Kitab: Ushulus Sunnah
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke delapan puluh lima dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Ushulu Sunnah yang ditulis oleh Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullāh.
Al Imam Bukhari rahimahullah di dalam shahihnya membuat bab:
بَابُ إِمَامَةِ الْمَفْتُونِ وَالْمُبْتَدِعِ
Bab tentang keimaman orang yang terfitnah, yaitu terfitnah dengan pemikiran yang sesat dan orang yang ahlul bid’ah. Maksud beliau adalah menunjukkan tentang bolehnya.
Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah beliau menyebutkan yang artinya bahwasanya di dalam atsar ini, yaitu atsar Utsman Radhiyallaahu Ta’ala ‘anhu ini ada dorongan untuk menghadiri shalat berjamaah, khususnya di zaman fitnah supaya tidak bertambah perpecahan umat.
Dan di dalam atsar ini juga bahwasanya shalat diperbolehkan di belakang orang yang dimakruhkan shalat di belakangnya. Bahwasanya shalat di belakang orang yang dimakruhkan shalat dibelakangnya, yaitu dimakruhkan kita menjadi makmum, itu lebih baik daripada menggugurkan shalat berjamaah itu sendiri. Daripada shalat berjamaah tidak tegak, maka seseorang salat di belakang orang yang dimakruhkan kita shalat dibelakangnya itu lebih baik dan lebih utama.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, dahulu Abdullah ibnu Umar dan selain beliau diantara para sahabat Nabi ﷺ, mereka shalat di belakang Hajaj Ibnu Yusuf. Kita tahu bahwasanya Hajaj ini adalah orang yang fasiq.
وَكَانَ الصَّحَابَةُ وَالتَّابِعُونَ يُصَلُّونَ خَلْفَ ابْنِ أَبِي عُبَيْدٍ، وَكَانَ مُتَّهَمًا بِالْإِلْحَادِ وَدَاعِيًا إِلَى الضَّلَالِ
Dahulu para sahabat dan juga para tabi’in, mereka sholat di belakang Ibnu Abi Ubaid dan dia dituduh melakukan ilhad dan termasuk orang yang mengajak kepada kesesatan.
Ini adalah manhaj para salaf, ternyata mereka shalat di belakang orang yang sesat, orang yang menyimpang, selama penyimpangan mereka tidak sampai mengeluarkan mereka dari agama Islam.
Al-A’masy Sulaiman Ibnu Mihran berkata:
كَانَ كِبَارُ أَصْحَابِ عَبْدِ اللهِ – يَعْنِي ابْنَ مَسْعُودٍ – يُصَلُّونَ الْجُمُعَةَ مَعَ الْمُخْتَارِ وَيَحْتَسِبُونَ بِهَا
Dahulu para murid seniornya Abdullah Ibnu Mas’ud, mereka sholat di belakang Muhtar dan mereka meminta kepada Allāh pahala di dalam apa yang mereka lakukan ini.
Ini semuanya menunjukkannya kepada kita bahwa seorang muslim tetapi sholat di belakang penguasa yang fajir sekalipun. Dan apa yang dilakukannya adalah sah dan sempurna, tidak perlu dia mengulang jumatannya kemudian sholat 4 rakaat, misalnya.
لَيْسَ لَهُ مِنْ فَضْلِ الْجُمُعَةِ شَيْءٌ
Orang yang mengulang kembali maka dia adalah mubtadi.
Dia tidak memiliki keutamaan Jumat sedikit pun.
إِذَا لَمْ يَرَ اَلصَّلَاةَ خَلْفَ اَلْأَئِمَّةِ مَنْ كَانُوا بَرِّهِمْ وَفَاجِرِهِمْ
Dia tidak mendapatkan keutamaan jumatan sedikit pun apabila dia tidak berpendapat tentang bolehnya shalat di belakang Imam-Imam, baik mereka adalah orang yang shaleh maupun tidak (fajir)
فَالسُّنَّةُ: بِأَنْ يُصَلِّيَ مَعَهُمْ رَكْعَتَيْنِ،
Maka yang Sunnah yang sesuai dengan ajaran Nabi ﷺ adalah engkau shalat bersama mereka dua rakaat.
وَيَدِينَ بِأَنَّهَا تَامَّةٌ
Dan harus meyakini bahwasanya itu sempurna.
يَكُنْ فِي صَدْرِكَ مِنْ ذَلِكَ شَكٌّ.
Jangan sampai di dalam dadamu ada keraguan.
Itu yang diajarkan di dalam agama kita. Tidak masalah seorang sholat Jum’at mungkin khatibnya, dia bukan seorang salafi, dia adalah seorang yang Asy’ari misalnya, maka tidak masalah kita shalat di belakang mereka dan shalat Jum’at di belakang mereka. Shalat yang kita lakukan sah dan sempurna, jangan ada di dalam diri kita keraguan.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, semoga bermanfaat, dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Transkripnya gak lengkap
Transkripnya ada yg hilang: orang yg ilhad adalah Ibnu Abi Ubaid
Halaqah yang ke delapan puluh lima dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Ushulu Sunnah yang ditulis oleh Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullāh.
Al Imam Bukhari rahimahullah di dalam shahihnya membuat bab:
بَابُ إِمَامَةِ الْمَفْتُونِ وَالْمُبْتَدِعِ
Bab tentang keimaman orang yang terfitnah, yaitu terfitnah dengan pemikiran yang sesat dan orang yang ahlul bid’ah. Maksud beliau adalah menunjukkan tentang bolehnya.
Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah beliau menyebutkan yang artinya bahwasanya di dalam atsar ini, yaitu atsar Utsman Radhiyallaahu Ta’ala ‘anhu ini ada dorongan untuk menghadiri shalat berjamaah, khususnya di zaman fitnah supaya tidak bertambah perpecahan umat.
Dan di dalam atsar ini juga bahwasanya shalat diperbolehkan di belakang orang yang dimakruhkan shalat di belakangnya. Bahwasanya shalat di belakang orang yang dimakruhkan shalat dibelakangnya, yaitu dimakruhkan kita menjadi makmum, itu lebih baik daripada menggugurkan shalat berjamaah itu sendiri. Daripada shalat berjamaah tidak tegak, maka seseorang salat di belakang orang yang dimakruhkan kita shalat dibelakangnya itu lebih baik dan lebih utama.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, dahulu Abdullah ibnu Umar dan selain beliau diantara para sahabat Nabi ﷺ, mereka shalat di belakang Hajaj Ibnu Yusuf. Kita tahu bahwasanya Hajaj ini adalah orang yang fasiq.
وَكَانَ الصَّحَابَةُ وَالتَّابِعُونَ يُصَلُّونَ خَلْفَ ابْنِ أَبِي عُبَيْدٍ، وَكَانَ مُتَّهَمًا بِالْإِلْحَادِ وَدَاعِيًا إِلَى الضَّلَالِ
Dahulu para sahabat dan juga para tabi’in, mereka sholat di belakang Ibnu Abi Ubaid dan dia dituduh melakukan ilhad dan termasuk orang yang mengajak kepada kesesatan.
Ini adalah manhaj para salaf, ternyata mereka shalat di belakang orang yang sesat, orang yang menyimpang, selama penyimpangan mereka tidak sampai mengeluarkan mereka dari agama Islam.
Al-A’masy Sulaiman Ibnu Mihran berkata:
كَانَ كِبَارُ أَصْحَابِ عَبْدِ اللهِ – يَعْنِي ابْنَ مَسْعُودٍ – يُصَلُّونَ الْجُمُعَةَ مَعَ الْمُخْتَارِ وَيَحْتَسِبُونَ بِهَا
Dahulu para murid seniornya Abdullah Ibnu Mas’ud, mereka sholat di belakang Muhtar dan mereka meminta kepada Allāh pahala di dalam apa yang mereka lakukan ini.
Ini semuanya menunjukkannya kepada kita bahwa seorang muslim tetapi sholat di belakang penguasa yang fajir sekalipun. Dan apa yang dilakukannya adalah sah dan sempurna, tidak perlu dia mengulang jumatannya kemudian sholat 4 rakaat, misalnya.
لَيْسَ لَهُ مِنْ فَضْلِ الْجُمُعَةِ شَيْءٌ
Orang yang mengulang kembali maka dia adalah mubtadi.
Dia tidak memiliki keutamaan Jumat sedikit pun.
إِذَا لَمْ يَرَ اَلصَّلَاةَ خَلْفَ اَلْأَئِمَّةِ مَنْ كَانُوا بَرِّهِمْ وَفَاجِرِهِمْ
Dia tidak mendapatkan keutamaan jumatan sedikit pun apabila dia tidak berpendapat tentang bolehnya shalat di belakang Imam-Imam, baik mereka adalah orang yang shaleh maupun tidak (fajir)
فَالسُّنَّةُ: بِأَنْ يُصَلِّيَ مَعَهُمْ رَكْعَتَيْنِ،
Maka yang Sunnah yang sesuai dengan ajaran Nabi ﷺ adalah engkau shalat bersama mereka dua rakaat.
وَيَدِينَ بِأَنَّهَا تَامَّةٌ،
Dan harus meyakini bahwasanya itu sempurna.
يَكُنْ فِي صَدْرِكَ مِنْ ذَلِكَ شَكٌّ.
Jangan sampai di dalam dadamu ada keraguan.
Itu yang diajarkan di dalam agama kita. Tidak masalah seorang sholat Jum’at mungkin khatibnya, dia bukan seorang salafi, dia adalah seorang yang Asy’ari misalnya, maka tidak masalah kita shalat di belakang mereka dan shalat Jum’at di belakang mereka. Shalat yang kita lakukan sah dan sempurna, jangan ada di dalam diri kita keraguan.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, semoga bermanfaat, dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
وَعَلَيْكُمُ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Abdullah Roy
Di Kota Jember
Materi audio ini disampaikan di dalam grup WA Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy.