar Bin Khattab bahkan mengkafirkan sebagian besar sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, kemudian mereka mengagungkan Ali mensifati Ali radhiyallahu ta’ala ‘anhu dengan sifat-sifat yang berlebihan.

Kalau Sufyan Ats-Tsaury dan orang yang bersama beliau sebelumnya mereka bukan orang yang mengkafirkan Abu Bakar As Siddiq atau Umar Bin Khattab, mereka mengakui dan meyakini bahwasanya Abu Bakar As Siddiq adalah yang paling afdhal kemudian Umar, beliau menjadi khalifah setelah Nabi Shallallahu alaihi wasallam dan kemudian setelah itu adalah Umar kemudian setelah itu adalah Utsman, hanya di dalam masalah keutamaan antara Utsman dan Ali mereka berpendapat sebelumnya bahwa Ali itu lebih afdhol daripada Utsman.

Ada sebuah atsar yang menyebutkan bahwasanya Sufyan Ats-Tsaury kembali/tarāju’, beliau membatalkan pendapatnya yang pertama kemudian akhirnya berpindah dan kembali kepada pendapat jumhur ulama dan mengatakan bahwasanya Utsman bin Affan ini lebih afdhal daripada Ali Bin Abi Thalib. Disebutkan dalam sebuah atsar beliau pergi ke Basrah dan bertemu dengan ulama-ulama Ahlussunnah yang ada di Basrah seperti Ayub As Syakhtiani kemudian Yunus ibn Ubaid dan akhirnya beliau pun menarik pendapat beliau dan bersama ulama-ulama yang lain akhirnya berpendapat bahwasanya Utsman ini lebih afdhol daripada Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu ta’ala ‘anhum.

Dan para ulama mengingatkan bahwasanya permasalahan ini, tentang mana yang lebih utama antara Utsman dengan Ali Bin Abi Thalib ini adalah termasuk permasalahan yang tidak boleh orang yang menyelisihi kita kemudian disesatkan, karena sebelumnya sudah terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama Ahlussunnah Wal Jamaah, yang sesat adalah yang mengatakan bahwasanya Ali Bin Abi Thalib lebih berhak untuk menjadi khalifah setelah Umar Bin Khattab atau bahkan mengatakan yang berhak menjadi khalifah setelah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, maka ini adalah orang yang sesat.

Adapun di dalam masalah perbedaan pendapat mana yang lebih afdhal Utsman atau Ali maka ini dahulu para ulama ahlussunnah ada diantara mereka yang memang mendahulukan Ali di atas Utsman radhiyallahu ta’ala ‘anhum, jadi tidak disesatkan orang yang memiliki pendapat seperti itu.

Dan kemudian setelahnya bahwa Sufyan Ats-Tsaury dan sebagian yang bersama beliau banyak diantara mereka yang kemudian ruju’ dan kembali kepada pendapat mayoritas ulama Ahlussunnah Wal Jamaah. Saya bawakan di sini ucapan dari Syaikh Shalih Al Fauzan beliau mengatakan

Dan kesimpulannya tentang masalah mendahulukan Ali di atas selainnya diantara para khulafah yang tiga

Pertama, barangsiapa yang mendahulukan Ali Bin Abi Thalib di dalam masalah kekhilafahan, yaitu mengatakan Ali lebih berhak menjadi khalifah daripada Abu Bakar misalnya daripada Umar daripada Utsman, maka dia adalah orang yang sesat dengan kesepakatan para ulama

Kedua, barang siapa yang mendahulukan Ali di atas Abu Bakar dan Umar maka dia sesat juga, tidak ada di antara ulama ahlussunnah yang mendahulukan Ali di atas Abu Bakar As Siddiq dan Umar

Ketiga, barangsiapa yang mendahulukan Ali di atas Utsman di dalam keutamaan maka tidak disesatkan meskipun pendapat ini adalah bukan pendapat yang lebih kuat

Ini disebutkan oleh Syaikh Shalih Al Fauzan di dalam Syarah Al Aqidah Al Washithiyyah.

وَنَذْهَبُ إِلى حَدِيثِ ابنِ عُمَرَ

Dan kami bermazhab kami berpendapat di dalam masalah ini kepada hadits Ibnu Umar yang bunyinya

كُنَّا نَعُدُّ وَرَسُولُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-حَيٌ وَأَصْحَابُهُ مُتَوَافِرُونَ

Kami dahulu menganggap/menghitung/berkeyakinan dan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dalam keadaan masih hidup dan para sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam masih banyak

أَبُوبَكْرٍ ثُمَّ عُمَرُ، ثُمَّ عُثْمَانُ، ثُمَّ نَسْكُتُ

Bahwasanya Abu Bakar itulah yang paling mulia kemudian Umar kemudian Utsman kemudian kami diam.

Ini adalah kesepakatan para sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bahwasanya tiga orang ini mereka adalah yang paling afdhal. Adapun Ali tadi sudah disebutkan dalam atsar Ishaq ibn Rahuyah bahwasanya setelah itu adalah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ta’ala ‘anhu.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top