Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-108 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauhīd alladzhī huwa haqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muhammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī rahimahullāh.
Beliau rahimahullāh mendatangkan beberapa dalil yang menunjukkan bahwasanya berlebihan terhadap kuburan orang shalih ini menjadikan kuburan tadi sebagai sesembahan yang disembah selain Allāh ﷻ. Beliau mengatakan:
وَلِابْنِ جَرِيرٍ بِسَنَدِهِ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ مُجَاهِدٍ
Dan di dalam Ibnu Jarir (maksudnya di sini adalah di dalam tafsirnya, Tafsir Ibnu Jarir yang adalah termasuk tafsir yang menjadi rujukan, di atas ‘akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan tafsir dengan tafsir yang dibenarkan, beliau mendatangkan ucapan para salaf dalam menafsirkan ayat tadi), dengan sanad beliau dari Sufyan (dan Sufyan di sini adalah Ats-Tsauri) dari Manshur, dari Mujahid (Mujahid ini adalah murid dari Abdullah bin Abbas yang mulazamah dan melazimi Abdullah bin Abbas, beliau menceritakan bahwasanya beliau membacakan mushaf dari awal sampai akhir kepada Abdullah bin Abbas ini sampai tiga kali, dan setiap ayat beliau berhenti bertanya kepada Abdullah bin Abbas tentang maknanya. Mujahid Ibnu Jabr. Dan Manshur di sini adalah Manshur Ibnu Mu’tamir).
Thayyib, dengan sanadnya sampai kepada Mujahid. Di dalam firman Allāh ﷻ:
أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى
Dalam surat An-Najm. Mujahid, yang telah mengambil ilmu dari sahabat Nabi ﷺ Abdullah bin Abbas, beliau mengatakan:
كَانَ يَلُتُّ لَهُمُ السَّوِيقَ، فَمَاتَ، فَعَكَفُوا عَلَى قَبْرِهِ
Siapakah Al-Lata? Dan ada yang membaca Al-Latta dengan mentasydid ta, dan inilah yang dimaksud. Jadi ada yang membaca Al-Lata tanpa tasydid, dan ada yang membaca Al-Latta dengan mentasydid ta, maknanya berbeda. Kalau dibaca Al-Latta maka inilah yang dimaksud di sini. Mujahid mengatakan:
Al-Latta ini dinamakan Al-Latta karena dahulu beliau yaluttu lahumus sawiq. Beliau ini dinamakan Latta karena beliau dulu yalutt (yaitu mengadoni, mengadon) untuk mereka gandum. Mereka di sini adalah para jama’ah haji yang datang ke Makkah.
Dahulu Latta ini berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allāh ﷻ, beliau adalah orang yang shalih. Dengan cara apa? Memberikan makan kepada para jama’ah haji. Sehingga beliau mengadon dengan samin dan juga dengan yang lain, membuat makanan untuk para jama’ah haji yang mereka datang dari berbagai tempat berbagai daerah. Sehingga manusia punya kecintaan kepada Latta ini, mengagumi beliau karena keshalihan beliau dan mengeluarkan apa yang beliau miliki untuk memberi makan kepada para jama’ah haji.
كَانَ يَلُتُّ لَهُمُ السَّوِيقَ
Beliau dahulu mengadon adonan untuk para jama’ah haji.
فَمَاتَ، فَعَكَفُوا عَلَى قَبْرِهِ
Akhirnya beliau meninggal dunia.
Nah ketika meninggal dunia, ini manusia punya pengagungan dan penghormatan terhadap Al-Latta ini. Akhirnya apa?
فَعَكَفُوا عَلَى قَبْرِهِ
Akhirnya merekapun beri’tikaf di atas kuburan Latta ini.
Apa yang dimaksud dengan beri’tikaf? Beri’tikaf artinya adalah berdiam diri. Berdiam diri di sekitar kuburan Latta ini. Dan kuburan beliau ada di Thaif. Mereka pun beri’tikaf di sekitar kuburan Latta ini. Beri’tikaf artinya beribadah kepada Allāh ﷻ di sekitar kuburan orang yang shalih.
Sampai akhirnya apa? Setelah itu sebagaimana kita tahu, ternyata kuburan Latta ini diagungkan oleh orang-orang musyrikin Arab, menjadi termasuk sesembahan yang paling besar yang disembah oleh orang-orang musyrikin. Karena sesembahan mereka banyak, di sekitar Ka’bah saja ada 360 sesembahan. Tapi di sana ada sesembahan yang paling besar, yang disebutkan oleh Allāh ﷻ dalam ayat ini: Afara’aitumul lata wal ‘uzza wamanats tsalitsatal ukhra, ada Latta, ‘Uzza, Manat, maka ini adalah sesembahan yang paling besar.
Nah termasuk di antaranya adalah Latta ini. Bagaimana kok bisa disembah? Sebabnya adalah seperti yang diceritakan oleh Mujahid. Dulunya beliau adalah orang yang shalih, memberi makan orang-orang yang beribadah kepada Allāh ﷻ, ketika dia meninggal maka manusia beri’tikaf di atas kuburannya. Akhirnya bertahap sampai menjadi sesembahan yang disembah oleh orang-orang musyrikin, bahkan termasuk sesembahan yang paling besar, paling terkenal. Nah ini menunjukkan tentang bahayanya ghuluw terhadap kuburan orang-orang yang shalih.
Lihat bagaimana syaithan dengan sabarnya dia menggiring manusia, dari yang awalnya beribadah kepada Allāh ﷻ di sekitar kuburan orang yang shalih, sampai menjadikan mereka menyembah kepada kuburan tersebut.
وَكَذَا قَالَ أَبُو الْجَوْزَاءِ
Demikianlah yang diucapkan oleh Abul Jauza’.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ
Beliau menukil dari Ibnu Abbas.
Yaitu gurunya dari Mujahid. Kalau tadi ucapan Mujahid, kalau ini adalah ucapan gurunya Mujahid, yaitu Abdullah bin Abbas. Apa kata beliau?
كَانَ يَلُتُّ السَّوِيقَ لِلْحَاجِّ
Dahulu beliau ini (yaitu Latta) mengadon adonan untuk para jama’ah haji.
Berarti kata lahum tadi bisa kita pahami maksudnya adalah untuk para jama’ah haji. Ketika musim haji, ketika datang para jama’ah haji dari berbagai tempat, maka beliau memberi makan kepada mereka, dengan makanan yang sederhana saja yaitu as-sawiq, makanan yang sederhana tapi karena keikhlasannya, sehingga manusia bergantung dengan beliau dan memiliki pengagungan dan penghormatan terhadap beliau. Sampai akhirnya diagungkan dan disembah selain Allāh ﷻ.
Ini menunjukkan dan menguatkan tafsir dari Mujahid tadi. Dari Ibnu Abbas mengatakan demikian dan Mujahid juga mengatakan demikian karena memang Mujahid Ibnu Jabr mengambil ilmunya dari Abdullah bin Abbas yang telah dido’akan oleh Nabi ﷺ: Allāhumma faqqihhu fid dīn wa ‘allimhut ta’wīl (Ya Allāh, jadikan dia faqih terhadap agamamu dan ajarkan dia tentang tafsir). Abdullah bin Abbas dido’akan oleh Nabi ﷺ supaya pandai dan mahir dalam menafsirkan Al-Qur’an, dan ini adalah tafsiran beliau terhadap firman Allāh ﷻ afara’aitumul lata wal ‘uzza. Dia adalah seorang yang shalih yang dulu membuat adonan makanan untuk para jama’ah haji.
Thayyib, ucapan Ibnu Abbas ini diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
