Halaqah 99 | Surga dan Neraka adalah Makhluk Allah yang Sudah Diciptakan
Kitab: Ushulus Sunnah
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-99 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Ushulus Sunnah yang ditulis oleh Imam Ahmad ibn Hanbal rahimahullāh.
Beliau mengatakan,
وَالْجنَّة وَالنَّار مخلوقتان قد خلقتا كما جاء
Di antara keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamā‘ah bahwasanya Surga dan Neraka ini sudah diciptakan. Dia adalah makhluk Allāh ﷻ, Allāh ﷻ yang menciptakan segala sesuatu. Keduanya adalah makhluk Allāh ﷻ.
قَدْ خُلِقَتَا
Dan keduanya sudah diciptakan, sekarang sudah ada, sekarang sudah diciptakan oleh Allāh sekarang
كَمَا جَاءَ عَن رَسُولِ اللهِ ﷺ
Sebagaimana datang dari Rasulullah ﷺ.
دَخَلْتُ الْجَنَّةَ فَرَأَيْتُ قَصْرًا
“Aku masuk ke dalam Surga kemudian aku melihat di sana ada qashran (istana).”
Sebagaimana hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imām al-Bukhārī dan juga Muslim. Menunjukkan bahwasanya Surga sudah ada. Kemudian juga ucapan Nabi ﷺ:
وَرَأَيْتُ الْكَوْثَر
“Dan aku melihat Al-Kautsar.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhārī, juga At-Tirmidzī dan Al-Imām Ahmad.
Hadits yang pertama tadi yaitu hadits Jābir, Beliau ﷺ mengatakan:
دَخَلْتُ الْجَنَّةَ فَرَأَيْتُ فِيهَا قَصْرًا
“Aku masuk ke dalam Surga dan aku melihat di dalamnya ada istana.” Kemudian beliau berkata: “Punya siapa ini?” Mereka mengatakan: “Punya ‘Umar ibn Khattāb.”
Kemudian Nabi ﷺ ingin masuk ke dalam istana tadi, lalu beliau mengingat bagaimana kecemburuan ‘Umar ibn Khattāb. Akhirnya ‘Umar ibn Khattāb radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu ketika mendengar kisah Nabi ﷺ ini—karena ini sebuah mimpi, Nabi ﷺ bermimpi, dan mimpi beliau adalah wahyu/benar—beliau melihat istana dan di samping istana tersebut ada seorang wanita.
Ketika Nabi ﷺ mengetahui bahwasanya itu adalah istana milik ‘Umar di dalam Surga, maka beliau segera meninggalkan istana tersebut karena beliau mengingat kecemburuan ‘Umar ibn Khattāb. Karena di situ ada seorang wanita dan itu adalah istri dari ‘Umar ibn Khattāb radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu yang Allāh ﷻ sediakan untuk ‘Umar ibn Khattāb radhiyallāhu ta‘ālā ‘anhu.
Maka di dalam hadits tadi, ketika ‘Umar mendengar kisah Nabi ﷺ, beliau menangis dan mengatakan: “Apakah dengan orang sepertimu wahai Rasulullah aku cemburu?” Ini menunjukkan bahwasanya Surga sudah ada.
Kemudian juga ucapan Nabi ﷺ:
وَرَأَيْتُ الْكَوْثَر
“Dan aku melihat Al-Kautsar.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Imām al-Bukhārī dan juga Imām Muslim.
Disebutkan dalam hadits tadi, Nabi ﷺ ketika berjalan di dalam Surga kemudian melihat sebuah sungai, maka beliau bertanya kepada Jibrīl: “Apa ini wahai Jibrīl?” Kemudian Jibrīl mengatakan:
هٰذَا الْكَوْثَرُ، الَّذِي أَعْطَاكَ رَبُّكَ
“Ini adalah Al-Kautsar yang Allāh ﷻ telah memberikannya kepada dirimu.”
Ini menunjukkan bahwasanya Surga sudah ada. Kemudian:
وَاطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ كَذَا وَكَذَا، وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ كَذَا وَكَذَا
Dalam hadits yang lain, beliau melihat di dalam Surga dan melihat sebagian besar penduduknya demikian; dan melihat di dalam Neraka dan melihat sebagian besar penduduknya demikian.
Ini isyarat kepada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imām al-Bukhārī dari ‘Imrān ibn Husain, dimana Nabi ﷺ mengatakan:
اطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ
“Aku melihat di dalam Surga, maka aku melihat sebagian besar penduduknya adalah orang-orang miskin.”
Karena orang-orang miskin mereka tidak punya jabatan, tidak punya harta sehingga tidak ada yang menghalangi mereka untuk beriman. Karena banyak orang yang tidak beriman dan tidak sempurna keimanannya karena kelalaian mereka dengan harta, pekerjaan dan jabatan mereka. Adapun fuqara, mereka tidak memiliki itu sehingga mereka pun istiqāmah.
Kemudian beliau ﷺ mengatakan:
وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ
“Aku melihat di dalam Neraka, maka aku melihat sebagian besar penduduknya adalah para wanita.”
Disebutkan dalam hadits tersebut bahwa para shahabat bertanya: “Kenapa mereka demikian?” Nabi ﷺ mengatakan bahwa para wanita tersebut tidak berterima kasih kepada suaminya. Seandainya seorang suami berbuat baik kepada istrinya dalam waktu lama, kemudian suatu saat ada kejelekan atau kekurangan yang nampak dari sang suami, maka sang istri mengatakan:
مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ
“Aku tidak melihat kebaikan sedikit pun pada dirimu.”
Ini berarti mengingkari kebaikan, ada kebaikan bahkan banyak, namun diingkari dan dikatakan: “Aku tidak melihat sedikit pun kebaikan pada dirimu.” Ini menjadi sebab juga masuknya seorang wanita ke dalam Neraka.
Yang jelas, hadits ini menunjukkan bahwa Surga dan Neraka sudah ada. Makanya dalam Al-Qur’an, Allāh ﷻ mengatakan bahwa Surga itu disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. “Disediakan” artinya sudah ada dan sudah disediakan oleh Allāh ﷻ. Tentang Neraka, Allāh ﷻ mengatakan telah disediakan untuk orang-orang kafir, menunjukkan bahwa Neraka sudah ada dan sudah diciptakan oleh Allāh ﷻ.
Adanya Surga yang sudah diciptakan menjadikan orang beriman semangat untuk beramal dan istiqāmah. Adanya Neraka menjadikan orang takut melakukan maksiat dan kebid‘ahan. Ini di antara hikmahnya.
Orang-orang Mu‘tazilah mengatakan bahwasanya Surga dan Neraka belum ada sekarang, baru akan diciptakan oleh Allāh ﷻ nanti. Dan diciptakannya sekarang—menurut mereka—sia-sia. Ini ucapan Mu‘tazilah. Adapun Ahlus Sunnah, berdasarkan dalil yang banyak tadi, mereka meyakini bahwasanya Surga dan Neraka sudah diciptakan oleh Allāh ﷻ dengan hikmah yang telah disebutkan.
فَمَنْ زَعَمَ أَنَّهُمَا لَمْ تُخْلَقَا فَهُوَ مُكَذِّبٌ بِالْقُرْآنِ وَأَحَادِيثِ رَسُولِ اللهِ ﷺ
“Maka barangsiapa yang meyakini bahwa Surga dan Neraka belum diciptakan, sungguh dia telah mendustakan Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah ﷺ.”
Tadi sudah kita sebutkan dalil dari Al-Qur’an dan hadits Nabi ﷺ. Orang yang meyakini bahwa Surga dan Neraka belum diciptakan maka dia telah mendustakan kabar dari Allāh ﷻ dan juga Rasul-Nya. Ini bahaya besar.
وَلَا أَحْسِبُهُ يُؤْمِنُ بِالْجَنَّةِ وَالنَّارِ
“Dan aku tidak menyangka bahwa dia beriman kepada Surga dan Neraka.”
Artinya, Al-Imām Ahmad ibn Hanbal meyakini bahwasanya orang yang sekarang mengatakan bahwa Surga dan Neraka belum diciptakan, menurut beliau, orang seperti ini tidak beriman dengan adanya Surga dan Neraka. Ini makna ucapan beliau.
Orang yang berpendapat bahwasanya Surga dan Neraka ini belum diciptakan dikhawatirkan sebenarnya memiliki pemahaman ini, yaitu sebenarnya dia tidak beriman dengan adanya Surga dan Neraka — ini yang dikhawatirkan. Wallāhu ta‘ālā a‘lam.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته