Halaqah 154 | Perbuatan Hamba Adalah Makhluk Allāh ﷻ

Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-154 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.

Beliau mengatakan raḥimahullāh

وَأَفْعَالُ العِبَادِ خَلْقُ اللهِ

Dan perbuatan para hamba: bergeraknya dia, berjalannya dia, dan seluruh gerakan-gerakan yang dia lakukan, bicaranya dia, dan seterusnya, maka ini adalah khalqullāh, ini adalah penciptaan Allāh ﷻ, yaitu Allāh ﷻ yang menciptakan perbuatan tersebut.

Ini adalah Aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jamāʿah, berbeda dengan Aqidah Muʿtazilah, yang mereka mengatakan bahwasanya perbuatan hamba ini adalah makhluk dari hamba tersebut, yaitu hamba yang menciptakan perbuatan tersebut. Itu keyakinan Muʿtazilah, sehingga mereka dinamakan dengan Majūs hadzihil-ummah (orang Majusinya umat ini), karena mereka meyakini adanya dua pencipta: pencipta untuk mereka yaitu Allāh ﷻ, dan yang menciptakan amalan mereka yaitu diri mereka sendiri.

Dan ini adalah ucapan yang bāṭil, pendapat yang bāṭil. Dan yang shahih adalah yang diyakini oleh Ahlus-Sunnah wal-Jamāʿah, bahwasanya perbuatan-perbuatan makhluk adalah diciptakan juga oleh Allāh ﷻ. Dalilnya adalah firman Allāh ﷻ yang sifatnya umum:

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ

Allāh Dia-lah yang menciptakan segala sesuatu. (QS. Az-Zumar: 62)

Dan Allāh ﷻ mengatakan:

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

Dan Allāh yang menciptakan kalian dan apa yang kalian kerjakan. (QS. Ash-Shaffāt: 96)

Berarti kita makhluk Allāh ﷻ, dan perbuatan yang kita lakukan juga makhluk Allāh ﷻ.

Dan Nabi ﷺ mengatakan:

إِنَّ اللَّهَ خَالِق كُلّ صَانِعٍ وَصَنْعَته

Sesungguhnya Allāh ﷻ, Dia-lah yang menciptakan as-sāniʿ (setiap orang yang melakukan, yaitu yang berbuat) dan apa yang dia lakukan.

Jadi orangnya Allāh ﷻ yang menciptakan, dan perbuatannya juga Allāh ﷻ yang menciptakan. Sehingga perbuatan para hamba ini adalah penciptaan dari Allāh ﷻ.

وَكَسْبٌ مِنَ العِبَادِ

Dan perbuatan hamba itu adalah hasil usaha para hamba. Yang melakukan adalah hamba tersebut.

Karena orang-orang Jabariyyah yang mengatakan: perbuatan kita adalah Allāh ﷻ yang menciptakan, kemudian mereka berlebihan dan mengatakan: yang melakukan adalah Allāh. Jadi siapa yang menciptakan shalat kita? Allāh. Siapa yang melakukan shalat? Allāh, katanya. Jadi yang shalat Allāh? Kalau mereka melakukan kemaksiatan, yang melakukan kemaksiatan juga Allāh? Ini kesesatan. Ini berlebihan.

Yang benar adalah Aqidah Ahlus-Sunnah, bahwasanya yang menciptakan perbuatan kita adalah Allāh ﷻ, yang melakukan perbuatan kita, kita sendiri. Yang melakukan ketaatan hamba; yang melakukan kemaksiatan juga hamba.

Inilah makna dari ucapan beliau: wa kasbun minal-ʿibād, itu adalah perbuatan hamba. Jangan dikatakan bahwasanya yang melakukan perbuatan kita adalah Allāh ﷻ, kemudian dikatakan: yang shalat Allāh, yang bermaksiat Allāh. Mahasuci Allāh ﷻ dari apa yang dikatakan oleh orang-orang yang dzalim.

Allāh ﷻ mengatakan:

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا ٱكْتَسَبَتْ

Allāh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya. Baginya (pahala) dari apa yang dia usahakan dan atasnya (dosa) dari apa yang dia kerjakan. (QS. Al-Baqarah: 286)

Apa yang dilakukan oleh seorang hamba, maka itu dinisbahkan kepada hamba tersebut. Lahā mā kasabat — bagi dia apa yang dia usahakan. Dalam Al-Qur’ān, Allāh ﷻ menyebutkan tentang penisbatan kasb (usaha) ini kepada para hamba. Dalam beberapa ayat, Allāh ﷻ menyebutkan:

بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
dengan sebab apa yang mereka usahakan.

Seperti misalnya Allāh ﷻ mengatakan:

فَوَيْلٌ لَّهُم مِّمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَّهُم مِّمَّا يَكْسِبُونَ

Maka celakalah mereka karena apa yang ditulis oleh tangan mereka, dan celakalah mereka karena apa yang mereka usahakan. (QS. Al-Baqarah: 79)

Berarti yang melakukan kasb yaitu usaha melakukan amalan adalah hamba. Ini dinisbahkan kepada hamba: bimā kānū yaksibūn, dengan sebab apa yang mereka usahakan.

Allāh ﷻ mengatakan:

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكْسِبُونَ ٱلْإِثْمَ سَيُجْزَوْنَ بِمَا كَانُوا يَقْتَرِفُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang berbuat dosa akan diberi balasan karena apa yang mereka kerjakan. (QS. Al-Anʿām: 120)

Dan kasb di sini terkadang perbuatan yang baik, terkadang perbuatan yang buruk. Perbuatan yang buruk seperti orang-orang Yahudi yang mereka menulis dengan tangan mereka, kemudian mengatakan: “Ini adalah dari Allāh,” padahal Allāh tidak mengucapkannya. Kemudian juga firman Allāh:

وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ ٱلظَّٰلِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang dzalim menjadi pemimpin bagi yang lain disebabkan apa yang telah mereka usahakan. (QS. Al-Anʿām: 129)

Ini juga usaha dalam kejelekan, perbuatan yang jelek. Dan terkadang Allāh ﷻ menggunakan kata yaksibūn atau kasb ini di dalam perkara yang umum, yang baik maupun yang buruk, sebagaimana firman Allāh:

ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ

Kemudian akan disempurnakan setiap jiwa (balasan) atas apa yang dia usahakan. (QS. Al-Baqarah: 281)

Disempurnakan kebaikannya maupun kejelekannya. Akan disempurnakan oleh Allāh ﷻ, akan diperhitungkan oleh Allāh ﷻ:

وَاتَّقُوا۟ يَوْمًۭا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى ٱللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍۢ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

Dan bertakwalah kalian kepada suatu hari yang pada waktu itu kalian akan dikembalikan kepada Allāh. Kemudian setiap jiwa akan diberi balasan dengan sempurna atas apa yang telah diusahakannya dan mereka tidak dizalimi. (QS. Al-Baqarah: 281)

Dalam Āli ʿImrān:

وَمَن يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍۢ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

Barangsiapa berkhianat, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya. Kemudian tiap-tiap jiwa akan diberi balasan dengan sempurna terhadap apa yang diusahakannya dan mereka tidak dizalimi. (QS. Āli ʿImrān: 161)

Berarti kasb di sini, usaha di sini bisa dalam perkara yang baik maupun dalam perkara yang buruk. Maka ucapan beliau: wa kasbun minal-ʿibād, ini adalah ungkapan yang benar. Bahwasanya perbuatan tersebut adalah perbuatan hamba, dinisbahkan, di-idhāfah-kan, disandarkan kepada hamba.

Orang-orang Asyāʿirah di dalam masalah kasb ini memahami kasb tidak seperti yang kita sampaikan. Kita sampaikan bahwasanya kasbun minal-ʿibād, maksudnya adalah hamba yang melakukan perbuatan tadi secara ḥaqīqah. Kalau orang-orang Asyāʿirah, mereka mengatakan — mungkin ibaratnya sama, dia mengatakan kasbun minal-ʿibād, itu maknanya mereka beda dengan kita — kasbun minal-ʿibād, itu mereka katakan itu majāz, jadi disandarkan kepada makhluk majāz, bukan ḥaqīqah. Kalau Ahlus-Sunnah, disandarkan kepada makhluk secara ḥaqīqah, memang makhluk yang melakukan.

Tapi kalau orang-orang Asyāʿirah, mereka mengatakan kasbun minal-ʿibād, tapi itu adalah majāz. Kemudian mereka mengatakan, sesungguhnya yang sebenarnya bahwa hamba tadi tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya. Nah, di sini mereka ditertawakan oleh yang lain. Karena mereka menyebutkan sesuatu yang tidak mungkin. Ini adalah termasuk keanehan ucapan mereka.

Mereka mengatakan: ini adalah perbuatan hamba, tapi hamba tadi tidak mampu untuk melakukannya. Kalau itu adalah perbuatan hamba, ya berarti dia mampu untuk melakukannya. Kenapa mereka mengatakan ini perbuatan hamba tapi mereka tidak mampu untuk melakukannya? Ini pendapat yang bertentangan, ucapan yang bertentangan.

Sehingga para ulama menyebutkan: di antara pendapat yang tidak masuk akal adalah kasbu al-Asyʿarī, kasb-nya yang dipahami oleh Abū al-Ḥasan al-Asyʿarī. Dan maksudnya adalah ketika beliau masih di dalam aliran Kullābiyyah, sebelum beliau berpindah ke Ahlus-Sunnah wal-Jamāʿah.

Jadi kita harus memahami bahwasanya kasb yang dipahami oleh Asyʿarī itu berbeda dengan kasbun yang disebutkan oleh Syaikh. Kalau yang disebutkan oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi di sini adalah kasbun minal-ʿibād, secara ḥaqīqah memang disandarkan kepada hamba, bukan majāz.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

image_pdfimage_print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top